
Aurora membuka mata melihat sisi kirinya pria yang semalam tidak hentinya mengajak menuju nirwana, salah dia juga menggoda pria ini. Ia tidak tahu baju kemeja putih pilihannya membuat suaminya sulit berkonsentrasi dalam makannya ia sering mencuri pandang melihat ke arah aset berharga yang tidak berlapis terbayang jelas dari warna baju yang dipakainya.
"Abang Gaza bangun....udah mau subuh...kita belum mandi besar" Aurora mencoba membangunkan Prabu yang kelelahan menemani Aurora menikmati surga dunia.
"Bentar...Nyawa Abang belum terkumpul semua." Suara serak Prabu khas bangun tidur, Ia membuka mata melihat Aurora tersenyum kepadanya.
"Abang bantu aku kesulitan mau ke kamar mandi." Aurora merasakan bagian inti tubuhnya perih sulit untuk berjalan.
"Semalam kamu buas juga ya Ra....Kamu membuat Abang melayang ke langit ke tujuh...kamu belajar dari mana... perasaan dulu kamu malu-malu kalau Abang kecup kening." Prabu tidak menyangka istrinya banyak menguasai teknik, Ia sampai kewalahan melawan tenaga Aurora.
"Iih Abang kenapa dibahas sih...aku kan malu....ya udah besok Abang aja yang memimpin permainan" Aurora langsung menutup wajah dengan selimut, Ia malu mendengar pujian suaminya. Prabu gemas melihat tingkah laku istrinya semalam ia berani menggoda dirinya.
Prabu bangun dari tidurnya mengangkat tubuh istrinya membawa masuk ke kamar mandi, mandi berdua ritual rutin wajib bagi Prabu setiap paginya. Selama setengah jam kedua mandi kemudian sholat subuh berjemaah.
"Cantik...hari ini kamu jam berapa berangkat?" Prabu bertanya saat ia melepaskan peci dan baju koko, Aurora baru selesai melipat mukenanya.
"Aku berencana mau ke rumah Celine....kemaren aku ga enak meninggalkan dia di ruangan IT." Aurora teringat wajah Celin yang ketakutan ditinggal bersama Andi kemaren.
"Abang antar ya...Abang siang juga ke kantor mau rapat koordinasi kerjasama dengan perusahaan Rusia untuk Minggu depan." Prabu mendapat pesan dari sekretarisnya jika ada rapat koordinasi siang nanti.
"Abang mau bawa bekal....nanti panaskan saja kembali...aku ga bisa ke kantor Abang." Aurora akan memastikan jika kebutuhan suaminya terpenuhi. "Abang mau makan ayam rica-rica buatan kamu" Prabu teringat tadi malam ia mengidamkan makan ayam rica-rica.
"Ya udah aku bikin sarapan dulu."Aurora keluar menuju dapur di apartemen Prabu. Ia melihat semuanya sudah ada terisi peralatan lengkap, bahan makanan pun sudah tersedia disini.
__ADS_1
Tidak butuh setengah jam sarapan untuk kedua sudah tersaji, roti isi kesukaan suaminya dan segelas kopi panas tanpa gula, Prabu keluar dari kamar karena tadi ia mengecek email yang masuk dari pihak investor Jepang.
"Rara ini bukan mimpikan? Abang selalu merindukan makanan ini...dulu hanya roti ini yang bisa membuat Abang bahagia setiap harinya." Prabu melihat makanan di meja makan dengan mata berbinar, Ia menantikan makanan ini setiap paginya.
"Ga Abang...Ayo sarapan dulu.....Abang sekarang lebih berisi ya?" Aurora memandang suami lekat, pipi suami agak berisi tidak seperti pertemuan pertamanya yang terlihat tirus.
"Abang bahagia setiap pagi bangun tidur wanita Abang udah tersenyum....sarapan udah siapkan...siangnya makan ditemani....malamnya berolahraga diranjang..... tidak ada yang kebahagian Abang selain kamu Embun dan Arumi." Prabu menyadari tubuh lebih berisi sekarang dari dulu, Ia bersyukur Aurora bisa memanjakan dia setiap hari.
"Abang Gaza kenapa sih prevert dari tadi....Udah kewajiban aku sebagai istri menyediakan kebutuhan Abang." Aurora cemberut mendengar ucapan suami yang selalu mengarah kesana, ia panas dingin mendengar kata-kata ajaib yang keluar dari bibir Prabu.
"Abang ga mesum Rara tapi takjub dengan penguasaan teknik permainan kamu....darimana kamu dapat begituan" Prabu penasaran dengan istrinya yang begitu ahli dalam teknik permainan.
"Ya aku hacker....dapat teknik begituan belajar dari film tidak lulus sensor di Amerika....Aku mempelajari teknik dari sana mempraktekkan seluruh ke suami aku....udah ya jangan dibahas lagi." Aurora jujur bercerita kepada suami daripada Prabu memiliki persepsi yang salah terhadapnya lebih baik jujur. Prabu langsung memberikan dua jempol sekaligus Aurora terbuka tentang apapun kepadanya sejak terkuak rahasia yang disimpan rapat istrinya.
Memasuki area kompleks perumahan ini mereka disambut senyum security yang bertugas di pintu masuk, Aurora sudah beberapa ke sini untuk bertemu Arsya anak laki-laki Celine, sekarang ia membawa berbagai mainan mahal untuk anak sahabatnya.
dahi Aurora mengkerut melihat didepan rumah Celine terparkir mobil, Celine tidak biasanya menerima tamu asing ke rumahnya. Aurora turun bersama suaminya, ia belum pernah memperkenalkan Prabu kepada sahabatnya itu.
"Assalamualaikum...Celin...Mas Andi kok bisa disini?" Aurora terkejut melihat Andi memangku Arsya anak Celine yang duduk tenang dipangkuan pria yang seumuran dengan suaminya.
"Eh... Ditdit masuk....kamu kesini sama siapa?" Celine muncul dari dalam rumah, saat Andi akan menjawab pertanyaan mantan rekan kerjanya.
"Aku kesini bersama Abang Gaza...Celine kamu kenapa...Are you okey?...Boy Tante bawa mainan untuk kamu." Aurora terkejut melihat mata sembab sahabatnya yang terlihat siap menangis, Ia memberikan mainan yang dibawanya tadi kepada Arsya.
__ADS_1
Arsya turun dari pangkuan Andi, Ia langsung menerima pemberian Aurora. Prabu menyusul Aurora ke dalam rumah sahabatnya tadi ia mendapat telepon dari mama Diana menanyakan kapan kedua cucunya pulang.
"Thank you Tante Ditdit....Wow aku udah lama mau mobil keren seperti ini...Alex selalu memamerkannya kepadaku tapi tidak mau meminjamkannya." Arsya membuka isi paper bag yang berisi robot dan mainan mobil-mobilan canggih.
"Kamu suka kan....Tante mau bicara dengan Mommy kamu." Aurora mencubit pipi gembul anak laki-laki sahabatnya. "Tante Didit siapa yang dibelakang Tante itu?" Aurora yang melihat kebelakang ada Prabu yang berdiri melihat interaksi istrinya dan ia terkejut staf IT berada di rumah sahabat istrinya.
"Ini Om Gaza....Suami Tante....Arsya belum ketemu ya...salam dulu." Arsya menatap penuh selidik ia seperti mengenal pria dihadapannya ini. "Om Gaza...papinya Arumi ya... teman satu kelas aku." Prabu mengangguk sambil tersenyum ternyata bocah ini mengenal anak perempuannya. Arsya pergi bersama Bu Mina pengasuh sejak bayi menuju ruang tengah.
Celine mempersilahkan pasangan suami istri duduk. " Didit ini ya....dua belas tahun tidak terlupakan....Ah cerita so romantice." Celine berusaha menutupi kesedihan untuk membahas cerita cinta sahabatnya.
"Iya kenalkan ini suami aku Mas Prabu Gaza.... pertanyaan aku belum kamu jawab Cel." Aurora memperhatikan wajah murung Celine. "Dan kenapa Mas Andi ada disini?....kemaren apa terjadi sesuatu?" Aurora mengintrogasi keduanya ia harus tahu apa yang terjadi terhadap sahabatnya.
"Celine kemaren Mas yang antar karena kamu tidak bisa mengantarkan dia pulang....ternyata rumah dia satu komplek dengan Mas....Apa kamu tahu yang terjadi dengan Celin tujuh tahun lalu....kenapa warga disini menyebut Celine hamil diluar nikah." Setelah memberikan uang kepada Bu Nisa Andi terpaku melihat Celine yang menangis meninggalkannya, Ibu Mina keluar menemui Andi yang masih berdiri di teras rumah, Celine tidak biasa menerima tamu ia mengerti maksud Bu Mina langsung pulang ke rumahnya.
"Celine Paramitha kenapa kamu selalu menyembunyikan kesedihan kamu itu....kamu tidak pernah menceritakan jika disini orang-orang mengucilkan kamu....aku ini sahabat kamu Celine....Lihat si David brengsek itu saja hidup tenang kamu harus menghadapi ini." Emosi Aurora tidak bisa terbendung mendengar cerita Andi, Prabu terdiam melihat istrinya yang emosi.
"Arsya selalu dibilang anak haram Didit...aku bisa apa....emang kenyataanya David tidak mengakui darah dagingnya sendiri" Hancur pertahanannya setelah mendengar nama laki-laki brengsek yang tega mengambil mahkota berharga yang dijaganya untuk suaminya kelak.
"Celine...." Seseorang masuk tanpa permisi, Semua memandang ke arah pintu melihat arah suara yang menyebutkan dengan lantang.
🌹🌹🌹🌹
To be continue
__ADS_1