Aurora Marriage

Aurora Marriage
Brother is number one


__ADS_3

Air mata Aurora mengalir tanpa permisi mendengar segala hinaan yang dilontarkan orang-orang yang mengaku suci tanpa dosa.


"Menangislah.....jika itu terbaik." Seseorang menarik Aurora ke dalam pelukannya. "Kamu harus kuat....jangan lemah seperti ini." Aurora mengangguk dalam pelukan laki-laki itu.


"Komandan siapa wanita cantik ini?" Seseorang menghampiri Aurora dan laki-laki itu. Dari kejauhan segerombolan Prajurit TNI juga ikut memandang ke arah suara yang menyebut kata komandan.


"Adik saya" Angkasa melepaskan pelukannya, Aurora kembali tersenyum mendapatkan suntikan semangat dari saudaranya.


"Ini Reditha ya...Adik Komandan Angkasa....Kapten Satrio Utomo sini.....First love never die come back" Pria yang bernama Luki itu langsung memanggil teman Angkasa bernama Satrio.


Semua orang menatap pria yang bersorak kegirangan itu. Satrio menoleh mendengar suara Luki yang memanggil namanya, Ia langsung berjalan ke arah Angkasa dan Luki.


"Ada apa Serda Luki? Kenapa memanggil nama saya begitu panjang." Satrio belum menyadari jika Angkasa bersama Aurora. "Kapten Satrio belum lupa dengan first love never die.... Reditha Aurora adiknya Kapten Rabian Angkasa teman kita." Luki menggoda Satrio yang menatap datar temannya ini.


Satrio langsung menatap kakak beradik itu. "Apa kabar Ditha...Kamu udah beda...saya sampai tidak mengenali penampilan kamu sekarang." Satrio menoleh ke arah Aurora sambil mengacak rambut Aurora, kebiasaan dari dulu jika bertemu adik Angkasa.


"Alhamdulillah baik...Bang sat gimana?" Aurora menjabat tangan Satrio. "Kapten Satrio masih menunggu kamu Ditha....Kamu ga lupakan kami sering main ke rumah Komandan Angkasa." Luki langsung memotong pembicaraan keduanya.


Satrio Utomo teman satu angkatan dengan Angkasa saat sekolah Akmil dulu namun umur lebih tua dua tahun dari Angkasa tapi jabatan lebih tinggi Angkasa.


"Kakak ngapain disini? Aku ga tahu jika trio kwek-kwek disini juga." Aurora menatap ketiganya yang masih memakai baju dinas lengkap dengan sepatu pdl.


"Kakak dan yang lainnya habis menghadiri nikahan ketua letingan kami waktu di Akmil....Kamu kenapa nangis?" Angkasa dan ketiga menatap mata Aurora yang memancarkan kesedihan.


"Mata aku masuk debu....Kakak tahu aku sering iritasi jika terkena debu." Tidak mungkin Aurora menceritakan dia dibully di depan umum.


"Bian ayo katanya mau pergi ngopi." Satrio Utomo menyela drama kedua saudara itu. "Ade kamu kesini sendiri? kakak mau pulang dengan teman kakak." Angkasa ragu untuk meninggalkan Aurora yang sedang berada di lobby hotel seperti kebingungan.


"Aku tadi ada acara....Aku ikut kakak ya." Aurora tidak ingin bertemu siapapun saat ini. Ia dipermalukan di depan umum tidak satu yang membantunya.

__ADS_1


"Asyik Kapten Satrio ketemu Ditha lagi....Jangan buat layu bunga dihati kapten Satrio... Reditha." Luki menggoda Satrio yang kaku seperti patung selamat datang.


"Luk...Luk udah ya mood Ditha lagi down....Saya takut Bian melempar kamu ke sungai Amazon." Satrio memperingati temannya yang menggodanya dari tadi.


"Kita ga akan lupa.....Adik Bian incaran kapten Satrio sejak dulu....Lihat Ditha di ponsel Bian saja udah ga bisa tidur tujuh hari tujuh malam....apalagi melihat yang nyata." Teman Satrio yang lain ikut menggoda kapten yang terkenal memiliki wajah datar dan irit bicara.


"Bang Satrio ayo...keburu malam....Kita juga harus kembali ke Kodim." Angkasa tahu jika obralan ini tidak nyaman untuk adiknya.


"Ayo komandan.....kita merayakan kembalinya cinta pertama Kapten Satrio Utomo." Luki terus memberi minyak agar api terus menyala.


Aurora senang bertemu teman Angkasa yang ia anggap saudara dekat. Ia tidak akan kembali ke ruangan penindasan itu biarkan mereka mencarinya ia tidak akan peduli. Aurora bernafas lega bertemu Angkasa di hotel yang sama.


"Kakak ada baju ganti ga? aku ga nyaman dengan baju ini." Aurora duduk disamping Angkasa yang sedang menyetir. Satrio menggunakan mobil lainnya bersama Luki.


"kamu lihat di belakang....kakak bawa celana training baju kaus dan sandal jepit untuk jaga-jaga." Aurora langsung melihat bangku belakang ada beberapa pakaian ganti milik Angkasa.


Angkasa menunggu Aurora mengganti pakaian sambil mengisi bahan bakar mobilnya. Aurora keluar dari kamar kecil dengan tampilan sederhana.


"Ayo kita berangkat..Kamu udah izin kepada Mas Prabu belum?" Angkasa merasa sungkan jika membawa adiknya tanpa sepengetahuan Prabu.


Aurora hanya mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Angkasa. Ia malas untuk membicarakan Prabu atau siapapun saat ini. Aurora mematikan ponselnya agar tidak menganggu waktunya bersama Angkasa.


Para Prajurit TNI itu masuk ke sebuah kedai kopi langganan mereka sejak dulu. Mereka sudah sering mampir jika weekend untuk menghabiskan waktu menikmati kopi Jony langganan mereka.


Kedai ini dilengkapi berbagai fasilitas lengkap ada mini konser untuk hiburan dan permainan tempo dulu. Luki jika melihat mic keluar aura bintangnya.


Aurora duduk bersama Angkasa dan Satrio ketiga asyik memperhatikan Luki menampilkan bakat terpendamnya.


"Pergilah kasih kejarlah impianmu" Suara emas Luki mengguncang panggung musik mini kedai ini. "Ditha kami mau dengar suara indah mu" teriak Luki dari atas panggung musik.

__ADS_1


"Pergilah kasih kejarlah selingkuhanmu.....Selagi masih ada waktu.....jangan hiraukan diriku....aku rela berpisah demi dirimu." Aurora meluap kekesalan lewat lagu. Semua orang bersorak sorai mendengar lirik yang keluar jalur.


Angkasa dan Satrio langsung menoleh mendengar ungkapan lagu dari mulut Aurora. Berbeda dengan lirik aslinya. Luki sampai mengikuti kata-kata yang diucapkan Aurora.


"Masih sama sejak dulu....saya terharu mendengar kembali suara kamu Didit." Satrio mengomentari tantangan yang diberikan Luki untuk Aurora.


"Terima kasih Bang Sat untuk pujiannya." Aurora tersenyum untuk menghargai pujian Satrio Utomo.


Mereka hanya setengah jam berada di kedai kopi Jony karena harus kembali ke kodim. "Ditha nanti datang ke asrama kodim ya....kami udah lama ga bela diri bersama kamu." Luki basa basi kepada Aurora sebagai menghargai pertemanan dengan Angkasa.


"Pasti Bang Luk..Luk jika dapat izin." Satrio mengerutkan kening mendengar ucapan Aurora kepada Luki. Ia pasti diizinkan Angkasa dan Raditya setahunya kenapa sekarang meminta izin dulu agar bisa pergi.


"Bang Sat....aku antar Rara sekalian mau sholat isha dulu." Angkasa pamit kepada teman-temannya. Ia akan mengantarkan Aurora terlebih dahulu.


"Hati-hati Bian....Calon masa depan Bang Satrio dijaga hingga selamat sampai tujuan." Luki kembali menyela pembicaraan antara Satrio dan Angkasa.


Luki dan Satrio biasa memanggil nama depan Angkasa. keduanya melepaskan jabatan jika berada di lingkungan luar. Berbicara seperti teman akrab tanpa terhalang jabatan dan pangkat.


"Ade kamu ada masalah dengan Mas Prabu?...Kakak tahu kamu sedang memikirkan sesuatu." Angkasa memecahkan keheningan di dalam mobil malam ini. Ia tidak tahan untuk bertanya kepada Aurora sejak tadi tapi temannya menghampiri ketika ia melihat Aurora menangis.


"Tidak ada....Aku dan Abang Gaza baik-baik saja....Kakak ga usah khawatir." Aurora tidak ingin keluarganya tahu masalah yang dihadapinya sekarang.


Aurora pamit kembali ke unit Prabu, ia membawa baju tadi dalam tas milik Angkasa. Memakai jaket milik kakaknya agar tidak kedinginan. Aurora berjalan menuju apartemen Prabu. Jam menunjukan pukul sebelas malam, jarak kedai kopi Jony dengan apartemen Prabu sangat jauh.


"Gimana reuni dengan Mantan? Kamu masih menganggap saya suamimu atau bukan?...pergi tanpa pamit.....cih.... first love never die" Prabu menatap tajam sambil menghembuskan asap rokok yang mengepul di mulutnya ketika Aurora masuk ke apartemennya.


🦁🦁🦁🦁🐻🐻🐻🐻


Aduh Prabu cemburu dengan Bang Sat....Kalah saing dengan umur.... hehehehe jangan lupa komentarnya dan vote agar aku tetap semangat melanjutkan cerita ini.....Nanti malam aku akan Up jika Komentar dan Like banyak 😁😁👍👍👍🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2