Aurora Marriage

Aurora Marriage
Bertemu Keluarga Baru


__ADS_3

Hari ini jadwal pelepasan gips pada kaki Arsya, Selama dua pekan David terus menemani Arsya, bocah itu bahagia David selalu berada bersamanya.


"Papa....Nanti aku bisa ga jalan normal?" Ada kekhawatiran Arsya setelah pasca operasi karena kaki sebelah kanan belum bisa bergerak karena menggunakan gips.


"Tentu...tapi kita dengar dulu saran dokter ya Boy....Papa takut kaki kamu tambah cedera." David dengan telaten mengurus Arsya dari memandikan hingga makan, dia turun tangan langsung.


Masuk tiga dokter yang memantau perkembangan Arsya. Radityo, Emilia dan Sifa ketiganya ingin memeriksa keadaan Arsya, Sifa membawa hasil radiologi bagian kaki Arsya.


"Hai ganteng....gimana kabarnya?" Ucap Sifa memulai percakapan.


"Baik Tante....Aku bahagia Papa David selalu bersama aku."


Ketiga tertawa mendengar ucapan polos Arsya, anak itu seperti melupakan kondisi kakinya yang segera di periksa.


"Maaf sebelumnya saya ingin menyampaikan hasil perkembangan kaki Arsya...Saya ingin berbicara dengan Kedua orang tua Arsya." Sifa tidak melihat keberadaan Celine.


"Maaf dokter Sifa...Ibu Arsya tidak bisa datang...kemaren dia jatuh pingsan...mungkin kelelahan mengurus Arsya dan pekerjaannya." David mendapat pesan dari Andi jika sore kemaren ketika akan bergantian menjaga Arsya, Celine jatuh pingsan di ruangan Andi.


"Ya udah...kalau begitu kondisinya...saya sampaikan saja ke Bapak David sebagai ayah Arsya....Dari hasil pemeriksaan Arsya harus beristirahat...setelah gips ini di lepas...jangan terlalu banyak beraktivitas... konsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin." Sifa menyerahkan kepada David hasil laboratorium Arsya.


"Ayah sudah tulis resep obat-obatan untuk Arsya... menambah napsu makan...dan di sini juga banyak vitamin membantu penguatan kondisi tulang yang retak." Radi menyerahkan resep obat yang akan David tebus nantinya.


"Terima kasih Ayah dan dokter Sifa... terakhir pelepasan gips aku berterima kasih kepada Umi...sudah banyak membantu Arsya."


"Di balik musibah ada hikmah ya David....Umi dengar dari cerita dokter Radi...nama kecil kamu Yusuf ya....Umi panggil Yusuf kalau gitu...lebih enak di dengar." Emilia menyiapkan peralatan untuk membuka gips pada kaki Arsya.

__ADS_1


"Hampir lima belas tahun berpisah dengan Ayah....Mommy saya sengaja mengganti nama saya dengan David Morales."


Sifa menyimak percakapan ibunya dengan pria yang entah sejak kapan selalu ada dipikirannya. Namun, Sifa tidak ingin menunjukan secara langsung perasaannya kepada David takut pria itu akan merasa minder.


"Arsya....kamu hebat nak... dokter mau lepas alat yang ada di kaki kamu ya." Emilia dengan tenang melepaskan gips yang terpasang di kaki Arsya.


"Pegang tangan Papa...kalau kamu merasa sakit...boleh gigit saja tangan Papa." David memeluk tubuh Arsya, bocah itu seperti menahan sakit.


Emilia di bantu beberapa perawat melakukan tugasnya, tak sampai sepuluh menit gips sudah terlepas.


"Sudah selesai...dokter bangga dengan kamu nak...Kamu pasien Dokter yang ga rewel ketika perawatan...dokter kasih hadiah." Emilia memberikan Arsya action figur yang dibelikan anak sulungnya di Amerika.


Arsya langsung menerima hadiah yang berikan Emilia, Arsya bahagia mendapatkan hadiah dari dokter bedah itu.


"Aku izin dulu kepada Celine...Agar bisa membawa Arsya... Terima kasih undangannya dokter." David mengantarkan kepergian Emillia dan Sifa ke ujung pintu perawatan Arsya.


Sekarang Radi dan David menemani Arsya, pria paruh baya itu sangat senang jika bersama Cucunya. Apalagi Arsya selalu bertanya tentang kegiatan Radi di rumah sakit ini.


"Yusuf....Ayah mau bicara sama kamu." Radi menunjukkan sofa yang berada di pojok ruangan ini.


"Ayah mau bicara apa?" David mengikuti langkah Radityo.


"Ayah sudah lima belas tahun berpisah dengan Mommy kamu...Ayah dulu sangat mencintai Charlotte...apapun keinginan dia ayah turuti...sampai dia meminta berpisah atas permintaan keluarga nenek kamu ayah turuti...Lima tahun ayah berusaha mencari kamu ke berbagai negara tetap saja nihil....Ketika ayah mencari kamu...ayah bertemu seorang perempuan yang malang.... perempuan itu yang akhirnya jadi istri Ayah sekarang....Namanya Cerenina... perempuan itu hampir saja bunuh diri karena depresi akibat perceraian." Radityo menghentikan sejenak cerita kehidupan untuk melihat raut wajah David. "Ketika ayah menikahinya Ceren berumur tiga puluh tahun... Ayah hanya ingin memberitahu kamu...Ceren berniat untuk melihat Arsya...dia sekarang mengajar sebagai dosen di universitas Indonesia."


"Aku tidak masalah ayah memiliki istri yang lebih muda...alasan ayah menyelamatkan nyawa seseorang bagi aku itu sudah ketentuan Allah menemukan jodoh untuk ayah....Aku sebagai anak ayah menerima pilihan orang tuanya... Silahkan jika istri ayah ingin melihat anak aku." David ingin hidup tenang, jika ia menentang pilihan Radityo itu tidak adil karena ibunya juga menikah kembali dengan laki-laki pilihannya.

__ADS_1


"Dia sudah berada di lobby...Ceren bersama adik kamu...Terima kasih sudah berjiwa besar nak...menerima pilihan ayah." Radi mengusap air mata yang berada di sudut matanya.


"Bagi aku darah lebih kental dari air....Ayah juga berjiwa besar menerima aku yang seorang pendosa...memiliki anak di luar nikah...tidur dengan wanita bayaran... hidup bisa aku kendalikan dengan uang." Ucap David lesu, dia sering teringat kesalahan yang dilakukan di masa lalu.


Bunyi suara pintu menghentikan pembicaraan anak dan ayah tersebut. Seorang wanita berhijab masuk dengan sepasang anak kembar, wajah anak perempuan itu sangat mirip dengan David.


"Assalamualaikum." Ceren dan kedua adik David mendekati Radityo.


"Waalaikumsalam...ini yang Aba ceritakan Minggu lalu...anak pertama Aba...Bilal Yusuf Radityo." Radi memperkenalkan David kepada Ceren.


"Assalamualaikum....saya Cerenina...dan ini si kembar Malik dan Sofia."


"Ami....Kenapa wajah Sofia ada versi cowok.... Apalagi rambut kakak ini sama dengan Sofia." Malik menatap lama David yang tersenyum menyambut kedatangan mereka.


"Karena Malik Sofia saudara kandung satu ayah dengan kakak Yusuf....Kakak ini ibunya dari luar negeri jadi berbeda kulitnya dengan Malik dan Sofia." Raditya menjelaskan kenapa warna kulit anaknya berbeda satu sama lain.


Malik dan Sofia tahun ini masuk SMP, Sehingga Radityo ingin memperkenalkan David sebagai anaknya dari ibu yang berbeda agar si kembar mengerti asal usul mereka.


"Kakak ganteng...Aba bilang kakak udah punya anak...boleh aku lihat...kalau laki-laki boleh tuh untuk teman main." Sofia dengan malu-malu meminta David untuk mempertemukan dia dengan Arsya.


"Kamu mau lihat gadis manis...ayo ikut kakak....si Boy lagi tidur...dia dapat mainan baru." David berjalan ke arah ranjang Arsya.


"Ami....lihat cetakan kakak Yusuf...sangat mirip sekali...warna rambut...hidung dan warna kulit...Aku....aku... iri." Teriak Sofia melihat Arsya yang mirip sekali dengan David.


"Kan perpaduan Bule....fia...doakan saja...Abang Malik juga dapat bule nantinya." Jiwa narsis adik David satu ini pasti turun dari Radityo.

__ADS_1


__ADS_2