Aurora Marriage

Aurora Marriage
David dan Penyesalannya


__ADS_3

Hari ketiga David belajar tentang pengetahuan ilmu agama, Dia sangat berterima kasih kepada Sifa karena mau meminjam beberapa buku filsuf Islam.


"Assalamualaikum..Sifa saya mau mengembalikan buku milik kamu."


David mengirim pesan untuk perempuan yang berjiwa besar membantu dia mendekatkan diri kepada Allah.


"Waalaikumsalam...saya lagi praktek....Jika bapak tidak keberatan saya selesai praktek jam lima sore....kita ketemu di islamic center saja."


Senyum David mengembang ketika dia mendapatkan jawaban dari perempuan berhijab ini, perempuan ini tidak akan berbasa-basi dia akan langsung to the points.


David membuka sebuah buku yang dipinjamkan Sifa yang berjudul "Mensyukuri nikmat Allah melalui surat Ar Rahman." Buku dengan tebal empat ratus halaman.


Hari ini dia memilih berdiam di apartemen dibandingkan pergi pesta bujangan yang di undang teman se masa kuliahnya di Singapura.


"Nikmat mana lagi yang engkau dustakan." Gumam David membaca rangkaian kata yang tersusun indah di dalam buku ini, ada tujuh belas kali kalimat ini di ulang.


Sejenak David berpikir, tuhan memberikan dia nikmat yang tak terhingga, dari kekayaan kekuasaan hingga wanita. Tapi David merasakan hidupnya hampa walaupun semuanya sudah diraihnya. Hatinya merasa kosong, kacau dan penyesalan sepanjang hidup.


"Bismillahirrahmanirrahim....semoga Allah memudahkan langkah ku bertemu dengan putra ku." Buku tebal itu tertutup, David menyimpan di rak buku miliknya.


Hari ini dia kembali berusaha mendapatkan izin Celine untuk bertemu dengan anak biologis yang sudah di sia-siakan selama tujuh tahun.


Menuju gedung Kalandra Tecno siang ini, David akan mencari cara agar bisa bertemu dengan Celine. David menekan pedal gas untuk mempercepat perjalanannya menuju Kalandra Tecno.


Turun dari mobilnya, terlintas dibenaknya untuk menuju ke ruangan Andi, manejer teknologi rekayasa perangkat Kalandra Tecno. Celine pasti ada disana, David tahu jika Celine sudah menjadi tunangan Duda hot manajer teknologi rekayasa perangkat itu.


Masuk ke Lift yang membawanya ke lantai dua belas, dimana Divisi Teknologi berada di lantai itu. David keluar menuju ruangan Andi, langkahnya terhenti karena ada yang menarik jas miliknya.


"Om....om boleh minta tolong bantu aku mengikat tali sepatu aku....Aku takut jatuh." Mata David membulat sempurna, melihat bentuk rupawan tiruannya berdiri di hadapannya sekarang.


David mengucapkan syukur kepada Allah, mempertemukan darah daging yang selama ini tidak diketahuinya, Tuhan memang punya cara sendiri untuk mempertemukan dia dengan anaknya.


"Nama kamu siapa boy?" Ucap David setelah selesai mengikat tali sepatu Arsya.


"Arsya Rahman...Kata Mami arti nama aku cahaya kasih sayang."

__ADS_1


"Kalau nama Om siapa? kenapa bisa di sini? Mau ketemu Mami atau ayah?" Rentetan pertanyaan Arsya tuju kepada David yang termenung mendengar perkataannya.


"Helo....Om... Arsya bertanya dan Om harus menjawab." Arsya melambaikan tangannya di depan wajah David.


"Nama Om David...mau ketemu Om Andi." David mencoba tersenyum agar tidak terlihat menyedihkan di depan anaknya.


"Mau ketemu ayah ya? Ayo aku antar..Nanti Om bisa tersesat... gedung ini besar loh." Tangan mungil seketika mengengam tangan besar David, ada gejolak di tubuh David yang bisa ia jabarkan saat ini.


Arsya yang masih memakai pakaian play grup membimbing David menuju ruangan Andi, Dia bersama Celine berjanji akan makan bersama dengan Andi dan Pelangi anak Andi.


"Ayo Om....masuk....Ayah ada yang mau ketemu....Mami aku ketemu Om ini tersesat di sini....aku udah jadi pahlawan seperti ayah menyelamatkan Mami dari Ibu Nisa." Lapor Arsya kepada kedua orang yang terdiam melihat kedatangan David.


"Anak ayah semakin pintar....Kamu udah kenal dengan Om ini." Andi mencairkan suasana yang mendadak mencekam.


"Udah dong...Om ini namanya David...mau ketemu Ayah...Om David juga jadi pahlawan aku karena udah mengikatkan tali sepatu aku."


Andi tersenyum mendengar ucapan anak berumur enam tahun ini, dia tahu Celine akan canggung untuk bertemu dengan orang yang menyakiti di masa lalu.


"Maaf Pak...ruangan saya sudah seperti kapal pecah....kedua anak saya ke sini...mau mengajak makan siang bersama." Andi menyapa David untuk mempersilahkan untuk duduk.


Celine yang sejak tadi membantu Pelangi untuk membuat Web untuk tugas kegiatan OSIS terhenti mendengar ucapan David.


"Oh ya kenalkan ini anak pertama saya Pelangi...dia kelas tiga SMP" Andi mencoba ramah dengan atasannya ini.


"Salam kenal...Aku Pelangi Senja." Anak perempuan Andi jelas sangat pemalu setelah dia berkenalan langsung bersembunyi di balik tubuh ayahnya.


"Celine...sepertinya Arsya dan Pelangi udah lapar...Tunggu di lobby ya...Mas bicara sebentar dengan Pak David." Andi memberi kode agar Celine membawa kedua anaknya.


"Mami....Om ini ga ikut ya...tadi kan udah jadi pahlawan aku....Pasti Om ini juga lapar." Arsya menatap lama ibunya yang enggan menyapa David.


"Dek...ayo...kakak udah lapar....nanti Ayah turun bersama Om pahlawan kamu itu." Sebelum Celine menjawab, Pelangi terlebih dahulu menarik Arsya keluar ruangan Andi.


Kini tinggal David dengan Andi, dua orang yang memiliki kisah dengan satu wanita. David masa lalu Celine sedangkan Andi masa depan Celine.


"Saya tidak tahu mulai darimana....setelah melihat langsung ciptaan Tuhan yang dititipkan kepada Celine...membuat saya menyesal sampai sekarang dengan perilaku saya di masa lalu.... Tuhan menguji saya lewat titipannya yaitu anak." David menghela nafas panjang, ini kali pertama ia menceritakan persoalan hidupnya yang selama ini ditutupi dalam lingkungan sosial.

__ADS_1


"Saya seperti binatang....meninggalkan Celine dengan penuh luka....Saya pergi tanpa ada penyesalan saat itu...bagi saya tidak mendapatkan Reditha.... melampiaskan segala na-fsu saya kepada Celine."


"Saya sudah menciptakan trauma untuk dia....saya juga menciptakan hukum sosial untuk dia...saya bajingan meninggalkan dia tanpa sepeserpun." getaran suara David sangat terdengar jelas di ruangan ini.


"Sekarang mungkin Allah memberikan saya kesempatan untuk menebus segala dosa saya kepada ibu dari Arsya.... bolehkah saya meminta bantuan Mas Andi....Saya berbicara sebagai teman bukan sebagai atasan...Saya hanya ingin memberikan kasih sayang sebagai seorang ayah yang tidak dirasakan oleh darah daging saya sejak mulai dari kandungan."


Andi terdiam mendengar penyesalan yang keluar dari bibir atasannya, baginya David berhak untuk bahagia dengan anaknya, dia tidak akan menghalangi jalan David untuk membahagiakan anak kandungnya.


"Saya sudah melihat bagaimana Arsya memegang tangan bapak dengan erat...mungkin benar kata pepatah darah lebih kental daripada air...Saya cuma bisa menyakinkan Celine agar bisa memberikan kesempatan untuk bapak...Arsya juga harus tahu siapa ayah kandungnya."


"Setiap orang punya aib....saya juga bukan manusia sempurna....hanya kepada Allah kita berharap semoga hati Celine bisa melunak dan menerima bapak sebagai ayah dari Arsya....Saya juga meminta izin kepada bapak David sebagai ayah kandung Arsya untuk memberikan kasih sayang untuk Arsya."


"Terima kasih atas kemurahan hati Mas Andi sudah berbagi pikiran...saya berdoa semoga Mas bisa mengayomi Celine dan anak saya ...Saya pamit." David pamit setelah menumpahkan segala yang ada dalam hatinya.


Lift membawa David menuju lobby Kalandra Tecno, dia sudah berjanji akan bertemu dengan Sifa untuk mengembalikan buku.


"Om.....Om tunggu Arsya mau kasih ini." Arsya berlari menuju arah David.


"Ini untuk Om karena udah jadi pahlawan aku....semoga kita bertemu lagi ya." Arsya memberikan tiramisu sebagai ungkapan terimakasih kepada David.


"Terima kasih hadiahnya....semoga Allah mengabulkan doa kamu nak." David mengusap rambut Arsya dengan sayang.


"Aku juga mau hadiah dari Om...Aku udah kasih hadiah untuk Om."


Refleks David memeluk erat tubuh mungil itu, tangis tak terbendung memeluk erat anak kandungnya.


"Kamu hadiah dari Tuhan untuk menyempurnakan hidup Papa nak." Gumam dalam hati.


"Om jangan sedih ya.... pahlawan ga boleh nangis...siapa nanti yang membela jika pahlawan cengeng." Arsya menghapus jejak air mata di pipi David.


David tersenyum mendengar ucapan anaknya yang kritis, dari kejauhan Andi dan Celine melihat luapan air mata kebahagiaan seorang David Morales.


"Kamu harus berlapang hati menerima dia merupakan bagian dari Arsya....Mas hanya ingin kita tidak memutuskan silahturahmi antar ayah dan anak." Andi mencoba memberikan pengertian untuk Celine untuk berdamai dengan masa lalu.


"Bapak saya mau jalan menuju islamic center." Getaran ponsel David menyadari dari rasa bahagia saat ini.

__ADS_1


"Oke saya juga menuju ke sana."


__ADS_2