
Prabu PoV
malam ini aku mendapatkan pesan dari sekretaris ku jika Kalandra Tecno mengadakan jamuan makan malam, aku keberatan untuk pergi makan malam dengan pihak investor Jepang, aku berpikir lebih baik aku makan malam bersama istriku.
"Bro ayo kita pergi makan malam....ini awal kerjasama yang bagus dengan pihak investor asing....kita pergi bersama jangan takut lu....nenek gayung nanti gue amankan." Bayu masuk ke ruangan ku, ia akan menemani acara perpisahan dengan investor Jepang.
"Ya udah aku siap-siap dulu...kamu dan yang lainnya tunggu di lobby." aku menyuruh Bayu menunggu di lobby karena aku ingin memberitahu kepada Aurora jika aku tidak bisa menjemputnya.
aku mendapat balasan dari Aurora hanya satu kata "ya" aku tercengang balasan yang tidak pernah muncul dalam benakku, ia seperti kesal. Aku mencoba menelpon dia namun baterai ponselku habis, aku akan mencoba menghubungi dengan ponsel Bayu.
Kami pergi sebanyak lima orang dari utusan Kalandra Tecno, Aurora sebagai penanggung jawab server rancangannya digantikan Andi Plt manajer IT.
Masuk restoran Jepang aku sudah merasa gelisah, aku terpikir jawaban Aurora. Aku takut dia marah karena aku pergi dengan Diani, Aku menyadari setiap Diani berada di dekatku Aurora memperlihatkan rasa cemburunya terhadap perempuan itu.
"Mas Prabu aku temani minum ya....udah lama kita ga minum bersama...Mas Bayu dan Mas Soni ayo gabung....ini perdana kerja sama dari pihak asing." Diani menarikku duduk disampingnya, Bayu langsung pasang badan ia tidak akan segan mengusir Diani yang ingin selalu memanfaatkan keadaan.
"Saya ga minum....aku pesan jus mangga....kamu jauh-jauh dari saya....saya elergi berdekatan dengan kamu." Aku sudah jengah dengan tingkah Diani, Ia mengalah duduk didekat Andi.
Kami semua membahas projects selanjutnya bersama pihak investor, aku duduk ditengah diapit Soni dan Bayu, ketika selesai makan pihak investor mengajak kami untuk menikmati Sake.
"Mr Prabu untuk kelancaran projects kita mari bersulang.....Kampaiiiii." Yamakata sebagai perwakilan pihak Jepang mengangkat gelasnya, aku terpaksa mengikuti ajakan mereka.
__ADS_1
Soni beranjak dari duduknya karena ia mendapat panggilan alam, karena kursi yang diduduki Soni kosong Diani langsung mengambil kesempatan.
"Akhirnya....Mas Prabu aku kangen tahu pergi seperti ini." Diani sudah mulai menempelkan tubuhnya, dasar wanita murahan ia anggap aku akan tergoda.
"Lepaskan tangan kamu dari tubuh saya...kamu hanya hama bagi saya yang harus dibasmi." aku mengibaskan tangan menyuruh ia beranjak pergi, Diani tidak mau beranjak tapi ia melepaskan tangannya dari lenganku.
Ia menuangkan Sake ke dalam gelas milikku, dalam budaya Jepang jika Sake sudah dituangkan maka kita harus menghormati yang punya acara, aku terpaksa meminum Sake yang mempunyai kadar alkohol sepuluh persen.
Aku berdoa dalam hati jangan sampai aku fly berusaha tetap waras, Bayu tampak sibuk dengan ponselnya. Aku sudah tidak ingin minum lagi aku takut Aurora mengetahui jika aku minum.
"Mas Prabu ternyata tahan juga dengan alkohol udah lama ga ya....Nanti aku yang antar Mas Prabu pulang." Diani mengusap tanganku dengan abstrak, aku langsung mencubit tangan wanita ini beraninya dia, Bayu tertawa melihat Diani meringis menahan sakit.
Tiba-tiba pintu terbuka seorang wanita memakai serba hitam masuk keruangan yang sedang kami pakai. Aku terpana jika Aurora bisa masuk tanpa halangan padahal diluar dijaga dua orang bodyguard.
"Kita pulang" Ia menarik lengan tanganku diletakkannya disisi bahunya sedangkan tangannya melingkar di pinggangku, aku telah berbuat dosa kepada istriku bahkan ia berucap dingin ketika sampai dikamar kami.
Aurora dengan sigap merawat ku yang muntah akibat terlalu banyak minum Sake, ia tidak jijik dengan muntah yang aku keluarkan, aku kasian melihat dia yang masih memakai Stiletto.
tubuhku terasa lemas akibat cairan dalam tubuhku keluar banyak, aku tertidur hingga menjelang pagi ketika aku sadar dalam tidurku kepala ini masih berdenyut merasakan pusing akibat pengaruh alkohol. Aku melihat penampilanku memakai baju kaus dan celana piama ini pasti Aurora yang menggantikan pakaianku.
Aku mencari keberadaan Aurora, apartemen ini sunyi tanpa aktivitas bisanya Aurora menungguku di ruang makan, Aku mencari keseluruhan penjuru nihil Aurora tidak ada disini. Aku menemukan note di atas meja makan, Aurora butuh waktu sendiri dan dia mengatakan kecewa kepada diriku.
__ADS_1
"Aurora bagaimana Abang menjelaskan jika tadi malam Abang berusaha menghindari Diani." Aku frustasi setelah membaca note dari Aurora, berbagai macam makanan terhidang di meja makan, aku tahu pasti Aurora yang membuatnya untukku.
Aku memakan Sup ayam yang masih panas memakan secara perlahan, dalam setiap kunyahan aku memikirkan memberitahu Aurora jika yang dilihatnya tadi malam itu semua ulah Diani.
Aku harus menemuinya ke kantor Sara Grup, masuk ke kamar mandi aku melihat baju bekas muntahan dan waslap yang terletak di dekat keranjang kain. Wajahku mengeras gara-gara wanita sialan itu aku harus membujuk Aurora.
Kaca yang dihadapan ku langsung retak, aku merasakan darah segar mengalir dalam sela jari tanganku. Aku hancur gara-gara minum laknat ini, jika saja aku menggutus Dimas menggantikan acara itu pasti sekarang aku dan Aurora sedang bermesraan dalam kamar mandi ini.
Aku langsung menuju kantornya yang tidak jauh dari apartemenku, masuk keruangannya pemandangan yang menyayat hati, kepala Aurora telungkup bertumpu dengan tangannya bahunya bergetar menandakan jika ia sedang menangis.
"Saya sudah bilang rapat diundur kenapa kamu masuk." Aurora mengangkat kepala karena mendengar pintu terbuka, Ia membuang muka melihat kedatanganku.
"Ra....Abang bisa jelasin apa yang terjadi semalam....Apa yang kamu lihat semua kerjaan Diani....Abang duduk bersama Soni dan Bayu karena Soni pergi ke toilet Diani memanfaatkan keadaan....Rara Abang salah....Kamu melihat kembali Abang sedang mabuk." Aku mencoba menjelaskan keadaan yang aku alami semalam, Ia bahkan tidak menghiraukan ucapan ku.
Aurora menarik laci meja mencari sesuatu berjalan ke arahku, Ia mengambil tanganku dan memberikan alkohol untuk mengobati luka tanganku menutupi dengan perban.
"Saya butuh waktu sendiri... silahkan keluar." Ia bangkit dari duduknya dan masuk keruangan istirahat dan langsung menguncinya. Aku terpaku Aurora berbicara formal dan tidak menatap bola mataku.
Aku menghembuskan nafas panjang, bagaimana jika dia tidak kembali ke apartemenku, tapi aku tidak sanggup melihat kesedihan yang sangat kentara diwajahnya. Aku memutuskan menjemput Arumi dan Embun jika ia masih tidak mau menemui ku, anakku yang akan menjadi penghibur kegundahan hati ini.
Arumi dan Embun senang aku ajak pergi ke taman bermain di mall pondok indah, keduanya ingin tidur di apartemenku, akhirnya aku membawa kedua anakku menginap di apartemen. Jika keduanya menanyakan keberadaan Buna mereka, aku akan mengatakan jika Aurora menginap di rumah Mama Sarah.
__ADS_1
Ketika aku masuk ke apartemen ini terdengar dentingan piano siapa malam-malam main alat musik. Bulu kudukku berdiri, kami bertiga bisa mendengar melodi Hana Eyes milik Maksim.
Aurora begitu larut dalam permainannya ia menutup mata sambil terus memainkan piano. "Aurora" Ia tersentak mendengar suaraku, Aurora berhenti memainkan tuts piano, Ia berdiri dan langsung masuk ke kamar Embun dan Arumi.