
Aurora merasakan jika tidurnya terganggu akibat ada goncangan. Ia pikir gempa ternyata tidak, melihat suaminya yang sibuk menggaruk lehernya.
"Abang Gaza bangun.....Abang kenapa?" Aurora menggoncang tubuh suami yang masih menutup mata.
"Ahh.....Gatal leher Abang Rara." Prabu membuka mata sambil terus menggaruk lehernya, suaranya naris hilang seperti habis orasi di depan gedung DPR.
Aurora membuka baju suami melihat banyak ruam diseluruh tubuh Prabu. "Abang Gaza kena Elergi? Tadi makan sup punya aku." Aurora teringat sup kesukaannya ada ebi sebagai pelengkap.
Prabu terus menggaruk seluruh tubuhnya. Aurora mencari tasnya biasanya ia akan membawa obat pereda elergi. "Abang minum ini....Mama sering menyuruh aku membawa obat pereda elergi jika terjadi sesuatu." Aurora memberikan obat dan air putih untuk suaminya.
Prabu mengambil obat dan air putih meminum sekali teguk. "Abang jangan digaruk lagi....itu udah berdarah....ini kenapa elergi menjadi parah." Aurora menatap khawatir kondisi suaminya, bibir Prabu mulai membengkak akibat elergi.
"Abang juga ga tahu...perasaan jika makanan tadi ga ada udang atau seafood di dalamnya." Prabu kembali memasang bajunya, bibirnya seperti disengat lebah. "Rara bibir Abang udah sexi belum seperti Kelly Jenner." Prabu memperhatikan bibirnya dari kamera ponsel.
Aurora tertawa sedih dia khawatir dengan kondisi Prabu, suaminya masih sempat bercanda. "Besok kita ke rumah sakit ya Abang....Aku takut akan memburuk kondisi kesehatan Abang." Aurora mengusap bibir tebal Prabu.
"Ini sering datang jika Abang termakan makanan yang mengandung seafood...Kamu jangan khawatir tadi udah minum obat pereda elergi." Prabu mengajak Aurora kembali tidur, jam masih menunjukkan pukul dua dini hari. "Kamu cantik jika pakai daster rumahan." Prabu bergumam sambil menutup mata, ia merasakan mata berat setelah minum obat tadi.
Aurora tersenyum sedih suami masih sempat mengeluarkan gombalan receh. Saat ini perasaan tidak karuan melihat kondisi Prabu. Aurora menutup mata karena mengantuk berat. Keduanya berpelukan memberikan kekuatan satu sama lain.
"Huek....huek..." Aurora kembali terbangun mendengar suara pilu suaminya yang berada di kamar mandi. ia segera turun dari tempat tidur. Diusapnya teguk suaminya agar cepat menyelesaikan drama pagi ini. Wajah suaminya sangat pucat mengeluarkan keringat dingin.
"Abang Gaza kita ke rumah sakit sekarang ya....Aku ga sanggup lihat Abang menderita." Suara Aurora tercekat menahan tangisnya melihat Prabu mengeluarkan isi perutnya.
"Sayang kamu tolong pesan jahe panas....Abang cuma mau dirawat di rumah saja....Abang ga kuat bau Obat-obatan dirumah sakit." Prabu menghidupkan kran air membasuh mulut dan wajahnya.
__ADS_1
Aurora menelpon service room untuk mengantarkan jahe panas untuk suaminya. Prabu keluar dari kamar mandi kembali masuk ke dalam selimut. "Abang Gaza ruamnya udah hilang.... bibirnya ga bengkak lagi." Aurora memperhatikan bekas garukan suaminya.
"Abang mungkin kelelahan Ra....Dua hari ini jadwal kita padat sebagai artis dadakan." Prabu menutup mata merasakan pijatan Aurora dipundaknya. "Ditambah pertandingan ditengah malam." wajah Aurora langsung merona mendengar ucapan Prabu.
Tak butuh lama jahe panas pesanan Aurora sudah datang. "Abang Gaza minum ini dulu....Kita siap-siap pulang....kita akan dijemput Pak Maman." Aurora mengansur air jahe panas ke bibir Prabu. "Terima kasih Rara." Prabu mengacak rambut istrinya yang kusut.
Aurora dan Prabu check out setelah selesai sholat subuh. Keduanya akan pulang ke apartemen. Embun dan Arumi berada dirumah Raditya untuk meminta oleh-oleh dari Atuk mereka.
"Abang mau makan apa? Abang belum makan dari tadi." Aurora menghampiri Prabu yang tidur di kamarnya, Prabu memilih beristirahat ketika weekend.
"Abang kepengen rendang buatan kamu..... sepertinya enak." Prabu mengubah posisi tidurnya menghadap Aurora yang sedang berdiri.
"Dagingnya habis....Rendang telur bahannya juga kurang....aku ke pasar dulu....udah lama ga masuk pasar tradisional." Aurora tadi sempat melihat isi kulkas sudah hampir habis semuanya.
"Abang temani kamu kesana.....Abang udah kembali segar melihat kamu berpakaian seperti itu kalau dirumah." Prabu langsung masuk ke walking closed mengambil jaket.
"Rara... Pahala untuk membahagiakan suami." Prabu muncul dengan memakai jaket dan masker ia bersiap untuk menemani Aurora berbelanja.
"Iya....Aku kan malu....udah sana keluar aku mau ganti baju dulu." Aurora mengusir Prabu yang masih menatapnya dengan mesum.
"Rara sering-sering seperti ini jika kita berdua ya....Aku akan betah berada dirumah." Prabu mencolek dagu Aurora sambil keluar dari kamarnya.
"Apaan sih...dari kemaren usil terus." Ucap Aurora cemberut sambil mencari pakaian yang sesuai untuk pergi berbelanja.
Keduanya pergi ke pasar tradisional menurut Aurora jika berbelanja di pasar lebih murah dan segar. Ia sudah biasa keluar masuk pasar tradisional menemani Oma Sekar dulu.
__ADS_1
Prabu kagum dengan istrinya, Aurora tidak merasa risih masuk ke pasar tradisional. Aurora lebih nyaman berbelanja disini dibandingkan dengan supermarket menurutnya.
"Abang Gaza aku mau buat Es campur....nanti bantuin untuk mengupas buahnya." Aurora sibuk memilih buah-buahan segar. Prabu hanya mengangguk pasrah ia sudah lelah menemani Aurora berbelanja.
Aurora lebih suka berbelanja dengan tawar menawar, dipasar tradisional semua bahan lebih segar ini keuntungan jika berbelanja disini. Orang-orang tidak menyadari jika keduanya orang berpengaruh, Aurora dan Prabu hanya memakai sandal jepit dan masker tidak ada kesan mahal yang melekat dalam diri keduanya.
Hampir satu jam Prabu menemani Aurora berbelanja. "Rara mau Abang bantu untuk membuat rendangnya?" Prabu menghampiri Aurora yang tegah asyik dengan berbagai bumbu dapur.
"Ga usah....Abang nanti istirahat aja....masih kuyu....tapi maksa mau tetap ikut bersama aku." Aurora memasukkan belanjaan ke bagasi mobilnya.
"Abang takut nanti kamu tersesat....lihat pasarnya aja ramai." Prabu berkilah ia tidak mungkin membiarkan istrinya mengangkat barang berat.
Ketika sampai di apartemen keduanya mulai mengeksekusi berbagai bahan makanan yang akan dibuat. Prabu membantu Aurora membuat sup buah kesukaannya.
"Rara pertanyaan kamu semalam belum Abang jawab ya?" Prabu belum menjawab apakah ia siap jika Aurora hamil atau tidaknya.
"Iya belum dijawab....semalam aku bertanya namun dijawab bunyi suara perut Abang yang meronta-ronta ingin di isi." Aurora menghidangkan rendang buatannya dimeja makan.
"Abang pasti bahagia sebentar lagi rumah tangga kita akan ramai dengan suara bayi...Embun dan Arumi pasti senang memiliki adik baru." Prabu tersenyum membayangkan ia akan memiliki kembali anak dari cinta pertamanya.
"Aku ga tahu sekarang isi atau tidaknya.....jika banyak pekerjaan siklus mentruasi aku akan berantakan....kita juga belum menanyakan kesiapan Embun dan Arumi menerima adiknya nanti." Aurora menatap Prabu untuk memberikan solusi menghadapi ini.
"Abang akan menunggu dengan sabar agar kamu hamil anak Abang." Prabu tahu jika Aurora ragu jika ia saat ini hamil, Ia juga berpikir terlalu cepat jika Aurora hamil anaknya.
"Jika nanti aku hamil Abang ingin anak laki-laki atau perempuan?" Aurora mengalihkan pembicaraan ini, Ia sepertinya harus menghibur Prabu yang terlihat sedih mendengar argumentasinya tadi.
__ADS_1
🌹🌹🌹
To to continue....Jangan lupa vote like dan komentar pemirsa Aurora Marriage 😊