Aurora Marriage

Aurora Marriage
Optimis...Yuk Bisa.


__ADS_3

Enam bulan perjalanan rumah tangga Sifa dan David, Tidak hanya momen manis saja, ada juga kesedihan yang mereka arungi.


"Love...Apa aku bisa ya memberikan kamu anak? Aku yakin jika aku impoten." David mengubah posisi tidurnya, Sifa membuka mata setelah pasca percintaan panas malam ini.


"Mas Yusuf...kamu percaya kan jika Allah akan memberikan kita rezeki di waktu yang tepat, jika sekarang aku belum hamil berarti kamu masih banyak waktu luang bersama Arsya."


Sifa dan David memeriksa kondisi kesehatan mereka secara keseluruhan, nyatanya David tidak mengidap infertilitas, pria itu sehat.


Sifa secara langsung memeriksa kondisi kesehatan David, bahkan dokter kandungan menyarankan keduanya untuk mengesumi makanan untuk kesuburan, seperti bayam dan toge dan menjalani hidup sehat.


"Tahun ini umur aku sudah tiga puluh lima... teman-teman aku sudah memiliki banyak anak...Aku kasian dengan kamu Love."


Sifa bangun dari tidurnya tidak memperdulikan ucapan David, perutnya ingin mengeluarkan sesuatu yang terasa sesak sejak tadi.


"Mas Yusuf...Tolong ambilkan testpack di laci meja rias aku." Sifa baru sadar jika dia sudah terlambat datang bulan.


Sejak kepulangan dari Afrika Selatan, Sifa belum kedatangan tamu bulanan, sebagai dokter dia yakin apa yang terjadi dengan tubuhnya.


"Sifa...jangan paksakan, ini udah belasan kalinya kamu mencoba." David tau istrinya optimis bisa hamil dari benih yang ditanam David setiap hari.

__ADS_1


Sifa mengambil sendiri alat penguji kehamilan itu, David terlalu lama berpikir, dihadapan David Sifa menampung urine miliknya lalu mencelupkan alat itu.


Lima menit kemudian Sifa melihat hasil uji alat test itu, dua garis tertera di sana.


"Mas Yusuf...lihat... Allah menjawab doa kamu Mas...aku yakin kamu tidak infertilitas...Organ dan fisik kamu tidak menunjukkan pria impoten." Sifa memberikan testpack kepada David.


"Alhamdulillah ya Allah...kamu hamil Love...Hikmah aku pacaran halal.... di beri keturunan setelah menikah." David sujud syukur atas nikmat rezeki yang diberikan tuhan kepadanya.


David memeluk tubuh Sifa, tidak ada kebahagiaannya selain melihat keberhasilan menghamili Sifa, pria itu terus menciumi wajah Sifa.


"Mas Yusuf...kita akan bertambah anggota keluarga baru...Kita diamanahkan anak." Sifa menitikkan air mata haru, dia pesimis ketika melihat hasil pertama kali uji kehamilan tiga bulan lalu.


Dokter mempersilahkan Sifa untuk berbaring di atas kasur pemeriksaan, perawat membantu memberikan gel pada perut Sifa. Dokter Riska yang juga sahabat Sifa bersiap untuk memeriksa Sifa dengan alat USG 4D.


"Kapan terakhir datang bulan Sifa?" Dokter Riska menggerakkan tuas alat USG di atas perut Sifa.


"Seminggu sebelum keberangkatan ke Afrika....apa umur bayi aku sudah lebih dua bulan?" Tebak Sifa.


"Bisa kemungkinan besar iya...Sel telur kamu dibuahi pada masa subur... Tokcer juga si Bule ya Sifa."

__ADS_1


David tidak menyimak percakapan kedua perempuan itu, matanya lebih fokus ke layar monitor.


"Jakpot....Sifa....Lu hamil anak kembar...Lihat ini dua titik menandakan bayi." Dokter Riska menunjukkan ke arah layar.


"Kemmmmbaar." Ucap David dan Sifa.


Dokter Riska tertawa melihat ekspresi terkejut David dan Sifa, mereka belum percaya dengan apa yang diucapkannya.


"Lu kenapa jadi Oon sekarang...Gue percaya kalian berdua pasti berusaha tiap malam...sama seperti laki gua si Gabriel." Dokter Riska menyudahi pemeriksaan kandungan Sifa.


"Apa ada patangan selama Kehamilan dokter....maklum saya pertama kali menemani perempuan hamil." David dan Sifa duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerja Dokter Riska.


"Sifa bisa menjelaskan nanti kepada bapak Yusuf, tapi saya saran untuk mengeluarkan di luar pada trimester pertama ini." Dokter Riska menulis resep obat untuk menguatkan janin di perut Sifa.


Keluar dari ruang praktek Dokter Riska, senyuman David tak pernah luntur, dia bahagia dipertemukan dengan sosok Sifa yang optimis dalam kehidupannya.


"Jadi ayah lagi...aku berharap Allah memberikan umur panjang agar bisa menemani kamu Love." David mengecup bibir Sifa yang tertidur di ruang kerja miliknya.


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2