
Aurora dan Prabu pergi ke rumah sakit tempat praktek dr Lusiana Margaretha SpKJ dimana Aurora berkonsultasi dengan psikiaternya.
"Rara kamu tidak salah rumah sakit kan?" Prabu tidak asing dengan tempat ini, sepuluh tahun yang lalu dia juga berada di sini.
"Kenapa emang? Abang pernah kesini?"
"Pernah.... sepuluh tahun yang lalu
Abang konsultasi kesini untuk berhenti mengonsumsi barang haram itu"
"ibu Reditha Aurora silahkan masuk" suara perawat memutus obrolan mereka.
"hai Reditha apa kabar hari ini?" dokter Lusia melihat Aurora tidak sendiri masuk ruangannya.
"Dit....ini Prabu Gaza ya.... kamu ada hubungan apa dengan Prabu" dokter Lusia masih mengigat pasien sepuluh tahun yang lalu.
" dokter ini suami saya Prabu Gaza Kalandra"
Aurora melihat raut wajah terkejut dokter Lusiana berhadapan dengan Prabu.
"selamat siang dokter....masih ingat saya pasien dokter?"
"Masih.... saya tidak menyangka kamu suami Reditha pasien saya"
"ini orangnya Ditha? orang yang sulit untuk kamu lupakan" dokter Lusia menggoda pasangan ini, Aurora hanya mengangguk mendengar godaan psikiaternya.
"baiklah karena orangnya disini....ini konsultasi kamu yang kesepuluh kita lihat bagaimana kemajuan pengobatan trauma kamu ya"
"Ditha mempunyai trauma dokter?" Prabu menyadari ucapannya benar selama ini jika Aurora memiliki trauma.
"Baiklah saya akan menjelaskan trauma yang di alami Reditha, saya yakin kamu tahu penyebabnya apa dan siapa penyebab trauma itu...Trauma akibat pelece**** jarang bisa untuk dideteksi.... jika korban tidak akan membuka tentang yang terjadi dengan diri korban..... bahkan korban jika merasa tertekan akan melakukan hal diluar nalar kita... contohnya Bun** d***"
"Ditha menceritakan kepada saya jika dia menerima pelec**** dari orang yang dicintainya walau kejadian itu sudah sepuluh tahun namun jika seseorang mendapatkan trauma dari orang terdekat akan susah untuk sembuh.... saya memberi saran untuk kembali membangun hubungan baru..... coba lihat sisi lain pelaku yang membuat trauma si korban"
Prabu terdiam penjelasan dokter Lusiana, sungguh perbuatan yang tidak disadari selama sepuluh tahun ini menorehkan luka untuk Aurora.
__ADS_1
"Ditha sekarang karena Prabu disini kamu siap jika kita mencoba terapi langsung dengan pelaku trauma kamu" dokter Lusia mencoba menterapi untuk kesembuhan Aurora.
"Sekarang kamu duduk di sofa berdua dengan Prabu" Aurora pindah ke sisi sofa yang lebih luas.
"sekarang bagaimana perasaan kamu?"
"rileks.... saya merasakan kenyamanan itu kembali seperti sepuluh tahun yang lalu" Aurora menutup matanya ketika Prabu menyentuh tangan Aurora.
"kamu rasakan jika seseorang menyentuh kamu dengan tulus tidak ada paksaan dari orang yang kamu cintai "
"buka mata kamu perlahan lahan lihat dan pandang pelaku trauma kamu" Aurora menuruti ucapan dokter Lusia.
dipandanginya wajah Prabu secara intens, mencoba menatap langsung mata tajam Prabu, Aurora kembali menggelengkan kepalanya.
"jangan paksakan Reditha, sekarang coba kamu sentuh area yang membuatmu takut selama ini.... pelan-pelan obat korban trauma itu ialah diri sendiri"
Aurora mencoba menyentuh mata Prabu selanjutnya hidung dan pipi saat menyentuh permukaan bibir Prabu tubuhnya kembali bergetar dan langsung melepaskan tangannya dari bibir Prabu.
"Kamu hanya butuh keberanian untuk menghadapi ini Reditha coba keluar dari zona nyaman kamu hadapi trauma itu langsung"
"ini sudah ada kemajuannya, saran saya jika kamu belum siap dengan sentuhan yang lebih.... bisa memulai dari yang kecil.... saya rasa kamu sudah melakukannya.... untuk itu coba pergi berdua, lakukan aktivitas berdua, lakukan yang membuat jiwa kamu bisa menerima Prabu"
Mendengar saran dokter paruh baya ini, Aurora mencoba untuk berdamai dengan masa lalunya, begitu juga dengan Prabu Ia akan berusaha untuk mengembalikan kepercayaan diri Aurora terhadap dirinya.
Mereka keluar rumah sakit sorenya dan berencana untuk menjemput Arumi dan Embun di rumah Danu Kalandra.
"Rara maafkan Abang menciptakan trauma berat untuk kamu"
"Abang setiap orang tidak ada yang sempurna begitu juga aku....aku akan berusaha untuk sembuh dari trauma ini.... aku hanya butuh dukungan dari suami aku"
"terima kasih telah memaafkan Abang....Abang tidak akan melupakan ini...kamu rela menanggung beban trauma sendirian....aku bisa berbahagia dengan perempuan lain...kamu harus bertahan dengan luka yang aku buat....aku tidak pantas mendapatkan cinta kamu....aku laki-laki egois meragukan cinta kamu..... menikahi perempuan lain" suara isakan tangis kembali pecah.
Aurora menanggung sendiri trauma yang ditorehkan olehnya sedangkan dirinya berbahagia dengan sahabatnya untuk menghilangkan sakit ditinggal pergi Aurora semuanya keliru jika saja ia tidak mabuk malam itu dengan senang hati menunggu Aurora kembali bersamanya.
"Abang Gaza cukup jangan begini aku pasti sembuh bahkan aku tidak takut lagi bila hanya berdua....kasian dengan Arumi dan Embun jika melihat Papi mereka sedih....Mbak Wida pasti kecewa....hidup akan berlanjut tolong jangan seperti ini....aku akan berusaha untuk selalu bersama Abang dalam keadaan apapun" Aurora memegang pipi Prabu dan menghapus air mata suaminya.
__ADS_1
"kamu....kamu ingin bertemu Wida? dia berharap aku bertemu dengan kamu kembali dan menjadikan ibu untuk anakku"
"sure...besok gimana kalau kita pergi ke makam mbak Wida"
Aurora tahu saat ini bukan hanya dia yang butuh dukungan tapi juga Prabu, laki-laki terlihat rapuh seperti dulu pertama kali bertemu.
kruk....kruk...
"Rara kamu lapar ya....Abang bahkan lupa kita belum makan dari tadi"
"Hehehehe iya aku kalau udah fokus sering lupa untuk makan, Abang ingatkan tempat kita makan dulu?"
"kamu mau kesana? Abang bahkan tidak pernah lagi makan di tempat itu karena sering teringat kenangan kita"
Akhirnya Prabu dan Aurora menuju tempat makan yang dulu sering mereka kunjungi, tempat makan itu terdapat dipinggiran kota Namum bersih dan nyaman.
"Neng Reditha tidak lupa dengan bapak kan?" Pria paruh baya muncul dari dapur, menatap kagum pasangan yang sudah lama tidak datang ke tempatnya.
"bagaimana saya bisa lupa pak.....oh ya bagaimana kabar Rangga pak?" Rangga merupakan anak bapak Yudi tempat Aurora dan Prabu sering nongkrong.
"Alhamdulillah sekarang si Rangga sudah bekerja neng di perusahaan Sara grup saya kurang tahu posisi Rangga apa"
" jika Rangga kesulitan nanti bisa hubungi saya atau suami saya ya pak Yud"
"Su....Ami?"
"Iya kita udah nikah maaf ya pak Yud ga ngasih tahu walau bapak merupakan saksi gimana perjalanan saya dan Mas Prabu saat itu" Aurora sudah menganggap pak Yudi sebagai orang tuanya sendiri.
"pak Yud menu biasa ya....istri saya ingin merasakan masakan bapak" Prabu melihat jika Pak Yudi meneteskan air mata haru melihat keduanya.
"tentu Mas saya tidak akan lupa" Pak Yudi meninggalkan pasangan tersebut.
tempat makan ini sangat sejuk walaupun letaknya di pinggiran kota bahkan desain interior masih tradisional yang jarang ditemui di kota besar.
"Wah gue ga salah dengarkan.... lu udah punya istri" Bayu dan Sony muncul dihadapan mereka dengan pasangan masing-masing.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹
To be continue