
David mengunyah lama makanan yang sudah terhidang di mejanya, makan sendiri itu sungguh nikmat. Tidak ada rengekan manja dari wanita yang sering menemaninya.
"Begini rasanya makan sendiri....sungguh nikmat." Gumam menghabiskan makanan Indonesia ini.
David ingin merasakan makan sendiri dan itu ampuh untuk menghilangkan rasa penyesalan terhadap diri sendiri.
Setelah merasa kenyang, David memutuskan untuk kembali ke apartemennya yang terletak di kawasan Senopati. Hari ini dia akan mencoba memperbaiki diri dari yang kecil.
"Semoga ini awal yang baru....Papa rindu kamu nak." Masih terpatri senyuman pria kecil yang muncul di proyektor ruangan rapat tadi.
Masuk ke mobilnya sambil menenteng kantong berisi buku yang telah membuat terhipnotis untuk mempelajari agama.
Mobil buatan Eropa ini sudah menemani kemanapun sejak setahun terakhir, hasil jerih payahnya dalam bekerja di perusahaan Tecno asal Kanada.
Lampu merah menyala menandakan harus berhenti, tepat di depan zebra cross mobil David berhenti. Dia menoleh ke kiri kanan untuk melihat penjual koran, David sangat menyukai membaca.
Dari sisi kemudinya, David dapat melihat perempuan yang bertemu di mall tadi sedang mengendarai motornya dengan banyak barang di belakangnya.
"Bukan itu perempuan tadi....kemana dia." Rasa penasaran David mengikuti Sifa yang mengendari motor ke kawasan Utara Jakarta.
"Kuat juga dia membawa motor dari selatan ke Utara...kalau aku mungkin udah tepar." Komentar mengikuti Sifa, David sengaja berjarak dua mobil didepannya.
Sifa berhenti di kawasan penjaringan Jakarta Utara, Masuk ke kawasan sekolah paket. Di tempat ini, Sifa bisa melihat banyak anak kurang mampu untuk bersekolah di sekolah negeri maupun swasta.
David mengamati Sifa dari kejauhan takut akan ketahuan mengikutinya sejak dari lampu merah.
"Kakak Sifa datang...Aku bahagia kakak kesini." Seorang anak perempuan menghampiri Sifa yang sedang mengambil buku yang dibelinya tadi.
"Iya dong...kan udah janji...Mana yang lain....kakak mau ngasih buku ini untuk kalian...semoga bermanfaat...tadi ada orang yang berbaik hati membelikan ini untuk kalian." Jelas Sifa mengambil beberapa buku edukasi dan pelatihan khusus untuk anak yang putus sekolah.
Sifa masuk ke bangun yang sederhana itu, ada ibu paruh baya menyambut kedatangannya. Sifa tidak lama kemudian kembali memakai helm dan meninggalkan rumah sederhana ini.
Motor Sifa berbelok ke panti asuhan Harapan, Sifa di sambut tawa riang beberapa anak yang sedang menunggunya.
__ADS_1
"Sifa terimakasih atas bantuannya....ibu bahagia anak-anak memiliki bahan bacaan....disini memang kekurangan bahan edukasi tentang pelatihan." Ibu Seri sebagai pengurus mengucapkan terimakasih karena telah banyak membantu panti asuhan Harapan.
Sifa tidak lama di dalam panti asuhan ini, dia harus kembali ke rumahnya karena orang tuanya akan pulang dari dinas dari Kalimantan Utara.
Sifa menoleh ke arah mobil keluaran Eropa milik David yang terparkir di seberang jalan, dia sudah curiga sejak tadi mobil ini mengikutinya.
tok....tok...tok.
Tidur David terganggu dengan suara ketukan kaca jendela mobilnya, tubuhnya terlonjak kaget karena melihat wajah Sifa tepat di hadapannya.
"Keluar." David bisa mengerti ucapan Sifa dari gerakan bibir tipis milik perempuan itu.
David tidak bisa mengelak karena ketahuan mengikuti Sifa sejak tadi.
"Saya tahu bapak mengikuti dari lampu merah....jika bapak ingin meminta mengembalikan uang tadi....saya akan usaha paling lambat malam ini."
David tercengang mendengar penuturan perempuan dihadapannya ini, tujuan dirinya mengikuti Sifa bukanlah itu tapi mengetahui kemana Sifa memberikan buku yang dibelinya tadi.
"Maaf Mbak...saya tidak bermaksud meminta kembali uang saya....saya dengan tulus dan ikhlas memberikannya kepada Mbak."
"Saya penasaran kemana buku tadi kamu kasih...Hati saya bahagia mendapatkan kamu memang memberikan langsung kepada anak yang membutuhkannya."
David kehilangan kata-kata ketika melihat sorot mata Sifa yang menatapnya tajam. Perempuan dihadapannya ini sangat berbeda.
"Karena bapak sudah melihat langsung kepada siapa saya kasih...saya pamit pergi dulu... permisi." Sifa tidak mau berlama-lama dengan orang asing yang sejak tadi mengikutinya.
Namun malang memang sekejap mata, ban motor Sifa bocor bagian belakang. Jika memakai jasa ojek online tarif menuju rumahnya akan lebih mahal.
Arah pandang David melihat ban motor Sifa terlihat kempes, sebenarnya dirinya ingin menawarkan tumpangan ke perempuan berhijab ini.
"Kamu mau kemana....saya juga akan pulang...mungkin se arah...tidak perlu takut saya yakin kamu pasti menguasai salah satu ilmu bela diri." David menghampiri Sifa yang terlihat nelangsa karena ban motor bocor.
"Saya mau ke Cijantung... terima kasih atas bantuannya....semoga Allah selalu memudahkan segala urusan bapak...seperti bapak memudahkan urusan saya." Ucap Sifa mengikuti David menuju mobilnya.
__ADS_1
David sengaja meletakan kantong plastik buku di antara dia dan Sifa. Lebih baik memproteksi diri lebih dahulu, berubah dari yang kecil tidak bersentuhan dengan lawan jenis.
"Saya belum mengenal nama kamu...tidak sopan kiranya jika saya tidak tahu nama kamu."
David mencoba membuka obrolan ringan dengan perempuan yang dijumpai di mall tadi.
"Anashifa Robbi Prayoga"
"Nama yang bagus...saya panggil Sifa kalau begitu." Putus David setelah mendengar ucapan Sifa.
David tahu perempuan disampingnya ini tidak bisa untuk digoda atau di ajak dengan obralan yang mengarah ke malam panas.
"Bapak mau belajar sholat ya." Sifa memecah lamunan David.
"Iya....bagi saya tidak ada kata terlambat....tuhan menegur saya lewat kejahatan masa lalu saya." Ucap David dengan getir, jangan di mulai dengan berbohong hanya demi meningkatkan popularitas nama pikirnya.
"Semoga istiqamah....Bapak pasti bisa untuk lebih baik." Sifa melihat gurad lelah dari wajah David.
"Terimakasih atas motivasinya....Semoga doa kamu di Kabulkan Allah... insyaallah saya memulai dari yang kecil." Ucap David dengan lancar.
"Bapak muslim?" Tebak Sifa saat mendengar ucapan fasih David kata Insyaallah.
"Saya lahir dari keluarga heterogen....Ibu non muslim Ayah muslim....setelah keduanya bercerai saya ikut ibu saya."
"Maaf saya tidak bermaksud menyinggung privasi anda." Ucap Sifa dengan lemah, dirinya menyesalkan menanyakan keyakinan yang di peluk pria blasteran ini.
"Tidak papa....Lebih baik jujur walaupun menyakitkan bukan." David menoleh ke arah Sifa untuk menyakinkan pendapatnya.
Sifa terjebak dalam pikirannya, pria disampingnya ini seperti mengalami tekanan batin.
"Bapak butuh buku lain....saya punya buku untuk memantapkan pilihan bapak ini." Tawar Sifa setelah teringat buku yang tidak jadi dipilihnya tadi.
"Serius...saya boleh pinjam buku tentang ilmu agama? Saya berterima kasih jika kamu senang hati meminjamkan untuk saya." Senyum sumringah terbit dari bibir David.
__ADS_1
Sifa mengangguk, menolong seseorang dalam kesulitan baginya merupakan petunjuk dari Allah jika dia merupakan obat untuk orang membutuhkan di saat kesusahan.