
Diani marah melihat Aurora yang keluar dari ruangan Prabu, Pakaiannya kusut, lipstik berantakan dan ada tanda dilehernya.
"Ada perlu apa Diani? Saya sibuk" Prabu menatap malas perempuan dihadapannya ini.
"ngapain Mas Prabu bersama Ditha tadi? Mas ga pernah ngunci pintu jika berdua" Dian duduk memperlihatkan paha mulusnya.
"Apa urusan kamu....itu ranah pribadi saya....mau jungkir balik saya bersama Ditha mau apa?..... perbaiki duduk kamu kalau tidak ingin saya usir" Prabu jengkel mendengar ucapan Diani ingin tahu.
"Mas Prabu kenapa sih sensi gitu? Mas jika butuh penghangat aku siap kapanpun" Dian berdiri menuju Prabu yang duduk di kursi kerjanya.
"Maksud kamu saya Laki-laki hidung belang gitu....keluar kamu, saya ga butuh pendapat kamu atau tubuh kamu" Prabu berdiri mengibaskan tangannya mengusir Dian.
"Lihat aja nanti aku akan buat Mas Prabu takluk denganku....jangan ragukan Diani"
"Sana keluar....saya tidak tertarik dengan kamu apapun itu" Diani mencak-mencak Keluar dari ruangan Prabu.
Mood Prabu pagi ini bagus sekali, dia tidak terganggu dengan kedatangan mertuanya dan hantu Thailand tadi.
Prabu masuk ke toilet, Ia terkejut melihat bibirnya dan lehernya, bibirnya merah akibat serangan Aurora yang menggebu dan ada tiga tanda dibuat Aurora.
Prabu bahagia Aurora menyerangnya duluan berarti sudah siap lebih intim lagi, Terbayang olehnya tadi Aurora membuka kancing baju bagian atasnya, terlihat gundukan terindah yang tidak pernah terekspos dan perut rata Aurora, kaki jenjang yang putih bersih membayangkan saja hasrat Prabu tidak sabar memiliki Aurora seutuhnya.
"Rara sampai kapan Abang kamu siksa" Prabu mengerang keras, hasratnya belum tersalurkan sejak menikah seminggu lalu.
Dirapikan nya kemeja dan rambutnya yang acak-acakan, melihat tampilan saat ini, wajah kusut, kumis mulai tebal, rambut jambang mulai panjang, Mata cekung karena kurang tidur.
"Serena keruangan Mas sekarang" Prabu perlu diskusi dengan adik tentang hak asuh Embun.
Kedatangan Anton dan Tuti tadi bumerang bagi Prabu untungnya Aurora masuk ke ruangannya, Prabu tahu maksud mertuanya untuk menjodohkannya dengan Lisa agar jatah bulanan keduanya tidak terputus, Prabu telah memikirkan itu walau dia nantinya menikah kembali, orang tua Wida akan tetap menjadi prioritasnya.
"Ada ap...a....Mas kamu mesum sama siapa ah" Serena masuk melihat tanda dileher Prabu memerah.
"Ya sama istri Mas lah...kamu ini seperti tidak pernah aja"
__ADS_1
"Ditha melukis itu....wah...aku tidak percaya.. dia pendiam gitu bisa nyerang Mas" Serena menggelengkan kepalanya.
"Serena tadi orang tua Wida datang kesini, mereka menanyakan tentang perjodohan dengan Lisa...Mas langsung menolak permintaan mereka, Jika Ditha tidak masuk mungkin entah apa akan terjadi" Prabu duduk disofa bersama adiknya.
"Nah... sekarang aku ngerti kenapa Ditha nyerang Mas....she is romantice...Aku perlu belajar dari dia" Serena tersenyum ini alasan Aurora membuat tanda untuk kakaknya.
"Mas butuh kamu Sekarang....Embun seperti tidak nyaman tinggal dengan Pepo dan Memonya....Dia ingin kembali tinggal bersama Mas...kamu ada solusi untuk masalah Embun"
"Dari mana Mas tahu Embun tidak nyaman tinggal bersama Pepo Memonya... Aku kesana baik-baik saja"
Prabu menceritakan keluh kesah Embun yang didengarnya tadi pagi, Serena terkejut jika Embun tidak pernah sarapan pagi atau membawa bekal padahal kakaknya melebihi jatah Embun agar bisa makan makanan bergizi.
"Ditha juga sungkan jika berada dirumah Mas....Dia minta untuk malam ini tidur di apartemen...Mas bingung memilih siapa saat ini"
"Mas...Embun dan Arumi nanti tinggal bareng aku aja dulu seperti tahun lalu saat Mas diutus ke Singapura...Mereka berdua pasti ngerti jika papinya bekerja....Kita lihat gimana reaksi keluarga Mbak Wida"
"nanti Mas minta izin Bima....kamu pasti kesepian karena Bima pulang larut malam" Prabu tahu adiknya sering kesepian jika Bima ada dinas malam.
"Aku tahu jika hubungan Mas dengan Ditha masih lari ditempat....ini kesempatan nunjukin keseriusan Mas kepada Reditha"
"Nah....ini aku kasih tiket honeymoon hadiah pernikahan Mas dan Ditha semoga berhasil buat ponakan baru ya Mas" Serena memberikan tiket liburan selama dua Minggu untuk kakaknya.
Prabu mengambil tiket pemberian adiknya, sebagai gantinya Prabu memberikan Black card-nya.
"beli skincare terbaru untuk kamu" Serena bersorak gembira menerima kartu sakti kakaknya.
Prabu melihat tiket perjalanan yang diberikan Serena, Apakah Aurora mau ikut pergi bersamanya, dua Minggu waktu yang singkat bagi Prabu jika berduaan dengan Aurora.
Ting...Ting...
"Abang sibuk? Ada yang perlu aku diskusikan....Urgen" Prabu membaca pesan dari istrinya.
pekerjaan hari ini tidak padat sehingga Prabu bisa keluar, Ia memberikan pesan kepada sekretarisnya akan bertemu kliennya dan tidak kembali ke kantor.
__ADS_1
Prabu menuju ruangan Aurora, Jam menunjukkan istirahat makan siang, tidak ada orang lantai delapan ini. Ia langsung masuk dan mengunci ruangan Aurora.
"Abang udah makan?" Aurora bangkit dari duduknya melihat kedatangan Prabu.
"belum nanti aja bareng kamu"
"Abang aku mau lihatin sesuatu yang aku temukan tadi"Aurora mengajak Prabu masuk keruangan khusus.
"Aku tidak bermaksud untuk memperburuk keadaan Namun ini yang sesungguhnya terjadi....Mbak Wida ibu dari anak Abang....berarti keluarganya akan selalu menempel seperti perangko....lihat ini Abang " Aurora meretas cctv rumah keluarga Wida, Prabu tercengang melihat yang terjadi dirumah itu.
Terdapat banyak cctv rumah keluarga Wida, Aurora mudah untuk meretas, Dahi Prabu mengkerut melihat tayangan dilayar komputer Aurora.
Tayangan berisi Anton dan Tuti sedang menerima cek dari laki-laki berumur disana juga ada Lisa, tidak lama mereka beranjak pergi.
"Jika kamu berhasil menjadi istri si Prabu...Om akan memberikan hadiah yang kamu inginkan....kamu cukup kerjakan apa yang Om mau" Laki-laki menatap Lisa yang duduk disofa.
"tapi aku benci lihat anaknya gimana bisa jadi istrinya...Bagiku anak Mbak Wida pembawa sial....aku ingin Mas Prabu menyayangi anakku saja"
"kamu berambisi juga jadi nyoya Kalandra....nanti Om dan Tante kamu bisa marah mendengar ucapan kamu barusan" laki-laki itu tersenyum menggoda ke arah Lisa.
"Mereka kan cuma butuh uang dari Mas Prabu....si Embun saja ga pernah diurus....aku sering lihat anak itu menangis menahan lapar"
Rahang Prabu mengeras mendengar ucapan Lisa, Anaknya tidak pernah diurus dengan baik, padahal uang tunjangan setiap bulan sudah lebih dia berikan kepada Tuti.
"Abang menurut aku....Embun dan Arumi tinggal bersama kita.....Aku ada tempat yang tidak bisa diakses siapapun kecuali keluarganya Nataprawira" Aurora mengusap lengan Prabu.
"Rara Abang tidak tahu jika Embun tersiksa tinggal bersama Mereka, Abang lalai menjaga Embun"
"Abang percayakan sama aku? kita akan bersama menghadapi ini" Aurora menggenggam tangan Prabu memberikan support untuk suaminya.
🌹🌹🌹🌹
Terima kasih kepada pembaca Aurora yang selalu menunggu kelanjutan cerita ini...
__ADS_1
Jangan lupa ya like dan vote untuk cerita pertama aku...