Aurora Marriage

Aurora Marriage
Aku salah menilai kamu


__ADS_3

Prabu Pov


Aku masuk ballroom hotel kawasan Jakarta pusat untuk acara pesta kerjasama Kalandra Tecno dengan pihak asing dan pengumuman Aurora telah resmi jadi bagian keluarga Kalandra.


Aku harus menemui kolega bisnis untuk menyambut kedatangan mereka dalam pesta ini. Aku terpisah dengan Aurora, ia memilih untuk menghampiri kedua orangtuaku sedangkan aku berbicara dengan para investor, mitra dan para kolega bisnis.


Aku memperhatikan Aurora terlihat gelisah entah karena apa, aku juga tidak tahu. Ia duduk sendirian tanpa didampingi Serena, Aku tahu dia tidak nyaman ditatap orang-orang yang hadir dalam acara ini.


Aku berbicara serius dengan investor dari Rusia, mereka berminat bekerjasama dengan perusahaan teknologi dari Indonesia, aku bangga dengan pencapaian ku sekarang karena semua itu dukungan dari istri tercinta ku yang selalu mensupport. Kalandra Tecno pasti bisa merambah ke pasar asing bersaing dengan Peru teknologi dari luar negeri.


"Ada apaan?kenapa direktur keuangan tersungkur?" Aku mendengar bapak-bapak berbisik seperti sesuatu terjadi dalam pesta ini.


"Dasar pelakor.....duri dalam daging selama dua belas tahun." Aku mendengar kembali teriak Diani entah kepada siapa karena tubuhku terhalang badan orang-orang yang membantu Diani berdiri.


"Permisi saya menemui ketua direksi dulu." Aku pamit pergi ingin mencari keberadaan Aurora. Aku tidak melihat dia duduk dikursi tadi.


"Sekarang orang hidup butuh uang.....demi uang harga diri tergadaikan mau jadi simpanan....jual tampang mungkin tu perempuan." Aku langsung menoleh mendengar umpatan seorang perempuan paruh baya.

__ADS_1


"Mas....Ditha mana?.....Tadi dia duduk disini." Serena menghampiriku ingin mengetahui keberadaan Aurora. "Mas juga bingung kemana dia....Ini kenapa orang-orang bicara yang aneh-aneh." Aku mengedarkan pandangan melihat seluruh ruangan ini dimana keberadaan istriku.


"Aku keluar dulu mungkin dia cari angin segar....dia tidak suka keramaian." Aku tahu kebiasaan Aurora. Ia tidak akan tahan berlama-lama di dalam ruangan jika ada keramaian.


Aku keluar ballroom mencari Aurora berjalan hingga turun sampai lobby hotel. Aku terkejut melihat ia berpelukan dengan seorang pria dengan berani pria itu memeluk erat tubuh istriku. Aurora melepaskan pelukan pria itu, aku mencoba mendekat mengetahui siapa pria yang memakai pakaian dinas TNI.


"Komandan ini siapa?" Aku mendengar pria lainnya bertanya kepada pria yang memakai baju dinas itu. "Adik saya" aku mengerutkan dahi, siapa pria ini karena tubuhnya membelakangi aku yang sedang memperhatikan keduanya.


"Reditha adik Komandan Angkasa...Kapten Satrio Utomo first love come back." Aku baru sadar jika Aurora berpelukan dengan Angkasa. Aku ingin menghampiri Aurora kenapa ia terlihat sedih dipelukan kakaknya Namun langkah ku terhenti melihat sosok tinggi tegap menghampiri Aurora dengan mengusap sayang rambut istriku.


Aurora tersenyum mendengar pujian teman Angkasa. Aku merasa kalah melihat Aurora begitu nyaman dengan saudaranya dan teman-teman Angkasa. Aurora tidak pernah seperti itu jika bersamaku, Angkasa membawa pergi Aurora bersamanya. Aurora bahkan tidak menoleh sedikitpun ke belakang untuk mengetahui keberadaan aku yang mematung melihat interaksi teman-teman Angkasa yang terlihat dekat dengan Aurora.


Aku tidak fokus dengan acara malam ini. Aku memandang ponselku jika ada pesan yang dikirimkan Aurora. Satu jam aku menunggu tidak satupun pesan yang masuk ke ponselku.


"Bapak...maaf menganggu...saya mendapat Video ini dari rekan IT barusan." Dimas memperlihatkan Aurora duduk diapit Angkasa dan laki-laki tadi.


"Pergilah kasih kejarlah selingkuhanmu.....Selagi masih ada waktu.....jangan hiraukan diriku....aku rela berpisah demi dirimu." Aku menatap sedih istri bahkan bersorak bernyanyi yang lirik dia ubah. Orang-orang berteriak keras melihat dia dan para prajurit TNI duduk bersama.

__ADS_1


"Kamu urus ini Video jangan sampai tersebar....saya pulang dulu....Close up nanti Papa yang akan melakukannya." Aku berdiri meninggalkan pesta malam ini, mood ku hancur ketika melihat Aurora bahagia dikelilingi para prajurit TNI. Ia bahkan sudah menukar baju yang aku berikan dengan baju kaos polos.


Aku mengendarai mobil Aurora dengan penuh pikiran. Tadi aku pergi bersamanya pulang sendiri tanpa dirinya. Aku memutuskan menunggunya pulang di sofa keluarga. Aku menghisap rokok yang aku simpan di dekat lemari televisi. Aku kecewa dengan sikap Aurora malam ini, Ia lebih memilih pergi dengan saudaranya dibandingkan dengan diriku.


"Gimana reunian dengan mantan? Kamu masih menganggap saya suamimu atau bukan? Cih... First love never die" Aku tersulut emosi melihat Aurora masuk memakai baju kaos dan celana training sambil menyandang tas milik Angkasa.


Dia tidak menanggapi ucapanku langsung masuk ke kamar tanpa menghiraukan tatapanku. Aku mematikan rokok yang baru setengah aku hisap. "Reditha jawab saya....Kamu masih menganggap saya suamimu atau bukan?" Aku menyusul ke kamar dan kembali mengulang kalimat tadi dengan nada rendah namun sarat ancaman.


Dia sibuk melepaskan jaket milik Angkasa tanpa menoleh kepada ku. Karena tidak tahan aku mencekal tangannya ketika ia akan membawa satu guling. "Kemana kamu jawab pertanyaan saya...kamu masih punya mulut untuk menjawab!" Aku geram dengan sikap acuhnya kepada aku yang tidak menganggap aku ada.


"Aku tidak tahu kamu mengganggap aku ini siapa?" Aurora meneteskan air matanya, aku tergugu mendengar kata kamu yang ditujukan kepadaku.


"Kata suami itu hanya status diatas kertas....Aku menerima kamu memiliki kekurangan....Aku selalu ada jika kamu membutuhkan kekuatan menghadapi orang yang akan menyakiti kamu." Aurora menghapus air mata dengan tangan kanannya karena aku tidak melepaskan tautan tanganku dengan dirinya.


"Berani mengatakan kata KAMU kepada saya....Kamu itu lebih muda dari saya Sepuluh tahun." Aku tidak tahan mendengar kata Kamu yang dia keluarkan.


"Aku mengerti sekarang.... Perempuan yang sedang kamu pegang ini.... seorang jalang..... simpanan....sugar baby.... pelakor yang harus mengerti posisinya." Ia dengan kasar kembali menghapus air matanya. "Prabu kamu dimana saat saya dihina dan dicemoohkan di depan umum dalam acara kamu....masihkah saya menaruh rasa hormat jika SUAMI saya tidak bisa melindungi saya dari perundungan wanita yang tergila-gila kepada SUAMI saya." Aku terkejut ucapan Aurora ternyata dia yang diteriaki Diani sebagai Pelakor tadi.

__ADS_1


"Aku masih bisa tahan dikatakan sebagai duri dalam daging." Aurora berbalik menatapku. "Prabu kamu dimana saat aku dihina sebagai perempuan murahan menggadaikan harga diri demi uang... Dimana kamu Prabu jawab aku!.....Dimana kamu saat aku dikatakan wanita yang menumpang hidup dengan sugar Daddy....dimana kamu Prabu!....Aku dihina kumpul kebo dengan Kamu Prabu....Dimana kamu sebagai suami saat aku membutuhkan Kamu Prabu!.....akkkk" Aurora berteriak sambil menguncang tubuhku kekesalan memuncak dan mengatakan semua isi hatinya terhadapku.


"Rara Abang......" Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan melihat Aurora merosot ke lantai kamar kami menangis pilu mengeluarkan kesedihannya menjadi istri seorang Prabu Gaza Kalandra.


__ADS_2