
Dengan hati yang memanaskan Berta keluar dari restoran itu dan sesampainya di mobil dia langsung menghubungi Icha.
"Hallo Icha .!
"ya..nyonya Berta ada apa, bagiamana hasilnya ?"
"Dia ,tidak mau memenuhi permintaan saya ." jawab Berta.
"Lalu apa rencana anda ?" tanya Icha.
"seperti aku, akan memilih rencana yang kedua itu, jika aku tak bisa memiliki dia juga , lebih baik sama-sama merasa dan bertanggung jawab dengan semua yang telah terjadi, daripada terus di siksa perasaan bersalah seorang diri." kata Berta lagi.
"Lalu apakah anda akan , meng exspost semua kesalahan masa lalu nyonya Angi ? anda tau itu akan berkahir kemana ?" tanya Icha.
"Tapi aku tetap mendukung anda nyonya Berta , pilihan anda jauh lebih baik daripada berdiam diri saja anda sudah lama terpenjara oleh perasaan bersalah, mungkin kalau nanti terexspost anda akan masuk penjara tetapi setidaknya jiwa dan hati anda terlepas dari perasaan bersalah dan anda akan lega." kata Icha memberikan dukungan namun dia tersenyum Devils.
Tentu saja ,Icha sangat bahagia karena dia bisa membalaskan dendam nya tanpa perlu bersusah-susah.
"Nyonya Berta, apa anda mendengar saya ? " tanya Icha saat dia tak mendengar nyonya Berta merespon perkataannya.
"Masih Icha saya ,juga sedang berfikir demikian, jadi saya masih butuh bantuan mu ." kata nyonya Berta
"Apa itu saya siap membantu ,kalau saya bisa melakukannya untuk nyonya Berta." kata Icha .
"Tolong berikan saya nomer telfon tuan Hendrawan dan alamat lengkap kantornya, hari ini aku ingin bisa bertemu dan berkata jujur padanya." kata nyonya Berta.
__ADS_1
"Baiklah saya akan segera mengirim alamat dan nomor telfon tuan Hendrawan." kata Icha.
"Oke saya tunggu." kata Berta mematikan telfonnya.
Amarahnya sudah tak mampu di bendung lagi, teryata memang benar kata Icha bahwa nyonya Angi adalah ular berkepala dua yang pandai bersilat kata.
Teryata dia hanya memanfaatkan dirinya dan terus saja mengunakan kelemahan yang ada pada dirinya untuk terus mengendalikan dirinya.
Rasa tak tega dan rasa setia kawan nya di pakai untuk membujuk dan membantu dirinya,. dan video kesalahan itu di pakainya untuk mengancam dirinya supaya terus menurut dan membantu nya melakukan dan menutupi kejahatan.
Tak lama suara notifikasi handphone nyonya Berta berbunyi dan dia segera membuka nya .
nomer tuan Hendrawan dan alamat kantornya , tanpa pikir panjang nyonya Berta segera melajukan mobilnya ke kantor tuan Hendrawan.
"Selamat pagi ,"ada yang bisa saya bantu ?" kata resepsionis yang ada di kantor tuan Hendrawan saat nyonya Berta sudah berada di depan mejanya.
"Apa anda sudah ada temu janji ?" tanya resepsionis itu .
"Belum tapi tolong katakan ini sangat penting." kata Berta sambil memainkan jari-jarinya di atas meja mencoba menahan kegelisahan yang ada di hatinya.
"Maaf nyonya tuan Hendrawan sedang rapat tidak bisa di ganggu." kata resepsionis itu.
"Berapa lama dia rapat ?" tanya Berta.
"Saya kurang tau , nyonya ?" jawab resepsionis itu.
__ADS_1
"Kira-kira biasanya berapa lama ?" tanya nyonya Berta lagi.
"Mungkin sekitar dua tiga jam nyonya." jawab resepsionis itu.
"Boleh aku menunggu di sofa sebelah sana ?" tanya nyonya Berta sambil menunjuk sofa yang berada di pojok ruangan itu.
"Emm..apa tidak lebih baik ada pulang dan buat temu janji dulu ?" tanya resepsionis itu.
"Tidak bisa masalah ini sangat penting, saya akan menunggu nya." kata Berta.
sang resepsionis itu menarik nafas dalam melihat nyonya Berta yang bersikeras menunggu sedang dia sediri ,belum mengadakan temu janji.
Berta yang duduk di sofa pojok ruangan itu kembali melihat Handphone dan melihat kembali video yang di berikan Ismail padanya.
"Apa lebih baik aku mengirim video ini pada tuan Hendrawan tentu saja, ini akan membuat dia akan segera mencari tau kalau sudah membukanya ." kata nyonya Berta yang segera mengirim video itu pada tuan Hendrawan.
----++++++++ Bersambung++++++++-------
"Terimakasih untuk kunjungan nya para pembaca dukung dengan Likeπ dan
komentar βοΈthanks you All .
jangan lupa dukung. kisah Lain
Lintas masa ,Semalam berujung petaka atau cinta pertama tak lekang waktu ,
__ADS_1
πππππππππππ