
Sebulan Prabu menjabat sebagai Plt CEO Sara Group, ia banyak belajar dari keluarga istrinya bagaimana berbisnis dengan aman tanpa menyenggol lahan milik orang lain.
Pagi ini Prabu harus mengikuti meeting kerja sama dengan Kalandra Tecno. Ia sudah mengatur untuk pertemuan ini dengan Papa Danu tanpa di ketahui Manajemen Kalandra Tecno.
Matanya terbuka dilihatnya jam masih menunjukkan pukul tiga pagi namun perutnya ingin mengeluarkan sesuatu. Perutnya bergejolak untuk segera dikeluarkan. Ia bangun dan berlari menuju kamar mandi menuntaskan kehendak perutnya.
Hoek.....Hoek....Prabu mengeluarkan cairan putih bening. Seleranya terasa pahit, kepalanya berputar tujuh keliling.
"Rara buatkan Abang teh tawar dengan sedikit gula." Prabu melihat Aurora mengusap tengkuknya agar cepat menyelesaikan drama pagi ini.
"Abang sakit....Kenapa sering muntah? Kita check up ya....aku yakin ini akibat minuman laknat itu." Aurora panik melihat kondisi tubuh suaminya.
"Abang sehat Ra....Kamu kalau hamil sensitif ya....Ini namanya morning sickness tidak cuma ibu hamil saja yang mengalaminya, suaminya juga bisa.... Abang mengalami sindrom kehamilan simfatik...suami bisa merasakan tanda-tanda kehamilan sang istri." Prabu menjelaskan setelah membersihkan mulutnya dengan air kran.
"Aku kirain Abang sakit parah...Aku ga lupa dengan kelakuan Abang yang sering minum dulu berakibat buruk pada kesehatan." Aurora memberikan tisu untuk suaminya.
"Kamu tahu kata pepatah... alah bisa karena terbiasa....Abang dulu juga begini.... Waktu kehamilan Embun." Prabu mengusap sayang surai rambut istrinya.
"Maafkan aku paranoid jika menyangkut kesehatan Abang....Aku bikin teh hangat dulu ya." Aurora memeluk suami karena merasa bersalah.
"Gapapa... kamu pertama kali hamil wajar jika takut melihat Abang setiap pagi muntah....Anak Papi gimana disana?" Prabu mengusap perut yang sudah sedikit membuncit.
"Aku senang di sini.... Papi dan Buna Mbak Embun dan kakak Arumi pasti menunggu kami lahir ke dunia." Ucap Aurora menirukan suara bayi.
Prabu tersenyum hangat, ia tidak menyangka akan mendapatkan calon buah hati kembar walaupun belum mengetahui jenis keduanya. Aurora beranjak menuju dapur untuk membuat sesuatu yang bisa di makan oleh Prabu.
Prabu memilih memeriksa email yang masuk di meja kerjanya dekat jendela kamar. Pekerjaan Prabu di Sara Group lebih padat dari Kalandra Tecno namun pihak keluarga Nataprawira memberi kelonggaran bagi Prabu yakni bekerja di rumah saja mengingat istrinya hamil muda.
Aurora masuk membawa secangkir teh tawar hangat dan bubur campur yang dibuatnya tadi malam. "Abang Gaza aku tadi buat bubur campur...makan dulu....Isi perutnya agar ada tenaga." Aurora meletakan nampan itu di atas meja sofa.
"Abang dari tadi mau makan bubur campur.... insting istri memang kuat ya." Prabu mencoba sedikit bubur buatan istrinya.
__ADS_1
"ikatan batin kali....antara suami istri." Aurora menemani Prabu yang menikmati makan.
"Iya ya...udah lebih dua belas tahun kita bersama....Kamu ga pernah lupa dengan kebiasaan Abang." Prabu melahap semua makanan yang disajikan istrinya.
"Rara nanti kamu bisa ikut telecrom rapat bersama Kalandra Tecno.... Walaupun Celine ikut dalam rapat ini....Abang masih percaya kamu untuk bisa membantu Abang."
"Atur aja jadwalnya....Aku di rumah dari pagi ga kemana-mana....Kenapa bisa Celine ikut....dia ga suka bertemu orang banyak." Aurora heran dengan teman yang satu itu.
"Kamu belum dengar ya....Andi melamar Celine bulan lalu....Aku dapat info dari Serena." Prabu memperlihatkan isi chatting dirinya dengan Serena.
"Akhirnya dia mau juga membuka diri....Aku kok belum dapat kabar bahagia ini." Aurora tidak terima kebahagian Celine tidak memberitahukan kepadanya.
"Ga tahu juga sih....Kamu percayakan jika aku bekerja bersama wanita....Abang takut kamu cemburu....wanita hamil itu sangat sensitive dari lini manapun."
"Aku udah tahu luar dalam karakter Celine....dia ga akan menjadi musuh dalam selimut....Abang Gaza fokus aja untuk misi terakhir ini." Aurora tahu suaminya khawatir dengan perasaan yang mudah sensitive akhir-akhir ini.
"Semoga Abang bisa membantu Papa menyelesaikan masalah Kalandra Tecno....Abang tidak berharap untuk kembali ke posisi semula namun ini bakti Abang kepada Papa." Prabu mengusap perut istrinya, ia menyukai gerakan dari dalam perut Aurora.
"Kalau mereka perempuan gimana Ra....Masa sih nama Mars dan Jupiter mendingan mawar dan Melati aja." Prabu ingin merekomendasikan nama untuk anaknya.
"Itu universal....nama ibunya bertema alam jadi aku kasih nama Venus dan Jupiter titik no koma." Aurora kekeh dengan nama versi dia, Prabu hanya bisa mengalah dengan ibu hamil ini.
"Abang ada hadiah untuk kita semua." Prabu mengambil sketsa gambar rumah impiannya.
Aurora membuka blue print yang diberikan Prabu. Dalam gambar ini terlihat bangunan memiliki tingkat empat, luas tanah lebih kurang lima ratus meter.
"Ini besar sekali bangunannya....Berapa budget yang keluar demi rumah impian ini.....Aku ga papa jika rumah sederhana minimalis." Aurora tertegun dengan gambar rumah impiannya.
"Allah memberi rezeki kepada kita...Abang ingin memberi perlindungan untuk keluarga kita....Ketika Venus dan Jupiter lahir kita menempati rumah baru." Prabu sudah menyiapkan jauh-jauh hari rumah masa depan dengan Aurora.
Aurora bahagia tuhan mengirimkan laki-laki yang tulus mencintainya, Ia bangga dengan pencapaian Prabu setelah menikah dengannya. Prabu lebih religius dan sabar menghadapi tingkah laku saat ia hamil ini. Aurora kasian melihat suaminya yang harus menderita morning sickness setiap paginya.
__ADS_1
"Buna....Papi kenapa? tadi pagi aku dengar suara papi muntah di kamar mandi." Embun duduk di kursi makan untuk bersiap sarapan pagi.
"Nanti Papi yang akan menyampaikan kabar baiknya untuk Mbak Embun dan Arumi....Kita tunggu Papi dan Arumi dulu ya." Aurora merapikan pakaian Embun sambil memeriksa peralatan sekolahnya.
Prabu dan Arumi muncul bersamaan dengan penampilan segar untuk beraktivitas, Arumi meminta Prabu mengepang rambutnya. Hari ini Prabu memakai baju kemeja navi slim fit dipadukan dengan celana katun warna krem pilihan istrinya.
"Mbak Embun dan Arumi jika kita kedatangan anggota keluarga baru gimana?"
"Anggota baru maksud Papi Ade bayi gitu....Aku ga papa jika Buna hamil....coba tanya Ade mau ga dia menerima?" Embun melempar pertanyaan kepada Arumi.
"Papi masih sayang Mbak Mbum dan Lumi kan? Arsya bilang kalau Lumi punya baby Minion....Papi dan Buna lebih sayang Minions." ucap Arumi sambil mengaduk sereal gandum buatan Aurora.
"Papi tidak pernah membedakan Mbak Embun dan Arumi....Kalian adalah anak kandung Papi begitu juga dua Minions yang ada di dalam perut Buna." Prabu menatap mata kedua anaknya yang memancarkan kesedihan.
Aurora tidak sampai hati mendengar ucapan Arumi, anak keduanya ini lebih sensitif karena tidak pernah merasakan kasih sayang ibu kandungnya.
"Mbak Embun dan Arumi sini....Dua Minions ingin berkenalan dengan kedua kakaknya."
Embun dan Arumi turun dari bangkunya dan menghampiri Aurora yang duduk di bangkunya mengusap perut Aurora yang membuncit. Prabu tersenyum melihat antusias kedua anaknya.
"Buna kenapa tidak bilang kalau udah ada bayi di dalam sini? Nama bayinya siapa?" Embun merasakan gerakan perut Aurora.
"Tadi Papi kasih nama mawar dan melati....kalau Buna Venus dan Jupiter....Arumi udah memiliki panggilan sendiri dua Minions sekarang giliran Mbak Embun lagi."
"Adik aku kembar ya Buna.....Nama yang cocok untuk bayi ini Berneo dan Candrawasih." Embun memberikan nama menurutnya luar biasa keren.
Kalah set Prabu, nama yang menurut sudah bagus kalah dengan tiga wanita di rumah ini. Mawar melati bertemu Venus dan Jupiter setelah itu melihat dua Minions memandang Berneo dan Candrawasih. Sulit ternyata memberi nama sesuai pemikiran masing-masing.
🌹🌹🌹
Jangan lupa pencet tombol vote like and komentar....Bunga mawar boleh juga dari pembaca Aurora Marriage....
__ADS_1
Aku ada cerita baru judulnya Jodohku Pria Tua menceritakan Lingga Barata dinobatkan sebagai bujang lapuk bertemu Sakura Arinda Darmawangsa perawan tua yang belum nikah di usia tiga puluh tahun. Singah dulu.... lihat-lihat mana tahu ketagihan dengan cerita absurd aku..... hehehehe 😁😁