Aurora Marriage

Aurora Marriage
Terang dalam Gelapku


__ADS_3

Aurora terus menangis mengeluarkan semua kegundahan hatinya. Hatinya hancur setelah mendengar tuduhan Prabu yang tidak mendasar.


"Aku tidak mengambil suami orang....kenaaa...pa aku dituduh sebagai pelakor." Aurora cegukan menangis. "Aku bahkan tidak pernah mengusik kehidupan orang lain....Kenapa aku dituduh hidup menjadi simpanan....kenapa....Abang Gaza." Aurora menangis sambil menutup wajah karena ia tidak sanggup lagi dengan hinaan orang.


"Maafkan aku....kamu harus berada di situasi seperti ini.....Maafkan aku tidak menolong kamu dari hinaan orang-orang....Aku sudah berprasangka buruk." Prabu mencoba mendekati Aurora yang duduk di lantai.


"Kamu tidak pernah mengambil milik orang lain....Aku dari dulu milik mu Aurora....Kamu wanitaku sejak dulu....Aku akan membalas semua hinaan orang-orang kepada kamu." Aurora mengangkat kepalanya yang berada di lutut mendengar suara Prabu yang bergetar. "tolong jangan seperti ini Rara.... Setiap air mata kamu yang meluncur seperti dosa aku perbuat terhadap istriku." Karena tidak tahan melihat Aurora berlinang air mata Prabu langsung merengkuh tubuh istrinya.


"aku mencoba menutup telinga ketika orang mencap Aku sebagai jalang tapi aku ga sanggup mendengar orang-orang mepusnisme aku sebagai pelakor." Aurora masih menangis dalam pelukan suaminya. "Salah aku apa....kenapa aku harus menerima hukuman yang tak pernah aku lakukan.....hukuman sosial lebih kejam dari hukuman manusia." Daru nafas Aurora melemah ia lelah dengan semua ini.


"Rara... Reditha Aurora....kamu kenapa." Prabu menyadari Aurora pingsan. Dengan sigap Prabu mengangkat tubuh Aurora menuju tempat tidur.


Prabu mencari kayu putih agar istri kembali sadar. Ia tertegun melihat tubuh istrinya saat ini lebih berisi pada bagian tertentu. Prabu tahu jika Aurora berada dalam tekanan ia langsung down.


Setengah jam Prabu menunggu Aurora kembali sadar, ia membalurkan kayu putih keseluruhan tubuh istri yang terasa dingin. Aurora membuka mata melihat suami duduk disisi tempat tidur. "Abang kepala aku pusing." Prabu menatap khawatir kondisi istrinya.


"Kita ke rumah sakit ya....kamu kenapa sering pingsan." Prabu menggosok telapak tangan Aurora yang masih dingin. "Ga mau...kalau kita rumah sakit Mama akan histeris mengetahui keadaan aku." Aurora bersikukuh tidak ingin ke rumah sakit, ia takut Mama Sarah mengetahui masalahnya.


"Ya udah Abang buatkan bubur kesukaan kamu....Kamu pasti belum makan dari tadi siang" Prabu memperbaiki letak selimut istrinya.

__ADS_1


Setengah jam ia membuat bubur kesukaan istinya. Masuk ke kamar sambil membawa bubur panas yang masih mengepul. "Rara bangun dulu....perut kamu belum diisi dari tadi." Prabu menepuk lembut pipi Aurora.


"Aku mau tidur aja....Abang yang habisin itu bubur....aku capek." Aurora mengigau dalam tidurnya. "Sayang....bangun atau Abang cium." Aurora terpaksa membuka matanya yang terasa masih berat.


"Suapkan... Aku ga mau makan sendiri." Aurora masih menutup matanya namun sudah duduk. Prabu dengan sabar menyuapi bubur buatannya untuk Aurora.


"Abang Gaza aku mau kucing ras Norwegia....Si Bruno jantan aku mau kucing Betina." Aurora teringat sepupunya mengirimkan foto kucing berbulu lebat.


"Apapun yang kamu minta Abang wujudkan....ini sebagai permintaan maaf Abang karena tidak melindungi kamu tadi." Prabu meletakkan mangkuk bubur yang telah habis di atas nakas.


"Rara gimana kita pilow talk....Abang ingin tahu apa yang terjadi tadi....Jangan tidur dulu tidak baik tidur setelah makan." Aurora mengangguk dalam pelukan Prabu.


"Aku tidak biasa dalam keramaian....Aku menjauh dari suasana hiruk pikuk pesta tadi....Diani memancing aku untuk bertindak.... dia tersungkur dan itu aku melakukannya." Ada jeda dalam cerita Aurora. "Aku tidak sanggup ketika orang-orang membunuh karakterku meneriaki aku seperti pecundang." Aurora menghapus air matanya.


"Dia bukan tipe aku....Mau dia tanpa baju pun menggoda Abang....Aku tidak tertarik dengan dirinya....Kami tidak pernah melakukan apapun di luar batas sebagai rekan kerja." Prabu menghela nafas panjang. "Dia terobsesi.... kenyataannya ia tidak mampu." Prabu mengusap wajahnya. Perempuan itu yang membuat Aurora pergi dari pesta tadi.


"Rara kamu tahukan bagaimana Abang bertahan setelah kepergian Wida...jika Abang ingin mencari pengganti Wida itu harus kamu tidak Diani atau siapapun." Prabu mengencangkan pelukannya.


"Aku dihina Abang Gaza." Aurora menaikkan suaranya satu oktaf karena masih emosi. "Soal hina menghina manusia nomor satu...mereka tidak tahu jika perempuan yang Abang nikahi ini memiliki jiwa yang luar biasa." Prabu mengecup kening Aurora. "Kamu memiliki jiwa yang tulus....Tidak semua orang bisa memaafkan laki-laki yang menorehkan luka lahir batin di dalam hidupnya." Aurora terdiam mendengar ucapan Prabu.

__ADS_1


"Kamu berdiri kokoh dengan sikap dingin dan angkuh.... untuk mendapatkan kamu susah Rara.... mendekati kamu kembali harus melewati berbagai rintangan.... Abang hanya ingin kamu bisa memahami situasi yang menghakimi kita berdua...bukan hanya kamu yang dihina....Abang tak luput jadi sasaran dikatakan sebagai orang gila."


"Tadinya Abang akan mengumumkan pernikahan kita di acara pesta tadi....Abang mencari kamu sampai lobby hotel....Namun Abang kalah cepat menghampiri kamu dengan si Satrio Utomo." Aurora harus meluruskan pertikaian ini. Melihat mata suami yang terbakar cemburu.


"Aku tadi ketemu Abang Asa yang menghadiri pernikahan kontingan dia saat Akmil....Maafkan aku pergi tanpa pamit." Aurora memberikan jari kelingkingnya sebagai tanda maafnya. "Aku tidak ada perasaan apapun dengan Bang Sat....Dia sudah aku anggap kakak sendiri....lagi pula dia sudah punya tunangan seorang dokter." Aurora tahu jika suaminya cemburu mendengar ucapan Luki tadi.


"Abang tidak tahu jika kamu sedekat itu dengan teman Angkasa....Aku cemburu mendengar first love never die." Prabu mengakui jika ia terbakar cemburu melihat kedekatan Aurora dengan teman Angkasa.


"Itu cerita lama....Bang Sat ketahuan memandangi foto aku di ponsel Abang Angkasa kemudian menjadi bahan olokan sesama mereka...... Lucunya suami aku kalau cemburu." Aurora menoel pipi Prabu yang cemberut.


"Aku tadi dapat video kamu nyanyi pergilah kasih kejarlah selingkuhanmu kamu tujukan kepada siapa?" Prabu belum puas dengan penjelasan Aurora.


"Wah....cepat sekali aku viral.....Aku hanya ingin menghidupkan suasana karena hatiku hancur karena suamiku tidak bisa melindungi aku." Aurora masih belum bisa melupakan kejadian tadi.


"Maafkan Abang Rara." ucap Prabu dengan suara lirih. Prabu tahu salahnya yang tidak menemani Aurora saat pesta tadi memilih berbicara dengan Kolega bisnis.


"Jangan tinggalkan aku lagi....Aku takut mendapatkan perlakuan seperti tadi....apalagi menyebut kita kumpul kebo....sehina itukah kita." Aurora meletakan kepalanya di atas dada Prabu.


"Sudah Cukup kamu mendapatkan hinaan seperti ini.....pasti ibu Ratih yang mengatakan ini kepada kamu." Prabu mengeram kesal. Dia akan membuat perhitungan dengan Ratih itu.

__ADS_1


"Jangan lupa besok belikan aku kucing hutan itu." Aurora menguap sambil menutup mata.


Masalah akan terselesaikan jika tetap menjaga komunikasi dengan pasangan dan tempat tidur menjadi solusi penyelesaian pertikaian.


__ADS_2