
Aurora mengikuti kemauan suaminya, Ia memakai jaket Boomber miliknya yang dibawa Prabu tadi.
"Kamu pegangan nanti jatuh" Prabu menarik tangan Aurora untuk memeluk pinggangnya. "Iya...tapi Abang jangan ngebut ya...aku takut" Aurora memposisikan duduk ternyaman diatas motor suaminya.
Prabu sudah lama ingin mengajak Aurora jalan-jalan mengunakan motornya, Motor ini disimpan dirumah orang tuanya tadi pagi ia teringat mengajak Aurora pergi bersamanya.
Aurora mengeratkan pelukannya, untung membawa ikat rambut walaupun memakai helm jika rambut tidak diikat akan berterbangan. Prabu membeli makanan untuk makan malam mereka, Prabu berterimakasih kepada mertuanya yang mengajak kedua anaknya berlibur sehingga waktu berduaan bersama istri lebih banyak.
"Abang ini arah... apartemen lama Abang." Aurora masih mengingat jalan ini menuju apartemen Prabu. "Iya Abang mau kesana" Prabu bisa merasakan tubuh istrinya menegang, Ia mengusap tangan istrinya yang berada diperutnya.
Masuk ke lobby apartemen tangan Aurora mengeluarkan keringat dingin. "Tenang ya sayang...Abang ga akan berbuat macam-macam....Abang cuma ingin menghapus luka lama" Prabu mengeratkan pegangannya. Tidak ada sepatah kata satupun diucap Aurora.
Kemaren dokter Lusia menanyakan kemajuan terapi Aurora lewat Prabu, dokter paruh baya itu mengusulkan membawa Aurora ketempat traumanya ia harus melawan rasa takutnya. Dokter Lusia bahagia jika Aurora telah menjadi istri seutuhnya untuk Prabu.
Prabu membuka pintu apartemennya ia sengaja mematikan lampu untuk memberikan kejutan untuk istrinya. "Abang jangan begini....aku...aku takut" Aurora memeluk kuat tubuh suaminya, badannya bergetar hebat. "Abang Gaza aku mohon jangan" Aurora langsung berteriak histeris.
Prabu meneteskan air matanya melihat istri menangis histeris. "Sedikit lagi Rara....Abang janji tidak akan berbuat apapun" Prabu mengusap punggung istrinya, ia masih berdiri didekat pintu masuk sambil memeluk istrinya.
Ia mencari saklar lampu untuk menghidupkan ruangan ini agar terang. "Rara buka mata kamu berbalik lihat sekarang sayang" Aurora mengeratkan pelukannya menggelengkan kepalanya. "Reditha Aurora lihat Abang sekarang." Prabu harus sabar untuk menghadapi ketakutan istrinya.
"hwa....hwa...aku takut...kenapa Abang bawa aku kesini...Aku mau pulang" Aurora menangis cegukan kenapa suaminya bersikeras untuk membawanya kesini. "Rumah kamu ini sayang lihat dulu...Abang janji sayang." Prabu mencoba melepaskan pelukan Aurora.
Aurora mengatur nafasnya dibukanya mata secara pelan-pelan, ia berbalik melihat kemauan suaminya. "Abang Gaza kapan ini berubah" Tidak ada satupun kenangan pahit itu disini semuanya sudah dirubah Aurora terkejut ruangan ini sangat berbeda sepuluh tahun lalu.
__ADS_1
"dua Minggu lalu selesainya renovasinya, pelan-pelan ya....kamu jangan takut lagi....Abang suami kamu." Prabu membimbing Aurora berjalan masuk, awal masuk Aurora melihat ada ruangan tamu dilengkapi sofa.
"Dulu tidak ada ruang tamu disini." Aurora mengedarkan pandangan ruangan yang elegan tidak seperti dulu yang apa adanya.
"Kita lanjut ya....Abang membeli unit sebelah jadi apartemen ini disatukan sehingga lebih luas." Prabu menuntun Aurora menuju ruangan keluarga disatukan dengan ruangan makan.
"Abang ini sungguh indah....aku udah lama ingin memiliki suasana seperti ini" Aurora bisa melihat ribuan bintang langsung, ruangan ini memakai atap kaca.
"kamu suka sayang....nanti kalau siang bisa ditutup lagi, cahaya matahari kalau siang tidak bagus" Apartemen Prabu paling atas lantai dua puluh lima.
Aurora berjalan sendiri menyusur ruangan ini, Prabu berdiri melihat istrinya mengagumi apartemen miliknya. "Abang Gaza ini foto aku pakai baju SMA" Aurora mengomentari foto yang terpajang didinding ruangan keluarga itu.
Foto kebersamaan Prabu dan Aurora dipajang Prabu, ia tidak membuang foto-foto itu ditambah dengan momen pernikahan mereka bulan lalu, ruangan ini besar memiliki satu piano. Dulu hanya gitar yang ada di apartemen Prabu.
Ada Empat kamar tidur disini, Aurora tidak tahu letak kamar Prabu yang dulu. "Kamu mencari kamar Abang ya Ra" Prabu membimbing Aurora memasuki kamar utama.
Aurora kembali memeluk Prabu kecemasan kembali datang. "Lihat Rara kamar Abang yang sekarang" Prabu dengan lembut mengusap rambut lepek Aurora karena keringat.
Aurora membuka mata, dilihatnya ada kasur berukuran king size, plasma tv menempel didinding. Dulu ukuran kasur Queen size dan lemari tiga pintu memuat baju milik Prabu. Dikamar ini ada walking closed menyatu dengan ruang kerja mini Prabu.
"Maafkan Abang Rara dulu menggoreskan luka batin untuk kamu sepuluh tahun kamu menanggungnya....kamar ini jadi saksi Abang melece**** tubuh kamu....Abang sadar perbuatan tidak akan pernah menghapusnya....jika sekarang bisa menggantikan kenangan itu seperti ini" Prabu mengamati Aurora yang terdiam melihat isi kamar ini.
"Abang Gaza tolong jangan membahas luka lama itu....aku udah bilang akan sembuh dengan caraku sendiri....Abang telah membantu mengobati luka ini....Aku minta maaf soal tadi...aku takut jika apartemen masih seperti sepuluh tahun lalu" Aurora melepaskan jaket Boomber miliknya, baju basah karena keringat.
__ADS_1
"Kita nginap disini ya sayang...Abang capek jika balik ke apartemen kamu....hari juga udah malam" Prabu duduk disisi tempat tidur, melihat Aurora melepaskan kemeja kerjanya.
"baiklah....Aku mandi dulu." Aurora masuk ke kamar mandi melepaskan kepenatan seharian diluar.
Prabu keluar kamar menata makanan yang ia beli tadi, sebagian bajunya dirumahnya dipindahkan kesini, baju Embun dan Arumi sudah ada dikamar mereka yang terdapat dihadapan kamar utama.
Aurora baru teringat jika ia tidak membawa baju ganti, kemeja sudah lepek tidak mungkin memakai itu. Ia masuk ke walking closed mencari apakah ada baju yang bisa digunakannya.
Prabu menunggu Aurora untuk makan bersamanya kenapa istri lama dikamar apa Aurora tertidur ia belum makan dari siap makan siang bersama tadi.
Prabu masuk ke kamarnya ia teringat baju Aurora tidak ada disini. "Abang Gaza aku...." Aurora gugup tertangkap basah memakai baju kemeja kantor milik Prabu. Ia kesulitan menutupi tubuh yang terekspos.
Prabu menelan ludah kasar kenapa Aurora memilih baju kemeja putih miliknya. "Rara ayo kita makan Abang lapar" Bahkan suara sudah berubah parau.
Aurora selalu menguji keimanannya, Prabu ragu meminta haknya. Ini pasti berakhir dengan mandi air dingin.
"Abang Gaza ayo makan." Aurora mengejutkan lamunan Prabu.
Mereka makan dalam keheningan, Prabu sering mencuri pandang ia tak kuasa melihat bagian dada istri yang tidak dilapisi dalaman, isinya terbayang dari kemeja putih yang dipakai Aurora.
ketika Aurora mengambil piring sisa makan Prabu, Ia melihat keindahan yang tergantung sempurna Aurora bahkan memakai boxerbrift miliknya apa tujuan ia malam ini pikirnya.
Ia masuk ke kamar untuk menghentikan pikiran tentang Aurora. "Abang Gaza turn on" Prabu langsung bangun melihat kedatangan istrinya. Ternyata Aurora Peka akan kebutuhannya.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹
To be continue