
Sekarang umur si kembar memasuki satu tahun, Aurora tengah sibuk menjadi sosok ibu yang Siaga.
"Abang Gaza bisa bantu aku jaga baby Azzam dan Haidar....aku mau buat sarapan untuk Arumi dan Embun." Aurora menyerahkan satu persatu kedua baby gembul itu.
"Bawa kesini sayang....Abang sedikit lagi udah selesai mengerjakan ini." Prabu menyuruh Aurora membawa kedua baby itu ke balkon kamar mereka.
Enam bulan sudah Prabu memboyong anggota keluarga untuk tinggal di rumah baru miliknya bersama Aurora, Prabu mengikutsertakan kedua orang tuanya untuk tinggal bersama mereka.
"Pi....Pi...." baby Azzam mencoba menggapai wajah prabu.
"Si gembul yang ga mau diam ya.....Azzam baby Papi Gaza dan Buna Rara." Prabu menggendong bayi itu, baby Azzam tertawa mendengar ucapan ayahnya.
"Pa....pa...." Beda cara Haidar memanggil Prabu dengan Papa. Haidar lebih cepat bisa berbicara ketimbang kakaknya Azzam.
Prabu mengambil Haidar dari istrinya, ia sudah mahir mengendong kedua jagoannya. Aurora mengecup dahi kedua baby gembul itu dan pamit kepada Prabu.
"Pa....pa....Mam..." Haidar menunjuk roti yang masih terletak di meja kerja Prabu.
Prabu menoleh arah tunjuk Haidar, melihat roti isi yang buatkan Aurora untuk dirinya ketika ia harus menyelesaikan pekerjaannya.
"Az dan Ai belum boleh makan roti... kita mandi dulu baru turun ke bawah menemani Buna....kalian masih bau acem." Prabu mencium kedua jagoannya yang menggeliat karena serangan bertubi dari ayah mereka.
Dengan cekatan Prabu melepaskan baju keduanya dan membawa ke kamar mandi, Prabu sudah terlatih sejak kelahiran Arumi memandikan baby.
"tutup dulu belalainya nanti Papi kena serangan... kalian berdua berkerja sama untuk menyerang Papi." Prabu yang sudah berpakaian santai, mengambil baju kedua jagoannya.
Kedua baby gembul tertawa mendengar ocehan Prabu yang terus mengajak keduanya berbicara, Azzam cenderung lebih pendiam seperti ibunya sedangkan Haidar tidak mau diam, semua benda akan ia jadikan mainan.
Prabu membawa keduanya turun untuk menemui Aurora yang memasak sarapan, Embun dan Arumi sudah duduk di meja makan menunggu sarapan mereka.
"Papi... Azzam dan Haidar kenapa jadi seperti badut gini sih." Embun tak habis pikir kelakuan Prabu yang memberi bedak sangat tebal pada wajah baby gembul.
"Kamu jangan salah....ini bentuk dari aksi dan reaksi... Keduanya anteng aja kalau dengan Papi."
__ADS_1
"Tapi menurut aku Baby Azzam udah seperti Joker Papi...Baby Az yang pendiam menakutkan kalau di bedakan seperti ini." Embun menghampiri adiknya dan mengambil tissue basah mencoba membersihkan wajah adiknya.
"Papi...Arumi juga takut lihat baby Az dan Ai." Arumi mendekati Prabu yang tertawa mendengar protes kedua anak perempuannya.
"Kalian berdua temani baby gembul dulu....Papi mau lihat Buna." Prabu meninggalkan Embun dan Arumi bersama si kembar.
"morning sweet heart." Prabu melingkari tangannya di perut Aurora, memberikan kecupan mesra di tengkuk sang istri.
"Abang jangan buat cuppang dong....nanti Embun dan Arumi mengira aku di serang alien." Bukan menjawab pertanyaan Prabu, Aurora memprotes kelakuan Prabu yang setiap pagi menggambar indah.
"Tapi kamu suka kan? Abang lakuin juga sama istri Abang...Ini bentuk cinta Abang ke kamu."
"Iya tapi jangan sepanjang tengkuk dan leher aku...malu dilihatin anak kita....Kalau Abang beruntung masih bisa menyembunyikan tanda yang aku berikan."
"Disini ya Ra? Kamu kreatif juga ya." Prabu menunjuk area yang paling sering Aurora berikan tanda. Dada kiri kanan bagian perut hingga ke betis Prabu.
"Jangan mancing dong ah....kan masih pagi...Emang yang semalam belum cukup? perasaan dulu tiga kali dalam seminggu kalau sekarang tiap hari." Aurora mendengus dengan kelakuan suaminya.
"Kamu itu anugrah terindah dalam hidup aku Ra....Setelah si kembar lahir Abang makin cinta kamu...Ini yang selalu Abang syukuri memiliki kamu....dan jangan pernah mencoba menurun berat badan lagi....ini udah perfect bagi Abang." Tangan Prabu menyapa Alpukat mentega milik Aurora.
"Abang Gaza tahu ga pisang Meksiko seperti apa?" Prabu menggeleng cepat mendengar ucapan istrinya.
"Hanya aku yang bisa merasakan kelezatan pisang Meksiko itu." Dengan gerakan cepat Aurora membalas perbuatan Prabu, tangannya mengengam dan memberikan gerakan menggoda pada pisang Meksiko milik Prabu.
Aurora melepaskan diri dari pelukan Prabu, meninggalkan Prabu yang terlihat menahan sesuatu yang ingin keluar.
"Buna Papi kenapa? aku dengar Papi teriak." Arumi menghampiri Aurora yang tertawa setelah menyiksa Prabu.
"Oh itu tadi Papi kena minyak panas....yuk kita sarapan...kalian mau pergi dengan Pepo dan Eyang Uty kan?" Aurora menyiapkan sarapan untuk kedua putrinya.
"Ra....Ini yang namanya hukum fisika aksi dan reaksi....Awas kamu nanti ya." Prabu datang dari dapur dengan wajah cemberutnya.
"Masih sakit Papi?" Arumi melihat Papinya dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Iya sampai ke ubun-ubun sayang....Mbak Embun dan Arumi jadikan pergi dengan Pepo dan Eyang Uty."
"Jadi dong....aku dan Mbak Embun mau pergi dengan Sabrina ke kebun binatang yang ada di Bogor."
Arumi dan Embun di ajak Anton dan Nyala untuk menginap di rumah mereka di Bogor karena Keduanya ingin melihat adik Sabrina yang baru lahir.
Prabu dan Aurora tersenyum, kedua anak perempuan mereka tidak kekurangan kasih sayang. Prabu sangat beruntung bisa menjadi suami dari perempuan yang sejak dulu sudah bertahta di hatinya.
"Baby Az dan Ai lahap sekali makannya....Kalian baby sehat dan kuat." Prabu takjub dengan kedua baby gembul yang senang makan dengan Aurora.
Kehangatan ini yang selalu dirindukan Prabu sejak dulu, tuhan memang maha baik kepadanya memberikan Aurora dan anak-anak cantik dan ganteng.
"Aurora Kalandra thank you." Prabu mengecup kening Aurora dengan penuh cinta, dirinya tidak pernah malu menunjukan kasih sayang kepada semua orang.
"Aku senang Papi yang sekarang....Bahagia selalu ya....Buna jangan pernah tinggalkan Papi Aku...We are big family now." Embun memeluk kedua orang tuanya.
Arumi menyusul kakaknya memeluk Aurora dan Prabu. "Mbak Embun dan Arumi ga perlu khawatir....Papi kalian akan selalu menjadi raja yang akan bertahta di hati Buna." Aurora mencoba menghapus air mata karena rasa haru memiliki keluarga lengkap.
"Apa kami menganggu acara pelukan Teletubbies ini." Nyala masuk bersama Anton ke ruang makan keluarga ini.
"Uty......Aku kangen tahu....lama sekali di sana...Nena juga belum bisa bawa aku ke Belanda." Embun memisahkan diri lebih dahulu.
"Uty udah disini....Sabrina juga udah kangen dengan Mbak Embun dan Arumi." Nyala mengusap sayang kepala cucunya.
"Ayah...ibu apa kabar? Maaf Prabu ga bisa jemput ke bandara." Prabu mendekati dan bersalaman dengan kedua mertuanya.
"Alhamdulillah kabar kami baik....wah udah besar baby Azzam dan Haidar....ini oleh-oleh untuk cucunya Uty." Nyala memberikan paper bag besar untuk baby gembul.
"Terima Kasih Uty Pepo...Ayah Ibu ayo ikut kami sarapan." Aurora mengambil paper bag yang dibawakan Nyala.
Tak lama Danu dan Diana juga ikut bergabung sarapan bersama setelah bermain tenis di lapangan yang buatkan Prabu untuk kedua orang tuanya yang hobi bermain tenis sejak muda.
"Rara...let's star game with me." Prabu merangkul mesra Aurora, hari ini mereka berencana berkencan berdua tanpa anak. Baby gembul dibawa Danu dan Diana ke Kalandra Tecno.
__ADS_1