
Prabu POV
Aurora cantik seperti Dewi Yunani wajah perpaduan perempuan Indo, Aku tidak menyangka jika akhirnya bisa bersanding dengan perempuan yang Aku cintai sejak dulu.
"Rara hari ini kamu Queen Prabu Gaza Kalandra" Ucapku mengagumi kecantikannya yang memakai baju adat khas Padang.
Senyum Aurora bagiku menyejukkan hati dari dulu senyuman begitu tulus jika bersama diriku.
"Rara jangan lama-lama Abang tunggu kamu" Aku keluar kamar mandi hanya mengunakan handuk.
Aku melihat wajah Aurora berubah pucat, Ia berlari menuju kamar mandi dan menutup rapat. Aku memilih untuk menyibukkan diri membaca email yang masuk hari ini.
"Abang kenapa belum tidur" Aku sadar nada suara Aurora terdengar habis menangis menoleh melihatnya sedang menata bantal untuk tidur.
"Rara kamu ken.....?" Ucapku terpotong karena bunyi suara ponselku, ada apa Bayu menelpon tengah malam begini.
"apa.... komputer mati selama lima menit di kantor SEKARANG JUGA KAMU PERIKSA" aku terkejut mendengar kabar dari Bayu sehingga berteriak keras.
Aku mematikan ponsel, Aurora terlihat ketakutan mendengar teriakkan suara ku, dia menggelengkan kepala dan menutup telinga.
"jangan... jangan sentuh aku...aku mohon" deru nafas memburu, Ia menangis sambil menutup mulut dengan sebelah tangannya.
Aku terpaku melihat ketakutan Aurora terhadap teriakan ku, jika suara teriakan ku membuatnya takut, Arumi yang tidur tidak terganggu dengan suaraku. Dia menghapus air mata dengan kasar berusaha mengatur nafasnya.
"jangan mendekat saya akan membantu Kalandra Tecno sepertinya di serang hacker.... saya permisi" Aku terkejut mendengar ucapan formal, apa dia tidak tahu jika dia berbicara dengan aku yang merupakan suaminya beberapa jam yang lalu.
Dia melewatiku tanpa melihat ke arahku, pergi keluar kamar entah kemana aku tidak tahu. Aku selalu kepikiran apa yang telah aku lakukan di masa lalu sehingga Aurora seperti enggan berinteraksi lama dengan ku.
Aurora tidak pernah menatap mata ku jika berbicara seperti dulu, dia menghindari tatapan mataku, Jika aku memeluknya dan mencium keningnya tubuh menegang terasa kaku.
Aku pernah bertanya apa yang telah terjadi sepuluh tahun yang lalu, apa aku berbuat kesalahan fatal sehingga dia pergi meninggalkanku tanpa alasan tapi hanya senyuman yang ku dapatkan bukan jawaban yang ku inginkan.
Suara ombak samudera Hindia menemani ku malam ini, tidak ada malam yang spesial untukku dan Aurora, Aku bingung menghadapi perempuan yang menutup rapat masalahnya.
🌹🌹🌹🌹🌹
Aurora mencoba menetralkan degub jantungnya yang berpacu cepat mendengar teriakkan Prabu.
"Rara kamu kemana? ini udah malam kenapa belum tidur" Sarah melihat Aurora berjalan menuju ruang tengah villa.
"Mama aku mau ambil air putih ke dapur....Mama kenapa belum tidur" Aurora beralasan untuk mengambil air padahal Ia ingin menjaga jarak dengan Prabu.
__ADS_1
"Mama ga bisa tidur ayah kamu kalau kecapekan suka ngorok tidurnya" Keluh Sarah kerena tidak bisa tidur dengan tenang.
"Aku mau ambil minum dulu Mama butuh sesuatu?"
"Mama kembali ke kamar aja nanti ayah ngigau kalau ga ada Mama di sampingnya Sleep night baby" Sarah masuk ke kamar yang berada di ujung ruangan tengah villa.
Aurora mengambil air putih dan meminum sekali teguk, Aurora merasa bersalah meninggalkan Prabu sendiri di kamar.
Aurora masuk ke kamar lainnya yang tidak ditempati kedua keluarga, membuka laptopnya dan bekerja dengan kode-kode rahasia. Hampir jam tiga pagi Aurora belum juga terlihat berhenti untuk memainkan keyboard di laptopnya.
tok...tok... bunyi suara ketukan pintu memecah konsentrasi Aurora "Masuk" Pintu terbuka, Aurora tidak tahu siapa yang masuk ke kamar ini.
"Rara ini sudah dini hari kamu istirahat dulu" Prabu masuk membawa secangkir susu panas.
"bentar lagi.. aku selesai" hanya itu yang bisa diucapkan Aurora selanjutnya ia tetap fokus ke layar laptop.
Prabu melihat bagaimana lincahnya Aurora memainkan kode-kode bahkan dia tidak mengerti yang di kerjakan oleh istrinya.
"hey Jude... your die!!!..... Done!!!" Bunyi suara Azan berkumandang Aurora akhirnya menyelesaikan meretas akun yang mencoba menghecker situs Kalandra Tecno.
Prabu bahkan tertidur di sofa karena menunggu Aurora menyelesaikan meretas, Aurora berjalan menuju meja sofa dimana di sana ada secangkir susu yang telah dingin, diminumnya susu buatan sang suami.
Aurora bahkan kegugupan untuk menyentuh pipi sang suami, sejak kejadian teriakan Prabu, Aurora kembali merasakan ketakutan hebat, apakah terapi yang disarankan psikolog tidak bisa menyembuhkannya dari ketakutan ini.
Prabu membuka mata dilihatnya Aurora menatap dirinya dengan mata kosong, Selalu seperti ini takut jika berhadap dengan dirinya.
"Kamu udah sholat? gimana sholat berjemaah seperti dulu lagi" Prabu beranjak dari sofa dan masuk ke kamar mandi.
Aurora duduk menunggu Prabu selesai mengambil wudhu, kepalanya berdenyut karena belum tidur. Prabu keluar kamar mandi siap-siap untuk sholat.
subuh pertama sebagai pasangan suami istri perasaan Prabu menghangat ketika melihat Aurora menjadi makmumnya.
"Rara kamu istirahat dulu seperti kamu tidak tidur dari semalam, nanti Arumi biar abang yang urus" Aurora menyalami tangan Prabu dan bangkit ketika telah selesai berdoa.
Aurora kembali ke kamarnya di lihatnya Arumi masih tidur dengan lelap, Ia naik ke tempat tidur masuk ke dalam selimut dan memeluk Arumi sekejap kemudian matanya tertutup menuju alam mimpi.
Kemudian Prabu masuk ke kamar Aurora, melihat Aurora memeluk Arumi dalam tidurnya, Air mata tanpa permisi menetes Ia terharu melihat pemandangan indah ini.
Prabu menyusul Aurora dan Arumi tidur kembali, memengang tangan perempuan yang cintainya.
"Terima kasih Rara ku" Prabu mencium dahi Aurora menyalurkan kasih sayangnya.
__ADS_1
"buna lumi pengen pipis" Arumi menepuk pipi Aurora.
"gadis manis Buna udah bangun" Aurora melihat jam di nakas tempat tidurnya jam sembilan pagi.
"lumi mau pipis" Arumi memegang bagian bawah perutnya.
"ayo kita ke kamar mandi sekalian mandi juga ya" Aurora tidak menemukan Prabu berada di kamar ini.
Aurora dan Arumi mandi bersama mempersingkat waktu, selesai memakai pakaian Aurora mengajak Arumi untuk sarapan walaupun sudah terlambat.
"pengantin baru udah bangun gimana semalam" Antariksa muncul bersama Embun seperti habis berkeliling villa.
"semalam kita perang....Ade ga tahu kami perang pakai meriam" Aurora pergi berlalu dari adiknya yang kepo.
"Om meriam itu apa"
"nanti coba tanya ke papi kamu...bilang Embun ingin punya adik dari meriam Papi okeee" Antariksa dan Embun berjalan ke ruang makan.
"pagi semua" Aurora menyapa anggota keluarga yang berada di meja makan, semuanya memandang Aurora dengan senyuman.
"papi...kata om Anta kalau mau punya adik aku minta dari meriam Papi....meriam itu apa?" Embun mendekati Prabu yang sedang makan roti gandum.
"RAFA ANTARIKSA" mama Sarah menjewer telinga anaknya suka berbicara seenaknya saja.
"Mbak Embun tahu meriam dari siapa?"
"tadi Buna bicara ke Om Anta kalau semalam perang pakai meriam " Aurora melotot mendengar ucapan Embun, senjata makan tuan.
"tuh kan Mama aku ga salah Mbak Rara aja kali yang mesum semalam habis...aduh...aduh ampun yang mulia"Antariksa kembali dapat jewer di sebelah kiri telinganya.
Semua orang tertawa hiburan pagi ini sungguh mereka tidak pernah menyaksikan drama langka ini. Bahkan Danu mengeluarkan air mata melihat tingkah Antariksa.
"kami nanti sore kembali ke Jakarta karena aku hanya mengambil cuti satu hari, Papa dan Mama bagaimana ikut bersama kami"
"Prabu dan Ditha duluan saja kami mungkin besok kembali ke Jakarta Arumi dan Embun ikut kami aja karena Papa mau ke Surabaya dulu" Danu memberi waktu berdua untuk anaknya dan menantu Ia melihat Aurora masih canggung bersama Prabu.
"Ditha jangan lupa pake yang gue kasih kemaren" Ucap Serena berlalu meninggalkan Aurora dan Prabu.
🌹🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE
__ADS_1