Aurora Marriage

Aurora Marriage
Kenangan Terindah


__ADS_3

Prabu melangkah menuju sofa, memberikan dokumen yang harus di review ulang oleh direktur Pemasaran.


"Perasaan kamu mungkin cincin tetap sama" Prabu lupa jika cincin kawin berbeda dengan yang dulu.


"ga mungkin Prabu gue tahu warna tu cincin dulu warna tembaga polos gitu kok sekarang menjadi memutih terdapat berlian di tengahnya" Analisis cincin pernikahan mulai bekerja.


"Ajaib mungkin tangan aku, dulu dan sekarang berbeda"


Bayu penasaran perempuan yang beruntung bisa di persuting putra mahkota Kalandra, Prabu yang menyandang status duda selama tiga tahun tidak pernah terlihat dekat dengan perempuan mana pun.


"Mas Prabu kemana dua hari ini, kantor kacau tidak ada Mas" Dian masuk tanpa permisi ke ruangan Prabu.


"gue cabut dulu ya, lu hadapi ini fans berat" Bayu keluar ruangan Prabu karena tidak nyaman melihat pakaian Dian.


Prabu sibuk dengan ponselnya tidak menghiraukan pertanyaan Dian. Prabu ingin sekali mengirim perempuan ini ke planet Venus.


Ting...Ting....


"Abang Gaza kita pergi makan yuk..."


Dian merasa diacuhkan beranjak ingin duduk dipangkuan Prabu namun naas dia terjerembab, Prabu langsung berdiri mengambil dompet dan kunci mobilnya.


"Rasain perempuan jadi-jadian" Prabu keluar ruangannya.


Aurora menunggunya di parkiran mobil, Prabu masuk ke mobilnya bersama sang istri.


"Abang mau makan dimana?"


Prabu hanya tersenyum kepada Aurora, ia ingin perempuan yang cintainya merasakan kenangan sepuluh tahun yang lalu.


tempat makan sederhana kawasan padat, Dulu Prabu sering mengajak Aurora makan siang bersama. Duduk di meja yang dulu mereka sering gunakan untuk makan siang.


"Gaza sayang Aurora" meja tersebut menjadi saksi ketika Prabu mengorek meja dengan pisau lipat dan membuat nama mereka.


"Mas dan Mbak udah lama tidak kesini saya kirain udah pindah" Pemilik kedai itu menghampiri Prabu dan Aurora.


"saya tidak pernah lupa dengan tempat ini, pesan seperti biasa ya pak"


Aurora merasa takjub dengan tempat makan ini belum berubah dari dulu masih sama interiornya pun tetap sama.


"Abang Gaza masih ingat tempat ini? aku udah lupa jalan menuju kesini"

__ADS_1


"Abang ga akan pernah lupa tentang kamu Rara" Prabu menggenggam tangan Aurora.


makanan yang dipesan Prabu telah terhidang di meja mereka, makan siang dengan menu sederhana namun berharga untuk Prabu dan Aurora.


mereka mendiskusikan tentang kerja sama Kalandra Tecno dengan perusahan teknologi dari Jepang, bahkan mereka berada di sana hingga jam tiga sore dan kembali ke kantor setelahnya.


mereka berpisah di parkiran Aurora masuk lift menuju ruangannya di susul Prabu kemudian, Aurora menenteng berbagai makanan untuk para IT yang bekerja di lantai Delapan. Prabu bersyukur dipertemukan kembali Dengan Aurora perempuan yang apa adanya.


ketika Aurora memberikan makanan untuk para IT yang masih bekerja terdengar sorak gembira di ruangan tersebut.


"Mbak Dit makasih makanannya, semoga di mudahkan segalanya terutama jodohnya Mbak Reditha" Dinda menghampiri Aurora yang sedang memeriksa server buatannya.


"Amin semoga suka ya dengan pemberian aku"


"Mbak Dit banyak pakai cincin di jarinya oh...... no..... Mbak Dit udah ada yang punya" Dinda berteriak keras melihat jari manis Aurora.


Dua cincin sekaligus tersemat dijari manis Aurora, cincin lamaran dan cincin pernikahan.


"oh.... kemaren orang tua aku ngasih hadiah"


"ga mungkin Mbak itu cincin hadiah....ini seperti cincin nikah" Reno penasaran langsung melihat berita yang disebarkan si Dinda.


"Iya Mbak bahkan Bapak Bayu langsung ke ruangan IT mencari keberadaan Mbak Ditha"


"oh aku kemaren pergi akikahan ponakan udah izin cuti kok" Aurora mencari alasan yang mudah di terima rakyat IT.


Aurora masih sibuk dengan sistem Programmer yang telah di luncurkan Kalandra Tecno ini merupakan tugas akhirnya berada di Kalandra Tecno.


Bagian IT selalu pulang paling lambat mereka akan pulang jam sepuluh malam itu sudah cepat bagi mereka.


"Abang di parkiran ....mobil kamu sudah di bawa pak Maman, pulang pake mobil Abang" Aurora menerima pesan dari Prabu jika pria itu masih berada di kantor menunggunya.


"Tim aku duluan nanti ada yang ngantar kopi untuk semuanya selamat menikmati" Aurora keluar ruangannya setelah menerima pesan dari Prabu.


Aurora langsung masuk mobil Prabu, Mobil Hammer masih terparkir seperti tadi siang, Prabu masih memakai jas dan dasinya terlihat lelah bekerja seharian.


"Abang butuh bantuan" Aurora melihat Prabu kesulitan melepaskan dasinya, jas yang tadi digunakannya sudah dilepaskannya.


"Rara tolong bukaan dasi Abang susah, lagi nyetir"


Aurora mencoba mendekat dan melepaskan dasi yang melilit leher Prabu, dasi terlepas di buka kancing baju Prabu agar lebih nyaman.

__ADS_1


Prabu memasuki hotel di kawasan Kuningan, Aurora tidak tahu maksud Prabu membawanya ke sini.


"kita butuh refreshing kamu pasti suka nantinya" Prabu membawa Aurora menuju roof top Hotel.


Dari Roof top Hotel terlihat lampu-lampu kota Jakarta berkelap-kelip, sungguh ini sangat indah. satu hari saja Prabu memberikan banyak kebahagian untuk Aurora.


"Gimana suka" Prabu memeluk Aurora yang berdiri melihat kota Jakarta malam hari.


"Suka ini menakjubkan untuk aku" Aurora membalikkan badannya dan memeluk Prabu.


"Abang akan membayar semua waktu yang telah hilang selama sepuluh tahun ini"


Mereka saling berpelukan, rambut Aurora berterbangan karena angin malam, Di selipkan ke telinga Aurora, dari jarak dekat Prabu bisa melihat pipi Aurora memerah.


Prabu dan Aurora menuju kamar presidential suite yang telah di reservasi secara online, Keduanya masuk ke kamar yang telah di pesan Prabu.


"Rara muka kamu pucat?" Prabu terkejut melihat wajah Aurora menjadi pucat.


"Abang bisa ambilkan obat dalam tas Aku" Deru nafas Aurora menjadi sesak.


Prabu mencari keberadaan tas milik Aurora di bongkar isi tas, botol berisi pil obat diambilnya lalu diberikan kepada Aurora.


"kamu sakit? jujur sekarang kamu punya penyakit apa?" Prabu memberikan air putih setelah Aurora tenang.


"itu cuma vitamin kalau aku merasa kecapekan"


Prabu tahu jika Aurora berbohong matanya mengatakan hal lain. Aurora tidak mempunyai penyakit atau apapun setahunya.


Aurora membuka blezernya dan mengikat rambutnya keringat membanjiri turun dari lehernya, Sungguh perempuan di hadapannya memancing Prabu.


"Rara Abang sayang Kamu"


Prabu langsung mencium bibir Aurora menyalurkan kasih sayangnya yang ditahan sejak bertemu dengan Aurora.


Aurora yang mendapatkan serangan mendadak dari Prabu menutup matanya berusaha untuk tidak memberontak.


"Tolong....jangan.....aku mohon...."


🌹🌹🌹🌹


To be continue

__ADS_1


__ADS_2