Aurora Marriage

Aurora Marriage
Bilal Yusuf Radityo


__ADS_3

David dan Celine sama-sama bungkam tidak tahu bagaimana menyampaikan fakta bahwa Arsya memiliki ayah biologis, ini hak Celine jika ingin mengatakan jika David adalah ayah biologis Arsya.


"Ayah boleh bertanya...sebelum dokter ke sini?" Andi yang masih berada di samping Arsya mencoba menebak isi mimpi anak itu.


Arsya mengangguk sebagai jawaban, matanya tidak lepas dari sosok David yang berdiri tidak jauh dari ranjangnya.


"Kalau Om David memang ayah kandung Arsya gimana? Apa kamu marah karena selama ini meninggalkan Arsya dan Mommy."


Arsya menggeleng kepala, dia hanya ingin memiliki seorang ayah yang akan datang suara hari nanti dan mengatakan jika dia pahlawan Arsya dari tindakan teman-temannya.


"See...Bapak David bisa lihat kan jawaban Arsya....Saya dan Celine sudah lama menantikan Bapak yang akan mengatakan langsung."


Celine sejak tadi diam seribu bahasa, dia tidak ingin membuka luka lama. Biar David yang menanggung dosa masa lalu mereka, masa depan Celine sudah bersama Andi Martalova.


Bismillahirrahmanirrahim ucap David dalam hati, sekarang dirinya merasakan devaju apakah Arsya bisa menerima perilaku buruknya di masa lalu.


"Hai...Ganteng....Om di sini...kamu pasti kuat...kita akan pergi jalan-jalan bersama...sudah lama Om menantikan hari ini." Hembusan nafas lirih pria itu menambah kesan sunyi ruangan itu.


"Aku tadi mimpi Om David ayah yang selama ini aku tunggu...tapi Om ga mau menggapai tangan aku...Om terus menggeleng." Air mata Arsya turun tanpa komando, dia sudah lama merindukan sosok ayah kandungnya.


"Maafkan Papa nak...datang terlambat... Papa ayah tidak baik...Papa melupakan kamu...tujuh tahun Papa melupakan kamu." Suara tangis David beriringan dengan suara alat di ruangan ini.


"Aku rindu Papa David...may hug me." Arsya merentangkan tangannya.


"Papa akan menebus kesalahan Papa selama ini nak." Air mata David jauh ke pipi Arsya.


Tiga dokter masuk ke ruang perawatan Arsya, Sifa, Emilia dan seorang pria paruh baya. Ketiga masuk untuk memeriksa kondisi Arsya setelah operasi.


"Anak ganteng udah bangun...rame ya...dokter boleh ga kenalan dulu." Emilia menyapa Arsya yang melepaskan pelukan David.


"Nama aku Arsya Rahman... sekarang aku sedang bahagia karena Papa aku udah pulang dari misi luar angkasa." Wajah bahagia Arsya menceritakan pertemuannya dengan David.


"Wah...senang ya...Papa Arsya udah pulang....nah sekarang dokter mau lihat kondisi kaki Arsya dulu ya." Emilia mendekati ranjang Arsya, Andi dan Celine menggeser agar lebih mudah dalam pemeriksaan.


"Dokter Radi...Arsya memiliki elergi...itu kenapa saya mengajak dokter ikut visit ke sini." Emilia berbicara dengan dokter gizi senior di rumah Sakit ini.

__ADS_1


David sejak tadi sibuk menghapus air mata bahagianya karena Arsya mengakui dia sebagai ayah yang selama ini ditungguinya. Pria itu menoleh ke arah dokter senior yang bernama Radityo tersebut.


"David...Ayah." Kedua kompak menyebut panggilan masing-masing.


"Dokter Radi kenal dengan Papanya Arsya?" Emilia dan Sifa terkejut jika dokter senior itu mengenal David.


"David anak kandung saya...anak pertama saya." Radityo sudah lama tidak bertemu David sejak perpisahannya dengan ibu David.


Semua orang terdiam mendengar fakta yang baru saja diungkapkan dokter gizi ini, Celine tak kalah terkejut jika David memiliki orang tua darah Jawa.


"Hei....boy....pasti kamu tidak menyukai telur seperti papa Kamu." suara Dokter Radi memecah keheningan akibat fakta yang baru saja keluar dari bibirnya.


"Kok kakek tahu....dokter maksud aku." Arsya memamerkan gigi putih yang berbaris rapi, untuk menutupi kesalahan panggilannya.


"Papa kamu dulu... selalu menyisihkan telur... kacang-kacangan di tepi piringnya....Dokter ingat kebiasaan Papa kamu satu itu...dia elergi telur dan kacang-kacangan."


"Aku juga tidak menyukai bubur kacang merah....jadi benar dong Papa aku Om David kami memiliki banyak kemiripan."


Radityo yang menoleh ke arah David, dia butuh penjelasan tentang kehidupan anaknya ini, sejak perpisahannya dengan Ibu kandung David, Radi kehilangan akses untuk bertemu dengan David. Charlotte ibu kandung David menutup Akses komunikasi karena Radi meminta David mengikuti agama yang dianut oleh Radi.


"Suster...nanti berikan laporan tentang Arsya kepada saya, dokter Radi dan Dokter Sifa kami akan mendiskusikan makanan terbaik untuk Arsya pasca operasi." Emilia tahu jika dokter senior gizi pasti ada hubungannya dengan David.


"Tante cantik kok diam terus sih....ga ikut juga periksa aku?" Arsya melihat Sifa yang terdiam sejak tadi.


"Tante udah ikut perang tadi bersama dokter lain... sekarang Tante ingin lihat perkembangan kaki kamu setelah operasi."


"Kenapa aku ga di ajak...pasti seru kan." Seru Arsya yang tampak semangat.


"Ya udah kamu bertiga pamit dulu bapak ibu...Arsya ganbatte ya." Si dokter bedah anak itu pergi meninggalkan keluarga kecil itu.


"Boy.....Papa pamit dulu...mau tanya makanan yang enak untuk kamu makan nanti." David harus bertemu dengan ayahnya kandungnya yang sudah lama tidak bertemu.


"Mas Andi... Celine saya pamit keluar...saya minta tolong untuk menjaga Arsya." David meninggalkan Celine dan Andi yang sejak tadi menatap tak percaya jika David masih keturunan Jawa tulen.


perasaan David bergemuruh, dia takut ayahnya akan menghakimi perlakuan yang memiliki anak di luar nikah. Ruangan Radityo berada di lantai lima, dr. Radityo Sp GK. tertulis di pintu masuk ruangan pria paruh baya itu.

__ADS_1


tok...tok...


"Masuk" Suara Radityo yang menyuruh David masuk tabuh di jantung David semakin kencang.


David masuk ke ruangan ayah kandungnya, terlihat banyak buku-buku tentang gizi, dia melihat Sifa duduk di sofa panjang ruangan Radityo.


"Terima kasih kamu telah membantu operasi cucu Om...nanti Om mau ajak Abi dan Umi kamu makan di tempat biasa...jangan lupa pesan Om ya Sifa." Ternyata Radityo sedang berbicara dengan Sifa saat kedatangan David.


"Udah jadi tugas aku Om Radi....Sifa pamit dulu mau ke ruangan Umi...Abi ke sini mau ikut makan siang bersama." Sifa berpamitan karena tidak ingin menganggu pertemuan ayah dan anak itu.


Sifa keluar ruangan Radityo tanpa melihat ke arah David, perempuan berjalan sambil menunduk.


"Duduk David."


"Kenapa muncul lagi....Ayah meninggalkan aku bersama mommy dulu... sekarang ayah mengakui aku sebagai darah daging ayah." Cecar David di hadapan pria tua ini.


"Selain meninggalkan kamu....apalagi kebohongan yang diciptakan Mommy kamu itu."


"AYAH...aku masih menghormati pria yang meninggal aku dulu...Mommy berjuang menghidupi aku... menyekolahkan aku...Ayah tidak berhak memburukkan ibu kandung Aku." Suara David tercekat mendengar tuduhan yang tidak mendasar ayah kandungnya.


"Bilal Yusuf Radityo...itu nama kamu ayah berikan waktu kecil...Anak yang selama ini ayah tunggu kehadirannya....Ayah tidak meninggalkan kamu nak....Kamu berumur tujuh belas tahun memilih pergi bersama Mommy kamu....dia tidak menyukai agama ayah....waktu kami menikah dia akan berjanji akan hidup sejalan dengan agama yang ayah yakini....tapi setelah kepulangan dia dari Jerman... Mommy kamu meminta ayah menceraikan dia...dia tidak bahagia dengan Ayah...agama ayah sangat mengekang kehidupan bebasnya selama ini." Radityo menghapus air mata yang meleleh di pipinya, mengenang nasib kehidupan pernikahannya bersama Charlotte.


"Dia mengganti nama Kamu dengan David Morales...nama keluarga kandung Charlotte....Ayah kesulitan untuk bertemu kamu...dia merubah semua dokumen kamu nak... Charlotte menutup akses ayah untuk bertemu kamu dengan hidup berpindah-pindah....Hati ayah hancur... dipisahkan paksa dari anak kandung....ayah ikhlas kalau berpisah dengan Mommy kamu...tapi ayah tidak terima ikut campur keluarga Charlotte dengan hidup kamu...Mereka sejak awal tidak menyukai hubungan ayah dengan Mommy kamu."


Nafas David memburu mendengar cerita ayah kandungnya, ibunya tega memisahkan dia dengan Radityo. David ingat ketika meminta ingin bertemu Radityo, ibunya melarang kerena ayahnya tidak menyukai David hidup bebas.


Awalnya Charlotte membawa pergi David ke Jerman negara asal Charlotte, lalu berpindah ke Belanda agar Radityo tidak bisa bertemu dengan buah hatinya terakhir Charlotte pindah ke Amerika bersama suami barunya.


"Jika memang ayah melupakan kamu....ayah tidak mungkin mengenal kamu di ruangan perawatan Arsya tadi...Anak kamu mirip sekali dengan kamu nak." Radityo mengambil pigura foto yang selalu setia menemani ketika dia beraktivitas.


David melihat fotonya bersama Radityo pergi ke mesjid agung Demak, ketika dia berumur lima belas tahun. Ayahnya sangat menyukai wisata religi, David tentu sangat suka pergi dengan Radi, pria itu bisa melihat arsitektur bangunan kuno.


"Arsya sangat mirip dengan kamu waktu kecil nak." Radi mengambil foto usang yang selalu tersimpan di dalam dompetnya.


"Ayah maafkan Yusuf...ayah... Yusuf berdosa berprasangka buruk kepada ayah." David berdiri lalu berjalan ke arah Radityo.

__ADS_1


"Anak ayah kembali....Allah mempertemukan kita dengan cara Nya....Yusuf anak ayah."


__ADS_2