
Aurora berpikir Minggu kemaren ia seperti mendapatkan tamu bulanan Namun hanya sedikit. Jika Aurora beraktivitas padat dan melelahkan jadwal mentruasi akan berantakan.
"Rara ga papa jika kita belum diberikan amanah dari Allah....kita akan berusaha terus." Prabu menghibur Aurora yang termenung memikirkan kondisinya saat ini.
"Aku cuma ingin membahagiakan Abang....Aku ingin memberikan pelengkap warna untuk keluarga kecil kita." Aurora menetap mata teduh milik Prabu.
"Kita sudah memiliki dua princess....Abang ga keberatan jika kita akan usaha terus...aduh....iya..Rara" Prabu menaik turunkan alisnya, Aurora langsung mencubit pinggang suaminya yang berbagi otak mesum dengan Raditya.
"Ini kapan mau dimakan....aku udah cepek masaknya." Aurora kesal dari kemaren Prabu selalu menggodanya. Wajahnya ditekuk melihat senyum lain dari pada yang lain dari suaminya.
"Sekarang....tapi suapkan....tangan Abang masih kebas menentang belanjaan kamu tadi." Prabu menunjuk dengan mulut memilih hidangan yang ingin ia makan.
"Ya udah sini Abang Gaza....Makan yang banyak biar sehat." Aurora menyiapkan nasi beserta lauk kesukaan suaminya.
Kedua makan dengan nikmat, Prabu bersyukur memiliki istri yang bisa memasak, ia tidak akan perlu makan buatan dari orang lain. Dulu ia sering makan dari buatan asisten rumahnya karena Wida tidak bisa memasak.
"Rara nanti malam kamu ikut Abang ya.... Acara penyambutan investasi asing yang bergabung dengan Kalandra Tecno." Prabu harus membuka acara penting ini nanti malam.
"Tema pestanya apa? Aku ga suka memakai gaun malam." Aurora harus tahu temanya ia takut salah kostum.
"Tema bebas....Abang udah pesankan baju untuk kamu.... nanti mungkin sama dengan Serena." Prabu memperlihatkan baju pilihannya untuk istrinya dan adiknya.
"Ya udah....aku capek mau tidur dulu....nanti mau Ashar Abang bangunkan aku." Aurora beranjak dari meja makan menuju kamarnya. Ia sekarang sering merasakan kelelahan jika beraktivitas.
Prabu melihat Aurora nampak lebih kurus berbeda dengan dirinya yang lebih berisi di bagian pipinya. Ia tidak bisa menebak apa yang terjadi dengan istrinya, prediksi tentang kehamilan ternyata meleset. Aurora memberitahu jika ia datang bulan tidak teratur.
Prabu duduk disofa keluarga, ia memilih untuk menonton pertandingan badminton untuk menghilangkan pikiran buruk terhadap Aurora. Nafsu makan Prabu juga meningkatkan, dulu ia tidak terlalu menyukai yang manis sekarang Es buah yang dibuat Aurora hampir habis setengahnya.
Prabu asyik menonton pertandingan antara Indonesia dan Malaysia dilihatnya jam akan memasuki waktu ashar ia masuk ke kamar. "Rara....Kamu masih capek? Ini udah Ashar ga baik tidur lama." Prabu menelusup pipinya ke wajah Aurora.
__ADS_1
"Ya udah aku bangun...Geser dulu...gimana aku bisa bangun." Aurora mengusap rambut tebal Prabu, ia menyukai aroma shampoo suaminya.
Keduanya akan pergi setelah sholat Maghrib, Embun dan Arumi menginap dirumah Raditya. mereka senang berada disana karena memiliki banyak teman yang seumuran.
"Wah....ga salah pilihan aku...istri aku udah cantik seperti bidadari." Prabu menatap kagum pilihan baju untuk Aurora.
"Abang berlebihan...aku tampil cantik untuk suami....ladang pahala untuk akhirat nanti." Ucap Aurora sambil memasang anting dari Cartier.
Malam ini Prabu memakai jas warna biru navy dipadukan dengan celana berpotongan slim -cut dan sepatu sneaker ber sol tebal berwarna putih. Senada dengan penampilan istri memakai baju berwarna biru navy.
Prabu menggunakan mobil Aurora untuk pergi ke hotel kawasan Jakarta pusat. Serena sudah datang dengan Bima. Acara ini dirancangnya untuk memperkenalkan Aurora sebagai istrinya dan anggota baru keluarga Kalandra.
Serena melambaikan tangan melihat kedatangan Aurora dan Prabu. Aurora belum tahu jika acara ini juga memperkenalkan dirinya sebagai menantu Kalandra. "Ditha kita kok kembaran bajunya....Mas Prabu gimana sih...Katanya aku ga sama dengan punya Ditha." Serena memperhatikan dari atas hingga ujung kakinya hampir semuanya sama hanya warnanya yang berbeda.
"Terima saja barang subsidi....Itu lagi diskon kemaren." Prabu menarik istri dan adiknya ke dalam hall hotel yang sudah dipenuhi berbagai tamu undangan. Serena memutar mata malas, kakaknya pasti ada kejutan ingin ditampilkan diacara ini pikirnya.
"Menantu Papa udah datang....gimana kemaren tentang si Lisa? Papa dengar dia sampai menjebak Prabu ke hotel." Aurora menghampiri mertuanya yang duduk dimeja VVIP.
"Ya udah kamu duduk dulu...kamu terlihat kurang semangat....jangan sering bobol gawang terus." Mama Diana melihat wajah menantunya kuyu.
"Aku duduk bersama Serena aja ya Mama....aku kurang nyaman dengan tatapan orang-orang." Aurora bisa merasakan aura penindasan di dalam acara ini sejak ia masuk bersama Prabu.
Mama Diana mengangguk sambil tersenyum lembut. Aurora mencari meja kosong yang bisa ia duduki, tubuhnya merasa lelah jika berdiri lama. Serena berbicara serius dengan Andi manajer IT yang baru. Ia tidak mungkin menghampiri keduanya yang bukan lagi urusannya.
"ekmmm disini ada wanita sewaan....lagi cari mangsa ya." Diani langsung duduk didekat Aurora sambil membawa wine.
Aurora tidak menggubris ucapan Diani, ia lebih memilih memeriksa saham perusahannya dari pada meladeni makhluk astral ini.
"Kamu tahu kenapa aku bawa wine ini.....Dulu aku punya kenangan bersama Mas Prabu dengan Wine....kamu mana tahu....kamu kolot soal minuman beralkohol." Diani meremehkan Aurora yang tidak tahu soal wine.
__ADS_1
"Saya cuma tahu tentang ranjang dan kenyamanan." Aurora mengangkat kepalanya melihat tampilan Diani untuk malam ini.
Diani memakai dress super mini seperti mau pergi mandi ke sungai. Aurora tidak habis pikir dengan Diani yang lebih suka memamerkan tubuhnya.
"Oh ya.....Tidak salah aku nyebut kamu wanita sewaan....Palingan nanti juga diceraikan juga.... Pelakor sekarang semakin didepan." Diani terang-terangan menyebut dirinya sebagai pelakor kelas teri.
"Mas Prabu lebih menyukai rumput hijau milik sendiri daripada rumput tetangga." Aurora mencondongkan tubuhnya. "Suami aku lebih menyukai yang orisinil dan bersegel bukan yang bekas dan longgar." Aurora berbisik sambil tersenyum sinis.
"Brengsek kamu." Diani menumpahkan wine ditangannya ke wajah Aurora.
Orang-orang terkejut melihat kejadian tersebut Prabu tidak bisa melihat karena terhalangi tubuh koleganya yang sedang berbicara dengan dirinya.
Aurora menghapus wine di wajahnya, ia tidak terpancing dengan kemarahan Diani. Diambilnya sapu tangan Gucci dari tas tangannya. "Saya banyak mengoleksi berbagai Video panas Mbak Diani.... brondong....matang...tua semuanya lengkap." Diani yang akan berdiri kembali duduk mendengarkan ucapan Aurora.
"Berani kamu mengancam aku....jangan sok naif kamu....aku yakin kamu dan Mas Prabu hidup bagaikan kumpul kebo." Diani berdiri setelah menyemburkan unek-unek di dalam kepalanya.
Aurora mencekal kaki Diani dengan high heels dan kaki satunya lagi menginjak gaun malam Diani. Malang sekejap mata Diani harus rela mencium karpet merah. "Ups sorry." Aurora berdiri meninggalkan Diani yang menahan marah dan malu.
"Eh.... perempuan sialan perebut suami orang.....jadi duri dalam daging di rumah tangga orang selama dua belas tahun." Diani berteriak karena ia sudah dipermalukan Aurora, ia mengetahui dari David.
Orang-orang berbisik setelah mendengar umpatan Diani. "Saya tidak percaya mas Prabu berkhianat selama itu...istrinya yang dulu lembut dan ramah." Seseorang berbicara didekat Aurora.
"Masak sih dia tergoda dengan wanita seperti ini....Setahu saya rumah tangga Mas Prabu baik-baik saja dari dulu." Ibu paruh baya yang duduk di meja VVIP mengeluarkan lava pijarnya. "Sekarang apa sih tidak bisa dilakukan jeng....Prabu memiliki harta dan kedudukan....dia mau lah jadi sugar baby untuk Prabu seorang sugar Daddy." Aurora menatap dingin ibu yang mengucapkan ucapan amoral.
Aurora yakin jika itu ibunya Diani sangat mirip dengan anaknya. "Iya....saya tidak habis pikir demi uang kehormatan digadaikan.....jadi duri dalam daging di rumah tangga orang." Ibunya Diani kembali mengongong.
Aurora tidak tahan dalam situasi seperti ini, Ia keluar dari ruangan pesta. Prabu dan Serena tidak menghampirinya untuk membantu situasi ini. Ia menghapus air mata yang mengalir, direndahkan dan dihina untuk pertama kali di depan umum.
"huilen" (Menangis lah) seseorang menariknya dalam pelukannya.
__ADS_1
Aurora tidak pernah mendapat perundungan dari siapapun. Kenapa ia harus menemani Prabu jika akhir seperti ini.
🌹🌹🌹