
David memberanikan diri untuk berkata jujur, dia akan menerima akibatnya. Semua sudah diatur oleh yang maha kuasa, jika Sifa membatalkan pernikahan ini, itu sudah hak Sifa karena merasa tertipu oleh David.
"Aku....aku." Sifa menanti kelanjutan ucapan David. "Aku impoten." David menutup mata menanti reaksi Sifa.
"Mas yakin? kalau impoten kenapa ada Arsya?" Tanya Sifa, dia tak yakin seorang David lemah keperkasaan, kurang percaya diri.
"Aku di diagnosa setelah kelahiran Arsya...Ketika cek kesehatan di Kanada."
"Buka." Titah Sifa.
"Apa yang mau di buka Sifa? Pernak pernik baju kamu?" David mendadak otak pintarnya berkurang mendengar ucapan Sifa.
Sifa berdiri, dia akan memeriksakan langsung alat tempur David. Perempuan itu berjalan ke kamar mandi, melepaskan semua pakaiannya, mengambil baju yang mudah untuk bisa menganalisa alat tempur David.
Tak lama Sifa keluar dari kamar mandi, dia tidak lagi memakai baju akad nikah tadi. Jakun David naik turun melihat bentuk tubuh Sifa yang terbuka di hadapannya.
"Duduk Mas." Perintah Sifa menarik David ke tempat tidurnya.
"Kamu mau ngapain? Aku udah pasrah kok...jangan memaksakan diri." David menahan tangan Sifa yang ingin membuka sabuk pengaman celananya.
"Tugas istri menyenangkan suami kan? Aku yakin Mas udah ga tahan pengen blo-w job." Sifa tidak butuh waktu untuk membuka penutup alat tempur David.
__ADS_1
"Panjang dan besar...yakin punya kamu loyo Mas." Sifa menyentuh pusat tubuh David. "Kokoh sekali batangnya." komentar Sifa.
David tak bisa menahan erangannya, apalagi tangan Sifa memanjakan kejantanannya. Wanita itu seperti ahli dalam hal satu ini.
"Sifffffaaaahhhhhh....enak sayang." Desah David saat mulut Sifa menjilati kepala alat tempur David.
Sifa melihat ke arah David, dia akan memastikan berapa lama ketahanan kejantanan David untuk bisa mencapai pelepasan.
Sifa mencoba berbagai teknik, tangannya ikut memanjakan kedua bola milik David. Memberikan rangsangan berbagai sudut batang keras milik David.
Lama Sifa melakukan tugas sebagai istri, dia merasa takjub akan keperkasaan David belum mencapai puncak kenikmatan, padahal mulut dan tangannya sudah kebas untuk memanjakan tongkat kepustakaan David.
Sifa cepat bisa mengimbangi cumbuan yang berikan David, lidah keduanya saling membelit satu sama lain di dalam rongga mulut masing-masing. Berbagi Saliva, mengecap rasa bibir satu sama lain.
Sifa mengangkat kepalanya ketika David menjilati lehernya, memberi tanda kepemilikan. Tak lupa tangan pria itu sudah berada di atas dada Sifa.
"Besar juga...ga sabar melihat punya istri aku." Sela David membuka kaitan penutup buah dada Sifa.
"Berapa ukuran kamu sayang." David menangkup salah satu buah dada Sifa.
"36 Cub D" Kepala Sifa pusing akibat godaan yang berikan David.
__ADS_1
"Tegang...kokoh di posisinya." David meremas daging kenyal milik Sifa. "Pengen aku makan semua buah pepaya kamu sayang." David melahap kedua buah milik Sifa.
"Maaasssss." Sifa susah menjaga keseimbangan tubuhnya, kejantanan David yang tidak tertutup bergesekan dengan pusat tubuhnya.
"Gerak Sifaaaaaah." Perintah David, pria itu menggeser segitiga milik Sifa, membuka sedikit celah agar bisa kepala bagian bawahnya mencium aroma bibir bawah Sifa.
"Sesak....Maaaaaasssss." Sifa tersiksa atas perlakuan David, kenikmatan yang belum pernah ia dapatkan selama ini.
"Cium Mas...sayang...agar kamu bisa menikmati ini." Sifa dengan cepat menyambar bibir David.
Baru kali ini David merasakan nikmatnya pacaran halal, walaupun tidak melakukan penyatuan alat reproduksi, tapi David bisa merasakan jepitan bibir bawah Sifa yang kuat.
"Sifaaaaaah....aku mau sampai." David meremas bokong Sifa, tubuhnya merasakan kelegaan.
"untuk sampel di Labor nanti." jari Sifa mengambil lelehan susu kental milik David.
"Enak Mas." Sifa tak malu menjilati tangannya yang masih ada susu kental manis milik David.
"Aku sayang kamu... Anashifa Yusuf." David menutup dengan ciuman panas bersama Sifa.
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1