Aurora Marriage

Aurora Marriage
Selamat Reditha


__ADS_3

Sepulang dari kencan di apartemen, Aurora mengeluh jika tubuhnya merasa lemas dan tidak bertenaga. Baby Az dan Ai saat ini tertidur menemani ibu mereka yang mengeluh sakit.


"Ra...Muka kamu pucat gitu..kita ke dokter ya...Abang khawatir lihat kondisi kamu." Prabu yang sedang bersiap untuk pergi ke kantor melihat Aurora menggulung tubuhnya dengan selimut tebal.


"Ga mau...Aku mau tidur aja...Abang mau kemana?" Aurora melihat Prabu sudah rapi dengan pakaian kantornya.


"Abang mau ke kantor...hari ini launching produk Kalandra Tecno yang bekerja sama dengan Sara Group."


"Ya udah hati-hati...Aku ga bisa antar Abang ke bawah....Badan aku ringkih semua." Aurora membalikkan tubuh menghadap si kembar yang tertidur didekatnya.


Prabu ragu meninggalkan Aurora yang sedang sakit, tapi jadwal launching sudah di atur jauh-jauh hari.


"Telpon Abang jika ada apa-apa ya...Mama di rumah kok....Abang minta bibi bikin sup ayam kesukaan kamu... di makan ya sayang." Prabu mengecup pelipis istrinya.


Prabu juga memberikan ciuman untuk kedua jagoannya, dilihatnya jam di nakas masih jam enam lewat tiga puluh menit. Hari ini ia akan mengantarkan Arumi dan Embun ke sekolah mereka.


Embun sudah masuk sekolah menengah pertama sama, Arumi juga sudah masuk sekolah dasar. Prabu dan Aurora bersepakat untuk memasukkan keduanya sekolah terpadu bertaraf internasional.


"Mama aku titip Rara ya...dia seperti demam...Aku ga tega ninggalin dia namun projects ini udah lama di rancang untuk di luncurkan." jelas Prabu kepada Diana yang sedang menikmati sarapan paginya bersama Embun dan Arumi.


"Papi aku ga mau sekolah...aku mau jagain Buna aja." Arumi yang mendengar ibunya demam langsung menghentikan sarapannya.


"Anak Papi sekarang ujian pertengahan semester....kalau nilainya jelek Buna jadi sedih...Arumi mau Buna sedih?"


"Tapi selesai ujian aku mau langsung pulang ya...jemput pak Maman ya Papi." Arumi sebenarnya berat hati meninggalkan ibunya yang sedang demam.


"Nanti pulangnya bareng Mbak aja....kamu tunggu Mbak dulu...ga lama kok."


Prabu senang melihat Embun dan Arumi bisa diberikan pengertian jika Aurora sedang demam.


"Ya udah kamu sarapan dulu... Mama bikin sup ayam kesukaan istri mu....dia suka makan sup buatan Mama." Diana meninggalkan ketiganya di meja makan menuju dapur.


Setelah mengantarkan Embun dan Arumi, Prabu mencoba menghubungi ponsel istrinya Namun tidak ada jawaban mungkin masih tidur pikir Prabu.


Selama setahun ini ia harus bolak balik Kalandra Tecno dan Sara Group karena Sara dan Kalandra tidak mau melepaskan dia untuk memilih salah satunya sehingga sekarang ia jadi rangkap jabatan.

__ADS_1


"Selamat datang Bapak Prabu Gaza Kalandra...bapak sudah di tunggu di ruangan aula lantai dua belas." Manajer produksi dan pemasaran menyapa Prabu agar mengikuti langkahnya.


Di dalam lift menuju lantai dua belas, pikirannya tertuju kepada istrinya yang sedang demam. Hari ini rasanya seperti setahun lamanya karena ia terus memikirkan keadaan Aurora.


"Silahkan pak...acara akan kita mulai." Prabu duduk di samping Papa Danu.


Projects ini merupakan impian Prabu ingin bekerja sama dengan Sara Group, peluncuran teknologi terbaru yang mereka ciptakan siap untuk di pakai ketika pembangunan sekolah terpadu milik Sara Group.


Celine menjadi penanggung jawab teknik rekayasa perangkat di tunjuk langsung oleh Prabu atas rekomendasi dari Aurora. Andi yang sekarang menjabat sebagai manajer teknologi dan manajemen Kalandra Tecno berkolaborasi untuk menciptakan teknologi sesuai permintaan pihak Sara Group.


David sekarang menjabat direktur pemasaran, dirinya menganggap lebih baik dia berada di manajemen bawah. Dirinya menyukai teamwork daripada menjadi leader.


"Bagaimana Bapak Prabu....Saya yakin dengan apa yang kami tawarkan untuk Sara Group bisa menjadi peluang investasi yang menjanjikan di masa depan." David yang sejak tadi mempresentasikan langkah yang akan di ambil Kalandra Tecno untuk Sara Group.


"Saya menyetujui saran yang saudara berikan....saya tidak meragukan kinerja para staf dan karyawan Kalandra Tecno...untuk itu teknologi yang baru saja diluncurkan ini semoga menjadi awal Kalandra Tecno masuk dalam bidang pembanguan pusat pendidikan yang terpadu."


setelah menyelesaikan kalimat penutup dari pihak Sara Group, Prabu melihat layar ponsel yang hidup sejak tadi. Ada apa ibunya menelpon pagi ini, perasaan tidak enak langsung menyerangnya.


"Assalamualaikum Mama ada apa?"


"Kenapa Prabu? ada masalah di rumah?" Papa Danu cemas melihat rahut wajah anaknya berubah pucat pasi.


"Ditha pingsan Pa....aku mau ke rumah sakit dulu...Papa aku minta tolong untuk close untuk pertemuan ini." Prabu berlari meninggalkan pertemuan ini.


Semua orang yang berada dalam pertemuan ini juga ikut cemas melihat anak pemilik Kalandra Tecno ini berubah pucat setelah menerima telpon.


Danu memberi kode untuk melanjutkan presentasi yang akan segera di tutup, selesai pertemuan ini ia akan menyusul Prabu ke rumah sakit.


Prabu yang kalut membuka jas dan dasi nya, tubuhnya seperti berkeringat karena mengetahui Aurora pingsan. Ia sudah meminta seorang sopir kantor untuk menunggunya di lobby.


"Ayo pak ke rumah sakit kasih bunda." Si sopir langsung mengangguk dan melajukan mob menuju Jakarta Selatan.


Rasa cemas langsung menghantui Prabu, sejak melahirkan si kembar Aurora sangat sehat ia menjaga pola makan, tidak mungkin istri memiliki penyakit. Rasa ketakutan akan kehilangan sangat mendominasi pikiran Prabu.


Dirinya terus berdoa agar bisa bertemu dengan Aurora, Prabu tidak ingin kehilangan lagi belahan jiwanya.

__ADS_1


ketika sampai di rumah sakit tempat Sarah praktek, Prabu langsung berlari ke ruangan tempat Aurora saat ini berada.


Prabu langsung membuka pintu tempat istrinya sekarang, ada dua orang berdiri di dekat tempat tidur Aurora. Mama Sarah dan Mereta, sedang membicarakan sesuatu.


"Akhirnya kamu datang juga...Mama tadi mau menelpon asisten kamu." Sarah bernapas lega melihat Prabu datang.


"Ma...kenapa dengan Ditha..tadi aku tinggal dia tidur....sudah dua hari tubuh Ditha ringkih dan lemas."


"Maaf Mama membuka duluan hasil check up istri mu...selamat ya." Sarah tersenyum memberikan amplop berlogo rumah sakit milik keluarganya.


"Selamat ya Mas Prabu....bakalan rame nih rumah Didit."


Prabu tidak mengerti maksud kedua dokter ini, ia langsung membuka amplop dan membacanya. Istrinya Reditha Aurora dinyatakan positif hamil dua Minggu.


"Alhamdulillah...terima kasih rezekinya ya Allah." Prabu memeluk erat kertas yang baru saja ia baca.


"Abang Gaza....aku kenapa?" Suara teriakan Prabu menyadarkan Aurora dari pingsannya.


"Rara kamu udah merasa baikan? Mama tadi menemukan kamu pingsan di kamar kamu." Sarah langsung sigap untuk mengecek kondisi anaknya.


"Tadinya aku mau telpon balik Abang Gaza....belum sempat aku menghubungi setelsh itu aku ga tahu.


"Selamat ya Didit..bakal ada teman untuk main Kenzo." Ucap Mereta mengengam tangan sahabatnya.


"Ya udah Mama pamit dulu...mau kasih tahu ayah dulu." Sarah dan Mereta meninggalkan Prabu dengan Aurora.


"Abang belum jawab pertanyaan aku...aku kenapa?"


"Terima kasih Reditha kamu menyempurnakan hidup Abang....kita berikan rezeki kembali...kamu hamil anak Abang." Tak terasa tetes air mata haru jatuh ke pipi Aurora.


"Aku hamil lagi...Abang kita akan bertambah anggota keluarga gitu... Alhamdulillah Allah Maha Baik kepada kita." Aurora mengusap perutnya dengan sayang.


Aduh gimana ini si kembar mau punya adik. Jaraknya dekat ya pemirsa tokcer juga benih bapak Prabu Gaza Kalandra.


####

__ADS_1


Mampir ke cerita baru aku Cinta untuk Hira Arinta. Love dan big hug untuk pembaca setia Aurora Marriage.💙💙


__ADS_2