
Prabu PoV
Aku menunggu Aurora yang sedang berbicara dengan asistennya yang datang memberikan beberapa paper bag berisi pakaian ganti milik Aurora.
Aku membawa Aurora masuk ke kamar presidential suite menunggu kedatangan Lisa, Aurora sibuk membalas pesan Lisa yang masuk ke ponselku, Aku hanya diam melihat ia yang emosi membaca pesan dari Lisa.
"Abang Gaza....bisakan? Aku dulu pernah belajar tarian ini bersama Atena." Aurora membuka sebuah video tarian dari Republik Dominika yang bernama bachata.
Aurora mengganti dress Maxi dengan dress mini berwarna maroon. Aku tidak menyadari ia telah berganti pakaian karena fokus menghafal gerakan dalam tarian ini. "Abang Gaza gimana? ini udah sesuaikan dengan ucapan mereka." Aku langsung menoleh melihat tampilan Aurora.
Aku menelan ludah kasar penampilan Aurora seperti penari stript** dengan dada membusung, kaki jenjang yang tidak tertutup sempurna dilengkapi dengan high heels untuk penari. Lekukan tubuh yang nyaris sempurna menambah kesan panas dengan memadupadankan gaya rambut pakaian dan sepatu.
"Kamu tidak pernah mengecewakan Abang untuk penampilan....pakai dress mini... daster rumahan ...baju formal bahkan jika tidak memakai apapun tetap cantik dimata Abang." Aku langsung menarik pinggang agar merapat ke tubuhku.
Aurora tertawa mendengar ucapanku. "ini bonus Abang Gaza yang menunggu aku selama ini." Aurora mengusap pipiku ia sangat menyukai jambang tipis milikku.
Aurora memberi kode agar memulai gerakan setelah memilih lagu sesuai tema tarian ini yaitu gerakan sensual dan energik. Aku terpesona melihat dia dengan lentur mengerakkan semua anggota tubuhnya.
Aku sudah menahan emosi sejak kedatangan ibu mertua dan Lisa yang menghina Aurora mengatakan sebagai jalang dan matre ditambah dengan ucapan Diani mengatakan jika aku menyewa perempuan untuk memuaskan hasratku. Aku langsung mencengkeram pipinya yang sudah kurang ajar merendahkan harga diri Aurora.
__ADS_1
Kami bermandikan keringat melanjutkan gerakan tarian ini setelah mendengar umpatan Lisa yang murka karena jebakan aku. Aurora memancing untuk melakukan yang lebih untuk dirinya. "Abang aku mau permainan kasar... sekarang." Aku tidak percaya yang keluar dari mulut istriku. Dia meminta se** keras yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya dengan siapapun.
"Abang Gaza.... lepaskan semua emosi lewat pertarungan ini....Aku ingin mencoba sensasi bercinta lewat emosi....jangan khawatir trauma aku udah hilang....sekarang Reditha Aurora istrinya Prabu Gaza Kalandra....Jika Abang ragu melakukan permintaan aku." Aurora meyakinkan aku untuk melakukan permintaan dia. Aku takut jika ia akan teringat dengan tragedi sepuluh tahun lalu.
"hmmmmptttt." Aku mencium bibir Aurora dengan kasar kode memulai aksi yang tak pernah terpikirkan oleh ku selama ini bermain kasar dengan istriku.
Aku membuka mata melihat jika purnama sudah menampakan dirinya di langit gelap. Aku merasakan jika wanitaku memeluk tubuhku dengan erat setelah pertarungan tadi. Ia tidak segan meminta untuk bermain secara kasar. Ini pertama kali seorang perempuan dalam hidupku yang berstatus istri memintaku bermain dengan kasar. Bola mata Aurora menyakinkan jika permintaan itu emang kehendak dia tidak ada paksaan atau terpaksa. Aku takut jika melakukan tindakan kekerasan dalam berhubungan intim akan menyebab trauma baginya. Aku tidak pernah lupa penyebab trauma yang dialaminya sepuluh tahun lalu.
Aku menyukai pertarungan kali ini Aurora dengan berani menarik rambutku dengan kasar memberikan banyak lovebite setiap permukaan kulitku. Aku kesusahan menyeimbangi tenaga Aurora yang luar biasa. "We are star to heaven dear." Aku membisikkan kata-kata cinta ditengah permainan.
Aku bahagia malam ini Aurora mengajakku untuk keluar jalur. Ia tidak segan menggoreskan kukunya dipundak ku memberikan kesan panas dan membara dalam emosi.
Aurora membuka mata melihat kiri kanan. "Sayang masih sakit?" Aku bertanya melihat ia meringis menahan sakit pada pusat tubuhnya. "Enggak.....tenaga Abang luar biasa....Seharusnya aku yang bertanya punggung Abang masih perih?" Aurora merasa khawatir dengan luka di punggungku ku. Aku menggeleng kepala tanda aku baik-baik saja.
"Kamu hari ini memberikan Abang pencerahan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.... Abang yakin pasti kamu belajar dari hasil meretas selama ini.....I love you my first love." Aku mengecup bibirnya yang bengkak akibat ulahku.
"Gimana suka? Aku mau Abang kenyang dengan makanan dirumah ga akan tergoda melihat makanan yang tersaji di luar sana." Aku tahu maksud ungkapan kiasan yang diucapkan Aurora. Bagaimana aku akan berpaling jika yang disuguhkan istriku setiap hari berbeda-beda.
"Your are Mine Prabu Gaza" Aku menelusup kepalaku ke leher Aurora, aroma lavender dari tubuh istriku menusuk Indra penciumanku.
__ADS_1
"Abang Gaza aku lapar....sejak makan siang tadi kita belum makan." Aurora bangun dari tidurnya menutup semua tubuhnya. Aku melihat banyak kissmark yang terlukis di lehernya. "Rara kamu sekarang lebih berisi ya?" Aku baru sadar jika pipi istri lebih berisi saat ini.
"Iya....aku kalau banyak pekerjaan pasti ngemil terus....Tapi tetap terkontrol dengan berolahraga." Aurora menepuk pipinya. "Apapun bentuk kondisi tubuh kamu... itu semua karena gara-gara aku." Aku beranjak berdiri mengambil ponsel yang dibuang Aurora ke kolong meja.
"Maksudnya?" Aurora memperbaiki selimutnya, ia tidak mengerti dengan ucapanku. Aku hanya mengangkat bahu sebagai tanda tidak tahu.
Aku penasaran apakah Aurora sedang isi atau tidak. Aku mengetahui siklus mentruasi yang datang setiap bulannya. Aku ragu bertanya kepada Aurora apakah ia sedang hamil. Aku yakin pasti ia juga merasakan sesuatu yang aneh dengan tubuh saat ini setelah aku mengucapkan kata tadi.
"Abang udah pesan makanan kesukaan kamu lewat online...Abang mandi dulu...Abang akan jemput makanan itu di lobby hotel." Aku harus bergerak cepat untuk mengetahui Aurora hamil atau tidaknya, aku pria berpenggalaman soal yang satu ini jangan ragukan.
Selesai berpakaian aku pamit kepada Aurora yang asyik bermain game di ponselku. "Abang pergi dulu." Aku mengecup dahinya dan bergegas keluar kamar mengambil pesanan ku.
Selama perjalanan aku berpikir sudah tiga bulan menjadi suami seutuhnya untuk Aurora, jika benar dengan dugaanku maka ini anugerah terindah yang diberikan Allah kepada keluargaku. Besok pagi aku akan memastikan jika dugaan aku benar atau tidaknya.
"Rara ayo makan dulu...Mau Abang bantu?" Aku masuk kembali ke kamar menenteng berbagai macam makanan kesukaan istriku, Aurora sedang mengeringkan rambutnya yang basah. "Boleh...aku kesulitan.... rambut aku terlalu panjang." Aurora memberikan Hairdryer mengganti dia yang kesulitan.
"Abang jika aku hamil bagaimana?" Aurora menatapku memalui pantulan meja rias dihadapannya.
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
jangan lupa vote like dan komentarnya.....apakah persepsi keduanya akan terjawab chapter selanjutnya.....Aku akan membutuh amunisi penyemangat dari para pembaca setia Aurora Marriage dengan memberikan jejak...vote like dan komentarnya...love.....love...