Aurora Marriage

Aurora Marriage
A Thousand Year


__ADS_3

Selesai akad nikah Prabu dan Aurora mengganti pakaian dengan adat Padang sesuai permintaan Rachmadi Nataprawira.


Aurora memakai pakaian adat Padang modern berwarna gold dilengkapi dengan sunting yang berada di atas kepalanya berwarna perak, Aurora menjadi ratu sehari.


begitu juga dengan Prabu juga memakai baju warna senada yaitu gold di tambah rambutnya dipotong rapi.


Ia berjalan beriringan bersama Aurora menuju pelaminan yang telah di siapkan Wo. Tidak satupun yang tahu jika hari ini Aurora dan Prabu melangsungkan akad nikah bahkan sahabat Prabu tidak mengetahui.


"Ra Abang akan selalu menjadikan kamu Queen Prabu Gaza Kalandra" genggaman tangan semakin kuat.


"terima kasih Abang....aku akan selalu menggiat kata-kata Abang"


Arumi dan Embun juga memakai baju adat Padang yang dimodifikasi sehingga terlihat anggun seusia mereka.


"kita minta untuk kepada pasangan pengantin baru untuk bergabung keatas panggung bersama kami" Nesha memanggil keduanya setelah menyelesaikan nyanyi terakhirnya.


Prabu mengambil posisi duduk di depan piano dan Aurora memegang Mic. Bunyi tuts piano mulai terdengar, Prabu mulai menekan tuts piano.


"Saya bersama istri saya akan menyanyikan lagu Wedding song untuk semua yang hadir pada hari ini...kami ingin mengajak semuanya bernostalgia dengan kenangan karena lagu ini kenangan saya bersama istri saya dua belas tahun lalu jika ada nada yang salah maklum saya telah lama tidak memainkan alat musik ini" Prabu memainkan intro lagu yang pernah ia bawakan dengan Aurora.


Heart beats fast


Colors and promises


How to be brave


How can i love when i’m afraid to fall


But watching you stand alone


All of my doubt, suddenly goes away


somehow


One step closer


I have died everyday, waiting for you


Darling, don't be afraid, i have loved you for a thousand years


Time stands still


Beauty in all she is


I will be brave


I will not let anything, take away

__ADS_1


What's standing in front of me


Every breath, every hour has come to this


One step closer


I have died everyday, waiting for you


Darling, don't be afraid, i have loved you for a thousand years


And all along i believed, i would find you


Time has brought your heart to me, i have loved you for a thousand years


One step closer


One step closer


I have died everyday, waiting for you


Darling, don't be afraid, i have loved you for a thousand years


And all along i believed, i would find you


Time has brought your heart to me, i have loved you for a thousand years


suara tepukan meriah semua yang menonton mini konser dari kedua pasangan tersebut. Semua orang disana haru melihat bagaimana keduanya berduet lagu milik Christina Perri A Thousand year.


turun dari panggung musik kedua duduk bersama keluarga keduanya. Raditya dan Sarah terharu melihat anak perempuan mereka begitu bahagia dengan laki-laki pilihannya.


"Buna nanti lumi tidul sama Buna sepelti di lumah Cait kemelen yaaa.....yaaaa" Arumi menghampiri Aurora yang berbicara dengan mama Sarah.


"Cucu Oma nanti tidur dengan Oma aja ya kita bisa lihat bintang dari kamar Oma dan Opa" Diana takutnya gagal malam dua belas tembak gol.


"lumi udah sering tidul sama Oma Opa sekalang gililan bunaaa yaaaa.....yaaaa" Arumi tetap kekeh ingin tidur bersama Aurora karena menurutnya pelukan Aurora yang sangat dirindukannya.


"Mama ga papa jika Arumi ingin ikut tidur bersama ku, pengenalan satu sama lain"


"Nanti Arumi cepat ya tidurnya soalnya papi dan Buna mau bertanding tengah malam" Raditya bahkan memberikan senyum penuh arti kepada Prabu.


"Ayah...Abang..."Suara Aurora dan Sarah memperingati Raditya jika ada anak kecil di antara mereka.


"Mama papa ayah mama Sarah aku pamit ke kamar dulu mau istirahat karena besok akan kembali ke Jakarta" Aurora pamit membawa Arumi di ikuti oleh Prabu di sampingnya.


"Ra kamu kelihatan kecapekan, Berat ya yang ada di kepala kamu biar Abang bantu lepaskan nanti"


"iya... kata Mua ini sekitar dua kiloan nanti aku minta tolong ke Mbak Santi untuk membuka yang ada di kepala aku"

__ADS_1


Saat di kamar Aurora, Mbak Santi sudah berada di sana membantu membuka sunting yang di pakai Aurora. Arumi dan Prabu berada di sofa memperhatikan Aurora.


"Gadis manis Buna ngantuk ya.... mandi dan ganti bajunya dulu" Aurora menghampiri Arumi bermain game di ponsel Prabu.


"Abang bisa bantu Arumi membersihkan badan aku mau menyiapkan pakaian dia dulu"


Prabu dan Arumi pergi ke kamar mandi membersihkan tubuh yang penuh keringat, Arumi keluar kamar mandi tanpa Prabu.


"Arumi papi kemana? sini buna pake baju kamu"


"papi mau mandi katanaaa papi gelahhh"


selesai Aurora memakaikan baju untuk Arumi mengendong hingga tertidur, di pindahkan Arumi ke tengah bagian kasur miliknya. Prabu keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk sebatas pinggang.


Aurora melihat pemandangan di depannya gemetar dan mengeluarkan keringat dia berusaha tenang di ambilnya baju dan handuk untuk mengganti di kamar mandi.


"Abang duluan aja tidur aku mandi lama" Aurora bergegas menuju kamar mandi dan mengkunci dari dalam.


"Rara jangan lama-lama ya Abang tunggu kamu"


Di dalam kamar mandi tubuh merosot ke lantai Aurora gemetaran hebat mendengar ucapan Prabu kenapa ketakutan itu datang lagi , Dulu ketika ia berusaha untuk memulai secara pelan-pelan tidak pernah merasakan ketakutan hebat ini. Dadanya sesak kenapa dia dihantui kejadian sepuluh tahun yang lalu. tangan dan dahi mengeluarkan keringat kenangan buruk tersebut seperti di depan mata bahkan ia menangis ketakutan. handuk yang dipegangnya dijadikan penutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara tangis yang kuat.


saran Psikolog agar dia bisa membangun hubungan sederhananya ialah selalu berdua dengan pelaku yang menjadi trauma maka trauma akan sembuh bila diri sendiri bisa menghadapinya.


Aurora berusaha menghapus air matanya dan keringat yang bercucuran di dahi dengan handuk. Dihidupkan shower agar air yang mengalir ke seluruh tubuhnya bisa menghilangkan sejenak ketakutannya.


Saat keluar kamar mandi Prabu sedang duduk di sofa memegang tablet seperti membaca sesuatu.


"Abang kenapa belum tidur" suara serak Aurora menyadarkan Prabu yang sedang asyik membaca sesuatu.


"Rara kamu ken...." kring...kring suara ponsel Prabu memotong ucapnya.


"Ada apa bay... Apa komputer di kantor kita mati total selama lima menit...kamu PERIKSA SEKARANG JUGA!"


teriakan Prabu menghentikan aktivitas Aurora yang menata bantal untuk tidur. Aurora menggeleng kepalanya dan menutup telinganya, nafas memburu ketika mendengar teriakan Prabu.


"jangan.....jangan sentuh aku....aku mohon...." tubuhnya kembali merasakan ketakutan hebat.


"Rara kamu kenapa maaf suara teriakan Abang membuat kamu takut" Prabu mencoba mendekati Aurora namun dia melihat Aurora ketakutan hebat dan air matanya keluar begitu deras, mulut ditutupi dengan sebelah tangannya.


Aurora memejamkan matanya mengatur nafas agar kembali normal.


"jangan mendekat saya akan membantu Kalandra Tecno sepertinya di serang hacker...saya permisi" Aurora berdiri menghapus air mata dengan kasar meninggalkan Prabu yang terpaku melihat kejadian beberapa menit yang lalu.


****TBC****


jangan lupa like dan vote untuk lebih semangatnya menulis kelanjutan cerita ini 😁😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2