Bayangan Sang Mantan

Bayangan Sang Mantan
Nyonya Angi setuju ikut melamar.


__ADS_3

Semua rencana nyonya Angi gagal totol ,karena anaknya itu pun telah memilih dengan lelaki pilihan nya tidak lama lagi.


Nyonya Angi terduduk lemas di sofa , dia merasa sediri dan menyedihkan sekarang , terlebih lagi dia sangat sakit hati karena Hendrawan sudah tidak berpihak padanya.


padahal dulu waktu pacaran dengan Andini bertahun - tahun. Hendrawan mau melepaskan saat dia melarang saat dia berniat menikah dengan Andini yang kalau di lihat wanita yang hampir selevel dengan keluarga Atmanegara.


punya kekayaan dan banyak perusahaan mereka hanya beda keyakinan saja, sedang Renata wanita yang tak punya apa-apa wajahnya pun tak begitu cantik bertubuh pendek dan berisi.


Nyonya Angi berfikir mungkin Hendrawan tak benar-benar cinta hanya sekedar kesepian atau membalas dendam pada Andini ,nyonya Angi tau kalau Renata dan Andini bersahabat cukup lama.


Namun dugaan nya salah semua, teryata cinta Hendrawan sangat kuat, Hendrawan lebih membela Renata daripada dirinya meski tak tak terang-terangan.


Kedudukan nya sebagai nyonya besar di rumah itu akan segera tergeser, lebih menjengkelkan di geser orang yang di anggapnya tidak pantas tidak berguna tidak layak baginya, tidak selevel kasta rendah anak jalanan.


------------++++++++++-------------


Di tempat lain, Renata dan Hendrawan sudah mempersiapkan beberapa barang bawaan untuk acara lamaran nya tak lupa Renata telah mengirimkan sejumlah uang cukup banyak untuk persiapan yang ada di rumah juga meminta mereka untuk beli baju baru.


Setelah capek berkeliling merek pulang dan mandi, Renata baru selesai keluar dari toilet nya .


"Re...kamu masih ada hutang tiga ciuman hari " kata Hendrawan saat sudah ada di kamar dengan Renata.


"Bagiamana itu bisa terjadi ?" tanya Renata.


"pertama aku telah mengizinkan kamu memilih bodyguard pilihan mu ,mengajak makan dengan Melani , dan makan-makan yang berlemak, bukan aku pantas pendapat cium ucapan terimakasih dari istri ku ?" tanya Hendrawan.


"Hemm... teryata kebaikan mu, ada udang di balik batu ." kata Renata


Namun dia seger mendekati Hendrawan mencium pipi Hendrawan tiga kali dan duduk di sampingnya.


Renata merebahkan kepalanya di pangkuan Hendrawan , dan Hendrawan menyisir rambut Renata dengan jari-jemarinya.


"Re.. apa kamu mau mengandung anak ku ?" tanya Hendrawan.


"kenapa tidak ?" tanya Renata.


"Kamu mau punya anak berapa ?" tanya Renata.


"Banyak ! " jawab Hendrawan.


"Banyak itu berapa ? " tanya Renata.


bolehkah tiga ?" tanya Hendrawan.


"Boleh kalau Tuhan izinkan." kata Renata.


"Kalau lima ?" tanya Hendrawan lagi.


"Ahh... kenapa tidak sebelas sekalian, biar rame ini rumah ." kata Renata bercanda.

__ADS_1


"Baiklah kalau memang itu mau kamu, aku setuju !" jawab Hendrawan.


"Hai saya hanya bercanda, melahirkan sebelas anak wah... kita akan membuat klub sepakbola kah ?" kata Renata.


Renata sudah mulai mengantuk dan menguap beberapa kali saat Hendrawan bercerita tentang masa kecilnya yang tidak punya soudara dan hidupnya lebih banyak di habiskan untuk sekaloh dan les banyak hal ,jarang punya teman bermain.


Hendrawan tersenyum melihat Renata sudah tertidur pulas di pangkuannya, dan Hendrawan tidak bergerak supaya Renata tidak terbangun dan karena terlalu lelah Hendrawan juga tertidur .


Saat terbangun teryata sudah malam dan gelap Renata pelan-pelan bangun dari tidurnya, Hendrawan pun ikut terbangun.


"Sudah bangun ?" tanya Hendrawan.


"Maaf saya tertidur tadi saat anda cerita, seperti di Nina bobok oleh mu." kata Renata tersenyum meski tak begitu kelihatan karena gelap.


"Mari kita turun makan seperti sudah waktunya makan ." kata Hendrawan.


"Aduh... !" desah Hendrawan.


"Kenapa ?" tanya Renata.


"Kaki ku, kesemutan mungkin karena kamu tidur di sini terlalu lama ." kata Hendrawan menujuk pada kakinya.


Hendrawan merah remote dan menyala lampu kamarnya, dan mengurut pahanya supaya darah nya kembali berjalan lancar kembali.


Hendrawan segera berdiri setelah dirasa kesemutan sudah pergi , menggandeng tangan Renata menuruni anak tangga.


"Bibi...mama di mana kenapa jam segini mama belum pulang ? " tanya Hendrawan meski sebenarnya dia juga tau kemana dia pergi.


"Katanya nyonya pergi arisan." kata Paijah.


"O..ya dari jam berapa ?". tanya Hendrawan.


"sekitar jam 11 pagi tadi." jawab Paijah.


"Arisan kenapa sampai malam belum pulang ?" kata Hendrawan.


Hendrawan segera mengambil handphone yang ada di saku celananya.


"Hello , Hen.."! jawab nyonya Angi .


"mama di mana , kami menunggu mama makan malam ." kata Hendrawan.


"Mama mendadak ada urusan , dengan teman kalian makan dulu mama sudah makan dengan teman ." jawab nyonya Angi yang terdengar suara agak serak.


"Mama baik-baik saja, kenapa suara mama terdengar serak , apa mama sakit ?" tanya Hendrawan.


"Tidak, mama tidak sakit dan tidak apa-apa mungkin hanya kurang minum air ." jawab nyonya Angi.


"Baiklah jaga kesehatan mah, karena besok kita akan pergi ke rumah Renata di kampung ingat mah, mama harus ikut ." kata Hendrawan.

__ADS_1


"Kenapa harus ?" tanya nyonya Angi.


"Tentu saja karena mama adalah orang tua Hendrawan yang harus melamar anak menantunya." jawab Hendrawan.


"Tapi... " nyonya Angi berhenti. sejenak dia berfikir ulang untuk menolak, karena untuk saat ini dia tidak mungkin membatah karena sekarang tidak mungkin untuk melawan Renata secara terang-terangan.


"Tapi...apa ,mama ? " tanya Hendrawan.


"Tapi mama kan belum mempersiapkan barang-barang untuk lamaran , tidak mungkin tidak membawa apa-apa bukan ?" kata nyonya Angi .


"Kami sudah siapkah semua mah, jadi mama tinggal mempersiapkan diri dan keperluan mama sediri , perjalanan kira-kira 6 jam perjalanan naik mobil pribadi." kata Hendrawan.


"Apa ...kenapa tidak naik pesawat saja." tanya Nyonya Angi.


"tempat seperti masih jauh dari bandara dan saya tidak ingin naik mobil travel mah dan kami membawa cukup banyak barang unik lamarannya jadi lebih baik kita mengunakan mobil pribadi saja." jawab Hendrawan.


"Baiklah terserah pada kamu Hendrawan , mama ikut saja ." kata nyonya Angi .


"baiklah, mah jangan terlalu malam, cepat pulang dan jaga kesehatan." kata Hendrawan.


"ya..!" jawab nyonya Angi lalu menutup telfonnya.


Perasaan semakin kesal dan tertekan dengan keadaannya dan semua rencananya yang berantakan di taman David membuat masalah.


Nyonya Angi segera keluar dari apartment nya dan makan di restoran setelah itu dia baru pulang ke rumah.


Hendrawan dan Renata sudah pun masuk ke dalam kamarnya, besok pagi mereka akan berangkat ke Semarang ke kota kelahirannya Renata dan bodyguard yang di pesan juga sudah akan siap di rumah dan mengawal Renata.


pada akhirnya Renata akan benar-benar menjadi Cinderella di zaman modern memang benar tak terpikirkan dan di bayangkan olehnya bahkan dia juga tak pernah berdoa seperti itu.


Renata hanya berdoa bahwa dia ,di pertemuan dengan lelaki yang di atas nya dan yang mampu mengontrol dan membuatnya lebih baik lebih dekat dengan Tuhan dan hidup teratur tidak beratkan.


Tak di sangka bahwa Tuhan telah mengabulkan keinginan nya itupun Renata masih protes akan perlakuan Hendrawan yang mendisiplinkan dirinya.


"Ah..pasti di kampung akan rame karena Renata yang dulu sering di bully jelek dekil gendut anak orang miskin , akan di lamar oleh lelaki tampan kaya raya dan terkenal pula." Renata membatin dan mengigit bibir bawahnya tersenyum bahagia di balik selimut nya.


----++++++++ Bersambung++++++++-------


"Terimakasih untuk kunjungan nya para pembaca dukung dengan LikeπŸ‘ dan


komentar ✍️thanks you All .


jangan lupa dukung. kisah Lain


Semalam berujung petaka atau


cinta pertama tak lekang waktu ,


πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹

__ADS_1


__ADS_2