
Renata, menengok sebentar ke arah nyonya Angi yang masih duduk tak bergeming di sofa.
menatap kepergian mereka berdua dan kesempatan itu tak disia-siakan oleh Renata untuk membalas sakit hatinya.
Renata tersenyum menyeringai berusaha sok manis dan cantik lalu menjulurkan lidahnya mengejek nyonya Angi.
Spontan, mata nyonya Angi melotot dan terlihat jilatan amarah yang membara pada matanya , seperti sambaran kilat dan guntur yang hendak mencincang tubuh Renata.
Renata sangat bahagia melihat pemandangan itu, puas sekali rasanya membalas perlakuan nyonya Angi dengan ejek ,tentu sakit hati dan jengkelnya tidak dapat terlampiaskan karena Renata berada dekat dengan Hendrawan, tentu tidak akan mungkin ada kesempatan untuk menindas Renata.
"Dasar perempuan sihir " umpat nyonya Angi lirih.
Renata hampir saja jatuh karena tidak melihat bahwa dia harus melangkah sedikit lebih tinggi untuk menaiki anak tangga.
Hampir saja terjatuh kalau tidak di tarik oleh Hendrawan .
"Renata hati-hati jalannya." kata Hendrawan yang menganggap tangan dan bahu Renata.
"Terimakasih sir." jawab Renata lalu berdiri melepas pelukan Hendrawan, tak tahan dia dipandangi demikian.
Jantungnya berdegup lebih kencang apalagi Hendrawan sempat memandang dadanya , sepertinya dia sedang menganalisis sesuatu.
Dan Renata baru sadar bahwa,dia tidak memakai Bra untuk menutup dua gunung kembarnya dikarenakan ,tidak ada gantinya dan dia menyeringai menyadari kebodohannya.
"Astaga ..!" saya naik dulu ke atas ya ,Hen.. ." kata Renata.
"Kenapa ..?" tanya Hendrawan heran.
"E.. aduh.. emm.. tidak bisa di jelaskan, nanti saja." kata Renata.
segera naik ke lantai atas dan masuk ke kamar Hendrawan , memasuki toilet dan segera megambil Bra dan ****** ******** yang tadi di cuci dengan sabun mandi dan di gantungkan pada pembatas kaca tempat mandi.
Renata tertawa sendiri dalam toilet, bagiamana dia sangat ceroboh melakukan hal itu, kalau saja Hendrawan masuk dan melihat Bra serta ****** ***** tergantung pada pembatas kaca saat mandi itu akan sangat menggelikan atau mungkin menjijikan bagi dia.
"Kenapa aku sebego ini ? aduh, Re ..Re kau pikir ini rumah nenek moyang kamu sehingga seenak jidat pajang ****** ***** di kamar mandi." kata Renata mencela diri sendiri sambil tertawa kecil dan geleng-geleng kepala.
"Tok-Tok !!" suara pintu toilet di ketuk dari luar.
"Re... ada apa...kamu baik-baik saja ," kenapa lama sekali di toilet ." tanya Hendrawan.
"Cepatlah aku perlu ke toilet sekarang ." lanjut Hendrawan.
"memang disini hanya ada satu toilet ? " tanya Renata yang masih kebingungan.
" Aku tak biasa mengunakan toilet lain ." kata Hendrawan lagi .
"Ya.. baik-baik saja ,sebentar saya keluar ." jawab Renata.
"Aduh ini..gimana ihh.. celaka tuju turunan delapan tanjakan ini , aduh taruh di mana ya...?" kata Renata menggerutu.
__ADS_1
Renata keluar dengan membawa ****** ***** dan Bra nya di balik punggung nya.
"apa yang kau sembunyikan di belakang mu ?" tanya Hendrawan.
"Rahasia perusahaan wanita." kata Renata.
"sejak kapan kamu mendirikan perusahaan ?" tanya Hendrawan menatap Hendrawan curiga.
"apa tadi di toilet kamu video call dengan lelaki ?" tanya Hendrawan menyelidiki.
"Kalau aku video call ,kamu tentu tau, bukakan kau sudah sadar handphone ku ?" jawab Renata jengkel selalu di curigai.
"Siapa tau kamu bawa handphone baru ." kata Hendrawan.
"Siapa yang punya headphone baru ?" kata Renata berjalan kesamping dan posisi mundur wajah masih menghadap ke arah Hendrawan.
"Sudah sana , katanya mau ke toilet." kata Renata.
"Berikan pada saya yang di belakang mu ." perintah Hendrawan meski dia tak tahan ingin segera buang air kecil tapi di tahan karena Renata terlihat aneh dan mencurigakan baginya.
"Jangan , tidak boleh ." kata Renata bersikukuh menyembunyikan ****** ***** dan Bra-nya yang masih basah.
"Berikan,' ini perintah suami mu ." kata Hendrawan.
"Calon suami belum suami ." jawab Renata.
"Tidak,dan tidak akan... ." Renata berjalan mudur saat Hendrawan maju mendekat.
"Serahkan kepada saya ." kata Hendrawan terus saja maju sementara Renata terus mudur .
Renata tak tau di belakang ada sofa sehingga dia hampir terjatuh ke belakang dan secara refleks Hendrawan berusaha memegang bahu Renata namun dia sediri kehilangan keseimbangannya karena belum siap menahan tubuh Renata yang cukup gemuk itu.
mereka jatuh bersamaan di sofa, saat itulah Hendrawan baru sadar bahwa yang dipegang tadi bukan bahu tapi gundukan gunung yang kenyal di dada Renata.
"Upss... ! sorry. " kata Hendrawan.
"Ah... tidak aku ternoda...! teriak Renata.
" shut up! " kata Hendrawan membekap mulut Renata.
"aku tidak menodai kamu, jangan berteriak begitu seolah aku memperkosa mu, apa kata para pelayananku kalau mendengar teriakkan mu ." bisik Hendrawan.
"Emmm...emmm... !"Renata tak bisa bicara
Hendrawan segera melepaskan tangannya dari mulut Renata.
"Ya..tapi tadi kamu memegang anu ..anu ku...!" kata Renata masih dengan suara keras.
Hendrawan segera menyumbat mulut Renata dengan bibirnya lembut bergerak perlahan dan menelusuri dengan perlahan dan penuh dengan kehangatan.
__ADS_1
Renata terdiam menikmati kecupan demi kecupan yang di berikan Hendrawan dengan degup jantung yang semakin kencang.
tangganya masih berapa di posisi belakang sehingga dia tak bisa bergerak dalam kungkungan Hendrawan.
Hendrawan tersenyum melihat Renata masih terpejam meski dia sudah berhenti mencium bibirnya.
Hendrawan mengelus bibir Renata yang basah dengan ujung ibu jarinya.
"Apa masih masih mau lagi ?" goda Hendrawan membuat Renata membuka mata dns tersipu malu.
Renata menggeleng kepala dengan senyum malu-malu.
Hendrawan segera berdiri dan membantu Renata untuk duduk dan akhirnya dia melihat apa yang di sembunyikan boleh Renata.
Hendrawan megambil Bra nya dan meretakkan lebar membuat Renata tertunduk malu.
"Ohh.. rupanya ini , tempat pabrik susu yang anda maksudkan , besar juga yahh ukuranya ." goda Hendrawan.
"Kau ...! berikan pada ku ." kata Renata mengulurkan tangganya.
"Pantas saja aku , melihat sesuatu yang aneh dari tadi teryata kamu tidak memakai Bra dan ****** ***** ?" tanya Hendrawan.
"Iya...karena aku tidak ada ganti, aku sudah minta pada Andini untuk membelikan untuk ku, tapi besok baru di antara tidak mungkin malam-malam begini , lagian dia maunya mau bertemu dengan nyonya Angi." jawab Renata dengan dengus'an nafas kesal.
" Ah ..membuat otak ku traveling kira-kira sebesar apakah dia bukit kembar yang berada pada Bra ini." goda Hendrawan masih saja meretakkan Bra Renata di depan matanya.
"Hendrawan Atmanegara, apa anda tidak malu memegang barang privasi orang ?" tanya Renata.
" kenapa harus malu ?" ini punya istri aku dan barang di dalamnya segera aku nikmati dan miliki juga." kata Hendrawan tersenyum nakal.
"Tok-Tok." suara ketukan pintu namun tidak di gubris dengan kedua orang yang ada di dalam.
Hinga terdengar suara gagang pintu di putar.
"Astaga !" teriak Narti membekap mulut dan segera menutup pintu kembali.
dan kedua orang yang di dalam pun juga ikut terkejut.
----++++++++ Bersambung++++++++-------
"Terimakasih untuk kunjungan nya para pembaca dukung dengan Likeπ dan
komentar βοΈthanks you All .
jangan lupa dukung.
kisah Lain Semalam berujung petaka atau cinta pertama tak lekang waktu ,
ππππππ
__ADS_1