Aurora Marriage

Aurora Marriage
Hadiah untuk Abang Gaza


__ADS_3

Aurora masuk ke ruangannya ada note tertulis didekat komputernya. "dua belas tahun pertemuan A&G " Aurora menarik nafas panjang, Hubungannya dengan Prabu belum menunjukkan kemajuan yang signifikan.


Aurora berpikir mungkin dia akan membuat kejutan untuk Prabu. Dia akan ke ruangan Prabu, Submit data persetujuan dari Direktur Utama, alasan menemui suaminya.


Aurora menuju ruangan Prabu yang terletak dilantai tujuh belas, Dimas tidak berada dimeja nya, bagaimana Ia tahu apakah ada Prabu atau tidaknya.


diketuknya pintu walaupun statusnya istri sah, Karyawan tidak ada satu pun yang mengetahui status itu. Ia menjaga kesopanan jika ada orang didalam ruangan Prabu.


"Masuk" Suara berat Prabu mempersilahkan Aurora masuk.


Langkahnya terhenti melihat sepasang suami istri paruh baya sedang duduk bersama Prabu.


"Selamat pagi....Maaf bapak saya tidak tahu jika ada tamu....meja Dimas kosong" Aurora gugup ditatap kedua pasangan itu.


"Oh...tidak apa Ditha....kamu bawa laporan yang saya mintakan" Prabu mengedip matanya agar Aurora mengerti maksudnya.


"Ada pak....saya tunggu diluar saja"


"Tidak perlu Ditha kamu duduk disini....kenalkan ini orang tua almarhum Widanara istri saya" Terdengar sakit Prabu menyebutkan kata istri.


"Siapa ini Prabu....Bapak tidak tahu jika ada Manajer baru" Anton melihat kartu Akses Aurora.


"Bapak ibu kenalkan ini Reditha dia Manajer IT sahabat Serena" Aurora duduk disisi sofa panjang.


"Kenalkan saya Reditha Manajer IT bapak ibu, Maaf jika mengganggu kegiatan Bapak dan ibu dengan bapak Prabu" Aurora tidak mengerti kenapa Prabu menyuruhnya tetap disini.


"Oh...kenalkan saya mertua Prabu....semoga betah bekerja disini ya" Anton sekedar basa-basi mencairkan suasana.


"bagaimana Prabu usulan ibu tentang perjodohan kamu dengan Lisa" Tuti tidak sabar mendengar jawaban dari menantunya.


Anton dan Tuti sengaja datang menemui Prabu meminta kepastian perjodohan dengan Lisa, Obralan mereka terputus mendengar ketukan suara pintu tadi.


Aurora terkejut mendengar ucapan pasangan suami istri didepannya ini. Baru seminggu dia menjadi istri sah Prabu akankah ia dimadu oleh sang suami.


"Bapak ibu... saya sebagai menantu berharap menghargai keputusan saya saat ini"


"Apa keputusan kamu Prabu....saya berharap Lisa jadi istri kamu, kalian cocok Duda dan Janda" Tuti memang sengaja memancing reaksi perempuan didepannya.

__ADS_1


Aurora tidak habis pikir dengan kedua orang tua Wida sepuluh tahun lalu tanpa bersalah meminta Prabu menikahi anaknya karena ditinggal pacarnya sekarang meminta menikahi Lisa yang notabene seorang janda.


Aurora berusaha tenang, dia pernah mempelajari sifat dan sikap seseorang, Ayahnya sering mengajarkan teknik dalam menghadapi lawan. Aurora pura-pura tidak peduli dengan obralan mereka, Ia sibuk melihat data yang dibawanya tadi.


"Saya sudah menunggu wanita yang saya cintai selama dua belas tahun....jika bapak ibu lupa kejadian sepuluh tahun yang lalu.....saya mencintai wanita itu sejak dulu" Jawaban tegas keluar dari bibir Prabu.


"Kamu emang bajingan....apa salah Wida gara-gara teman kamu, anak saya harus berkorban untuk kalian" Emosi Anton memuncak mendengar penolakan Prabu.


"Saya memang bajingan Namun dulu saya tidak pernah mengajak Wida mengikuti pergaulan kami..... Dia hanya ingin selalu bersama pacarnya Arya"


"Kamu.....Saya hanya ingin kamu dengan Lisa...siapa wanita yang kamu cintai itu sejak sepuluh tahun....kamu berarti tidak pernah mencintai anak saya....kurang ajar kamu Prabu" Tuti ikut tersulut emosi mendengar menantunya mencintai wanita lain.


"Saya tidak lupa....ibu memaksa saya menikahi Wida, saya sudah menolaknya karena wanita yang saya cintai meninggalkan saya....Ibu takut jika Wida menyusul Arya" Prabu berusaha untuk tidak emosi menghadapi mertuanya.


"Alah kamu....Saya menyesal meminta kamu menikahi anak saya....lebih baik kamu dirumah sakit jiwa dulu....Ayo Pak....kita keluar aja dari sini" Tuti menarik suaminya berdiri keluar dari ruangan Prabu.


Aurora terkejut mendengar umpatan orang tua Wida jika Prabu dulu pernah dirumah sakit jiwa.


"Rara maaf kamu mendengar drama keluarga Wida....Abang sengaja untuk menyuruh kamu tetap disini...Agar tidak ada kesalahpahaman nantinya" Prabu mengusap muka dengan kasar.


Prabu ingin kembali ke sepuluh tahun yang lalu, Ia tidak berharap bantuan siapapun mengeluarkan Ia dari rumah sakit jiwa, Ia hanya butuh Aurora datang menemuinya saat itu.


Aurora berdiri melangkah menuju pintu di kuncinya "klik" Aurora mendekati Prabu yang tertunduk menutupi wajahnya dengan tangan.


Aurora sadar saat ini menghibur suaminya yang tertekan, bukan untuk menambah beban pikiran, Aurora berdoa agar ini terbaik, menyiapkan mentalnya.


"Abang Gaza" Prabu mengangkat kepalanya mendengar panggilan Aurora.


Prabu tidak percaya dengan tampilan istrinya, dua kancing atas Aurora lepaskan, stocking hitam melapisi kaki jenjang tidak ada lagi hilang entah kemana.


Aurora langsung mencium bibir suaminya mendoktrin jika sekarang adalah istri Prabu bukan pacar Prabu.


Aurora mengusap dada bidang Prabu, membuka kancing kemeja Prabu, Ia terus memperdalam ciumannya, tangan Aurora menyusup ke rambut tebal Prabu.


Prabu terkejut serangan istrinya, Aurora tidak pernah begini, Ia tidak siap dengan aksi Aurora secara tiba-tiba.


Prabu mengusap punggung Aurora secara abstrak, Aurora tahu untuk meredamkan emosinya. Pungutan bibir tidak berhenti, Aurora sudah berada dipangkuan Prabu.

__ADS_1


tok....tok...kentukan pintu harus menyudahi sesi Mak**** Prabu dan Aurora. Tampilan mereka kacau, Lipstik Aurora berantakan, bibirnya bengkak, kancing bajunya sudah terbuka semua.


Kemeja Prabu sudah kusut, rambutnya berantakan, bibirnya memerah karena lipstik Aurora.


Aurora buru-buru memperbaiki penampilannya diambilnya stocking yang disimpan dibawah file yang dibawanya tadi.


Prabu tertawa melihat istrinya takut ketahuan, dipasangkan kancing baju Aurora, dirapikan rambut Aurora.


"Terima kasih sayang" Prabu melukiskan kepemilikan dileher Aurora.


"Abang Gaza...aku...."Aurora gugup tindakan Prabu kepadanya.


tok...tok...


"Mas Prabu kenapa pintunya dikunci" Dian mengetuk pintu Prabu dengan kencang.


Prabu memutar bola mata malas, ternyata hantu Thailand yang menganggu kesenangannya. Aurora tertawa melihat reaksi suaminya. Aurora memberikan tanda dileher Prabu yang masih terbuka, lumayan hasil karyanya ada tiga tanda dibuatnya.


Aurora berjalan membuka pintu, Ia sengaja memperbaiki penampilannya didepan Diani.


"Maaf tadi bapak butuh waktu privasi dengan saya" Aurora mengibaskan rambutnya, terlihat tanda dari Prabu.


"Kamu ngapain dengan Mas Prabu.....dasar wanita murahan" Diani marah melihat tanda dileher Aurora.


"Saya dan bapak tadi habis live action" bisiknya ditelinga Diani.


"Dasar wanita murahan" Diani akan menyerang Aurora tangan sudah siap menjambak rambut Aurora.


Aurora mengelakkan tangan Diani mempelintir kebelakang, Prabu terkejut aksi Aurora melawan Diani.


"Mas Prabu tolongin saya diserang Reditha aduh.....Aduh" Diani berteriak kesakitan akibat serangan Aurora.


"Kamu salah sendiri nganguin orang" Prabu tidak menghiraukan teriakan Diani, Ia membuka kancing leher bajunya.


Diani terkejut pasangan ini berbuat nekat, mesum di kantor selama ini ia berusaha merayu Prabu tidak berhasil. Aurora baru enam bulan bekerja disini langsung main kunci pintu bersama Prabu.


"bapak terima kasih sarapan paginya" Aurora mengedip mata kepada Prabu dan pergi meninggalkan Diani yang menganga mendengar ucapan Aurora.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


To be continue


__ADS_2