
setelah kedua orang itu pergi Renata segera mencari Ojek pergi ke rumah Andini, berita tentang kebakaran ruko itu sudah mulai di siarkan di televisi saat Renata telah sampai ke rumah Andini.
" sungguh keterlaluan kalau itu benar di lakukan oleh nyonya Angi." kata Andini yang duduk dengan Renata .
"Ya..tapi kebakaran itu terjadi di ruko sebelah tempat aku , Andini jadi sangat tidak mungkin mengatakan itu ulah nyonya Angi." jawab Renata.
" apakah Hendrawan mengetahui nya ?" tanya Andini.
"Kalau soal kebakaran aku ,cuma bilang hanya dugaan tapi aku telah memberi tau soal kejadian di cafe dan surat perjanjian itu padanya." kata Renata.
"Lalu bagiamana reaksinya ?" tanya Andini.
"Dia tidak berkata apa-apa dan saya hanya bilang jemput saya di rumah mu, mungkin sebentar lagi akan sampai." jawab Renata.
"Saya tidak yakin Hendrawan akan percaya kalau ibunya akan melakukan hal itu, karena dia sangat mengagumi dan mengasihi ibunya dia seorang anak yang berusaha berbakti pada ibunya ,meski sebenarnya dia tau akan kelakuan Ibunya." kata Andini.
" Jadi apakah dia, akan tetap membela ibunya ?" tanya Renata sedikit bimbang.
" Mungkin dia tak akan membela kamu atau ibunya , kemungkinan dia akan berada di tengah-tengah kalian supaya tetap hidup berdampingan dan mungkin berdamai." kata Andini.
"Apa ? jadi aku harus hidup berdampingan dengan manusia bermaksud dua ?". kata Renata sedikit sock.
" itu terserah kamu dan menjadi pilihan dan hak mutlak bagimu, apakah cinta mu pada Hendrawan membuat kamu tetap bertahan dan terus maju melawan segala rintangan yang ada atau menyerah ?" jawab Andini.
" Apa mungkin aku melawan nyonya Angi yang penuh kelicikan dan kuasa ?" tanya Renata.
"kenapa tidak , bagiamana kamu akan punya kekuatan yang sama dengan nyonya Angi saat menjadi istri Hendrawan, jadi menurut ku lanjutkan perjuanganmu, aku pikir Hendrawan saat mencintai seseorang dia akan memberikan yang terbaik untuk orang yang dia cintai,ini bukan sekedar kata orang aku telah cukup lama bersama dan telah membuktikan nya." kata Andini.
Gejolak perasaan tiba-tiba terasa menyesakkan dadanya setelah perjuangan untuk tetap bersama hingga Hendrawan sembuh tak seketika berbuah manis.
__ADS_1
Masih banyak rintangan dan gunung terjal yang harus dia daki untuk mencapai pada puncaknya.
apalagi lawannya bukan wanita lain tetapi wanita yang di hormati oleh calon suaminya, tidak mungkin Renata akan membuat mereka bermusuhan dan memercikan api amarah ,tapi mengigat perlakuan dan kejahatan nyonya Angi atas Monica atau pun hari ini terjadi kebakaran di ruko seolah-olah ingin menyingkirkan dan membakar Renata hidup-hidup.
Renata mencoba berfikir ulang untuk mudur daripada terus berurusan dengan wanita seperti Malvina dalam kisah drama klasik Maria Mercedes, yang selalu mrgagap hubungan anaknya dan menekan anak nya untuk turut dan ikut serta menjadi musuh istrinya meski sebenarnya Fernando anak mencintai Maria.
"Re... malahan melamun." kata Andini.
"aku sedang berfikir mungkin aku bisa mungkin aku kita dan dapat terus bertahan ?" tanya Renata.
" Ya.. kamu harus bertahan dan berjalan maju daripada mudur tanpa hasil ,kamu sudah berada di tengah-tengah jalan di mana mudur akan sangat merugikan dan kalau maju dan kalah kamu tetap jadi pemenang karena telah berani melawan ketakutan kamu sediri dan menang karena telah berjuang keras untuk mendapat dan mempertahankan cinta mu ." kata Andini.
"Lagian kalau kamu mudur sekarang apa kamu pikir Hendrawan akan melepaskan mu, dia ini orang yang bucin sekali dan posesif sekali mencintai atau menginginkan sesuatu dia pasti akan berusaha keras mendapatkan nya dan dia tidak akan melepaskan mu begitu saja,dia sakit saja tidak mau melepaskan mu, apalagi sekarang dia sudah sembuh dan punya kekuatan , kekuasaan dan harta yang penuh pikir itu baik-baik Renata, dia akan berfikir bahwa itu hanya alasan saja agar kamu lepas dari dia." lanjut Andini.
"Jadi... aku harus tetap lanjut ?" tanya Renata.
" why Not !!!! kenapa tidak Re... ,aku akan terus mendukung dan membantu mu bagiamana pun nanti aku yakin kamu akan menemukan kebahagiaan bersama Hendrawan , dia lelaki yang cocok untuk mu dan menunduk keliaran mu ." kata Andini yang menyemangati.
"Jiah... sama aku aja udah sewot , kamu akan menemukan kata-kata yang lebih pedas lagi saat kamu berhadapan dengan nyonya Angi, anggap saja ini latihan untuk kamu tetap kuat dan tegar di hadapan dia ." kata Andini sambil tersenyum.
" Ah... terimakasih untuk niat baik kamu , tapi rasanya saya tidak perlu membutuhkan hal itu." jawab Renata makin cemberut.
"ya.. kamu memang lebih suka kata-kata manis dari teman-teman mu dan di belakang mu kau ditusuknya , mungkin lebih kau sukai teman yang memeluk sambil menikam mu dari belakang ." jawab Andini tak mau kalah.
" Setidaknya aku mati dengan pelukan hangat nya ." jawab Renata tak mau kalah dengan Andini.
dua sahabat ini mulai berdebat dan becanda dengan gaya mereka masing-masing dan memeng begitulah model persahabatan ala ,Tommy dan Jerry ala Renata dan Andini.
"Ting-tong ." suara Bell pintu menghentikan aksi saling mem-bully di antara mereka .
__ADS_1
Andini berjala ke menuju pintu dan membuka lebar-lebar mengetahui siapa yang datang.
" Hai...Hendrawan apa kabar ,lama tak jumpa angin apa yang membawa mu kemari, apakah kamu mulai merindukan ku setelah sekian lama tak bertemu ?." kata Andini keras-keras sengaja untuk menggoda kecemburuan Renata.
" Andini, jangan bercanda tentu saja kangen sebagai seorang big Brother kamu ." jawab Hendrawan berusaha mengimbangi candaan Andini tanpa menyakitkan perasaan Renata.
" Renata di mana ?" tanya Hendrawan.
"Tuh.. di sana ,masuk dulu dan kita berbincang sebentar saja, kamu tidak boleh lama-lama disini untuk menjaga perasaan semua orang ." kata Andini segera menutup pintu setelah Hendrawan masuk.
Hendrawan berjalan mendekat ke arah Renata yang kusut masai , suguh menyedihkan wajah kekasihnya saat ini.
"Re.. bagiamana keadaan kamu, kamu baik saja ? " tanya Hendrawan duduk dekat Renata menyibak rambut yang berantakan yang jatuh di kening kekasihnya.
" hampir saja pulang ke rumah Bapa di surga ." jawab Renata.
"Hai... begitulah kamu menjawab suami mu ?" tanya Hendrawan.
" Ya,. seperti yang anda lihat saya baik saja tidak kurang satu apapun." jawab Renata pelan dan melunak.
Tatapan mata Hendrawan yang bagai elang saat menegur nya sudah cukup membuat dia , menyadari kesalahannya.
Memang kalau dia mau jujur dan mengaku sejujurnya Andini memang benar bahwa Hendrawan adalah lelaki yang cocok baginya yang mampu menundukkan kenakalan dan kejahilan nya, namun haruskah dia tetap maju setelah mengetahui apa yang akan di hadapi nya " oh... the Malvina ! Oh..God !"
----++++++++ Bersambung++++++++-------
"Terimakasih untuk kunjungan nya para pembaca dukung dengan Likeπ dan
komentar βοΈthanks you All .
__ADS_1
jangan lupa dukung ,kisah Lain Semalam berujung petaka atau cinta pertama tak lekang waktu , ππππππ