
Reno melajukan mobil dengan kecepatan sedang, dengan Bara di kursi belakang. Jalanan ibu kota sudah cukup lenggang, mengingat sekarang sudah cukup larut. Bara menengadahkan kepalanya pada sandaran kursi, pikirannya melayang memikirkan tentang orang yang ia cintai, Keyra.
Sungguh malang nasib gadis itu, setelah perpisahan orang tuanya, penghiatan kekasihnya, dan sekarang papa yang paling ia seyangi terbaring koma. Bara sangat mencintai Keyra, bahkan setelah lebih dari 5 tahun dia berusaha untuk mengubur perasaan itu, nyatanya perasaan itu masih sama. Sehingga ia tak segan-segan menyuruh beberapa orang-orangnya untuk selalu memantau Keyra.
Terkadang Bara juga berpikir, mengapa dirinya bisa mencintai Keyra sedalam ini. Apa karena kecantikan gadis itu? Keyra gadis yang cantik dengan wajah blasteran yang diturunkan dari papanya, dengan rambut hitam panjangnya yang indah. Tapi bukan itu yang membuat Bara menggilai Keyra, karena saat ia berkuliah di luar negeri pun banyak wanita-wanita cantik yang rela antri untuk seorang Bara. Atau mungkin karena kebaikan hatinya? Atau senyuman indahnya?
Ya mungkin karena itu, bagi Bara senyuman Keyra seindah sinar matahari yang mampu selalu menghangatkan hatinya. Namun senyuman indah itu sudah lama tak ia lihat,belum lagi seharian ini hanya tangis yang menghiasi wajah cantiknya.
"Huuuhhhh..." Bara menarik nafas panjang. Dia berharap bisa membantu Keyra untuk bisa menyelesaikan segala permasalahan yang gadis itu hadapi, agar senyuman yang paling ia rindukan itu bisa kembali ia lihat.
Untuk masalah pada keluarganya, Bara tidak bisa menyalahkan Tante Diana yang masih mencintai mantan kekasihnya, sehingga membuatnya meninggalkan Om Pram dan juga Keyra. Karena cinta tidak bisa dikendalikan, pada siapa ia akan berlabuh. Sedangkan permasalahan penghianatan kekasihnya, sebenarnya sangat membuat Bara ingin mematahkan leher Bayu. Bagaimana mungkin waktu 3 tahun itu hanya digunakan untuk mempermainkan Keyra karena suruhan dari Viona.
Sejujurnya Bara juga ingin menggunakan kekuasaannya untuk memecat Bayu dan Viona sebab telah menyakiti wanita yang sangat dicintai, karena perusahaan tempat mereka bekerja 70% sahamnya merupakan milik Wijaya Group. Sehingga otomatis memecat mereka berdua adalah hal yang sangat mudah dilakukan Bara. Tapi itu sangat tidak profesional karena mencapur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan, Papanya pasti akan kecewa padanya jika menyalah gunakan jabatannnya seperti itu.
Kalau saja dulu ia tidak pindah ke luar negeri dan bisa mengungkapkan perasaannya pada Keyra, pasti saat ini Keyra akan sangat bahagia karena ia akan selalu memperlakukan Keyra dengan penuh cinta. Tapi semuanya sudah berlalu, tidak perlu melihat kebelakang lagi. Sekarang Bara sudah bertekad untuk mendapatkan hati Keyra, ia tidak akan pernah menyia-nyiakan waktu nya lagi.
Bukan kah ada pepatah yang mengatakan bahwa hasil tidak akan pernah menghianati usaha. Jadi mulai saat ini Bara akan lebih berjuang lagi, langkah awalnya adalah selalu ada untuk gadis itu. Bara tersenyum dan menganggukkan kepalanya, membenarkan pikirannya sendiri.
"Kita sudah sampai Tuan" ucap Reno membuyarkan pikiran Bara
Bara keluar dari mobil, "Terima kasih ren, kau boleh kembali sekarang. Maaf merepotkanmu sampai selarut ini"
Bara memasuki rumah mewah keluarga Wijaya, tanpa menunggu jawaban Reno. Rumah bergaya eropa dengan pilar-pilar tinggi sebagai penyangganya, rumah yang sudah tidak dikunjunginya beberapa bulan terakhir. Selain karena pekerjaannya di Jerman yang membuatnya bisa bertemu dengan gadis tercintanya, juga karena Bara memutuskan untuk tingggal di appartemen sejak dia kembali dari kuliahnya di luar negeri, alasannya agar lebih dekat dengan perusahaannya jika dia harus lembur atau meeting mendadak. Tapi malam ini ia memutuskan untuk pulang kerumahnya, karena jarak rumahnya lebih dekat dengan rumah sakit.
__ADS_1
Suasana rumahnya sudah cukup sepi, tentu saja sepi mengingat jam berapa Bara pulang, Bara berjalan dengan langkah tegapnya melewati ruang tengah dan langsung naik ke lantai 2 menuju dimana kamarnya berada. Tepat saat ia ingin membuka pintu kamarnya, ia melihat papanya –Aldi Wijaya- keluar dari ruang kerja dan berjalan menghampirinya.
“Papa kenapa belum tidur? Bukannya ini sudah terlalu larut?” sapa Bara setelah papanya berada tepat di depannya.
Aldi menatap seksama anaknnya dari atas ke bawah, "Jadi apa yang membuat anak papa sampai harus menggunakan pesawat pribadi Wijaya Group dan membuat beberapa awak kapal kewalahan untuk segera menyiapkan pesawat?" tanya papanya tanpa menjawab pertanyaan Bara
"Hmm... itu pa... hmmm.. ada keperluan darurat pa" jawab Bara gugup. Harusnya ia sudah memprediksi papanya pasti akan tahu. Karena pilot itu pasti akan melapor padanya.
"Awalnya papa kira, karena kamu sudah merindukan papa dan mama. Tapi setelah berjam-jam dari waktu harusnya kamu tiba, kamu tidak mengabari papa atau mama. Kamu tidak seperti biasanya Bara, bukankah sejak dulu kamu selalu berusaha merahasiakan tentang dirimu yang seorang pewaris Wijaya Group? Tapi sekarang..." Aldi menggantungkan ucapannya, ingin melihat reaksi anak semata wayangnya tersebut.
Kalau sudah papanya berbicara panjang lebar seperti ini, tidak ada pilihan lain. Bara harus mengatakan yang sejujurnya.
Aldi mengangguk, "Jadi ini karena pujaan hatimu, yang sudah lebih dari 5tahun itu kau kejar? Lalu bagaimana Kamu sudah berhasil mendapatkannya?"
Bara menarik nafas pelan, " Sepertinya masih sulit pa, apa lagi setelah semua masalah bertubi-tubi yang menimpanya. Untuk saat ini Bara hanya ingin terus berada di sampingnya pa, agar ia merasakan betapa besar perasaan Bara untuknya"
"Kamu benar-benar mengambil sifat papa, saat mengejar mama mu dulu. Berjuanglah kalau begitu" Aldi menepuk pelan pundak anak semata wayangnya tersebut.
"Terima kasih Pa. hmm... Tapi sudah selarut ini, kenapa papa belum tidur?"
Aldi mendengus mendengar pertanyaan putranya,“Bagaimana papa bisa segera tidur. Jika papa masih harus mengecek beberapa berkas untuk meeting besok, karena anak papa satu-satunya yang harusnya mengurus itu lebih memilih berlama-lama di Jerman untuk menemani pujaan hatinya daripada mengurus perusahaannya disini” ucap Aldi sambil terkekeh
__ADS_1
Bara terkekeh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena ucapan papanya, “Maafkan aku pa, aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ku lagi. Sudah cukup waktu 5tahun ku berusaha melupakannya tapi ternyata hal itu hanya sia-sia karena saat aku bertemu dengannya lagi perasaan itu ternyata masih sama”
"Kamu memang seorang Wijaya sejati, yang tidak mudah menyerah untuk mendapatkan sesuatu yang sangat diyakininya" jawab Aldi sambil tersenyum tipis.
"Tentu saja pa,bukan kah itu yang selalu papa ajarkan padaku dulu? Untuk tidak mudah menyerah?" Bara terkekeh, "Tidurlah pa, ini sudah terlalu larut. Jangan sampai mama ngambek karena tahu papa belum ada disampingnya"
Aldi mengangguk, "Ah ya, papa harus segera ke kamar. Papa tidak ingin mama mu mendiamkan papa hanya karena tidak ada untuk memeluknya. Kau juga istirahatlah, besok kita sarapan bersama. Mama mu sudah sangat merindukanmu" ucap Aldi sambil menpuk bahu Bara pelan lalu berjalan meninggalkan Bara, yang hanya mengangguk dan segera masuk ke kamarnya.
"Bara sampai menggunakan kekuasaannya yang selama ini berusaha ia tutupi untuk gadis pujaannya itu, itu artinya gadis ini benar-benar sangat spesial. Sepertinya sekarang aku benar-benar harus mencari tau siapa gadis pujaan putraku selama lebih dari 5tahun ini. Sampai membuatnya bisa seperti ini." Gumam Aldi pada dirinya sendiri
Bara memang tidak pernah bercerita pada papa atau mamanya tentang Keyra. Bahkan namanya pun, tidak pernah Bara beritahu. Bara hanya mengatakan bahwa ia telah memiliki gadis pujaan. Dan papa mama nya pun tidak pernah memaksa Bara untuk bercerita, bagi mereka selama Bara tidak menceritakannya itu berarti mereka belum boleh tahu.
Bara memang sangat dekat dengan kedua orang tuanya, karena papa dan mamanya selalu mendukung apapun yang Bara lakukan selama itu hal yang positif. Dan dia selalu terbuka soal apapun tentang keluarganya, tapi soal Keyra dia belum berani menceritakan semuanya, karena Keyra belum bisa menjadi miliknya, jadi ia tidak ingin menceritakan hal yang belum pasti. Bara sangat mirip dengan Aldi mulai dari wajah hingga sifat merekapun sama hanya warna matanya yang menyerupai sang mama, karena itu sejak kecil Bara selalu dianggap kembaran papanya.
Bara melepas semua pakaiannya, hanya memakai celana pendeknya lalu masuk toilet sekedar untuk membasuh wajah dan menggosok gigi,ia sudah terlalu lelah hanya untuk sekedar mandi. Bara langsung merebahkan diri di ranjang king sizenya menatap langit-langit kamarnya. Raganya lelah, tapi entah mengapa ia tidak bisa langsung tertidur. Pikirannya melayang memikirkan pembicaraan dengan sang papa.
Dia memang sangat mirip dengan sang papa, saat bagaimana dulu papanya berjuang untuk mendapatkan cinta mamanya -Reva Wijaya- selama bertahun-tahun walaupun sempat ditolak namun sang papa tetap berjuang sampai akhirnya mereka bisa bersama dan bahagia sampai sekarang, bahkan setelah menikah lebih dari 25tahun mereka tetap terlihat harmonis dan mampu membuat iri semua orang yang melihat.
Dengan sikap mamanya yang manja dan masih cemburuan terhadap papanya, sering membuat banyak orang iri. Padahal dulu kata papanya, Reva bukan wanita yang manja dan cemburuan tapi setelah menikah Reva berubah dan Aldi bukannya menjadi risih tapi malah semakin mencintai Reva.
Bara juga ingin seperti itu, hidup bahagia dengan wanita yang dicintai dan mencintainya dengan 2 atau 3 anak untuk meramaikan rumahnya, sampai akhirnya menua bersama. Dan wanita yang ia harapkan bisa menemaninya itu adalah Keyra, dan hanya Keyra.
******
__ADS_1
Terima Kasih yang sudah mampir...
Jangan lupa Like dan comentnya ya :*