
KEYRA POV
Aku segera menoleh ke arah pintu saat mendengar pintu terbuka. Dan ternyata yang masuk adalah Om Aldi dan Tante Reva. Aku kemudian berdiri, tersenyum manis menyambut tangan mereka untuk aku cium. Aku tak menyangka bisa bertemu Om Aldi dan Tante Reva lagi.
"Pa... Ma.. kalian sudah sampai?" gantian Bara menyapa mereka, dengn memeluk mereka singkat.
Tunggu dulu, tadi Bara panggil apa? Pa? Ma? Jadi om Aldi dan tante Reva orang tua nya Bara? Aku terdiam bingung dengan fakta yang ada di depanku. Bodohnya aku tidak tahu kalau mereka adalah orang tua Bara, salahku juga yang jarang membaca majalah bisnis ataupun berita-berita bisnis. Karena memang aku tidak terlalu tertarik dengan hal itu. Tapi keadaan papa, memaksaku untuk akhirnya terjun ke dunia bisnis.
"Sayang... kamu kenapa? Kok kayaknya kaget gitu?" Suara bariton itu menyadarkanku dari lamunan, ternyata Bara sudah merangkul pundakku. Dan apa tadi yang dia katakan? Sayang? Dia memanggilku sayang di depan orang tua kami?
Astaga...
"Bara, kamu dan Keyra sekarang bersama?" Tanya Om Aldi penuh selidik
"Iya pa, Bara sama Keyra sekarang udah pacaran. Iya kan sayang?" kata Bara sambil mengeratkan rangkulannya padaku. Sedangkan aku, masih bingung harus bereaksi bagaimana. Aku hanya tidak menyangka, bahkan di hari pertama kami berpacaran, akan langsung bertemu dengan orang tua pacarku.
Hm.. Maksudku, jika bertemu keluarga dari pacar kita, bukankah harus ada persiapan khusus? Ahh.. Aku tidak berpengalaman soal ini, karena saat aku berpacaran dengan Bayu dulu, Bayu tak pernah mau memperkenalkan aku dengan keluarganya entah apa alasannya. Namun sekarang aku langsung dipertemukan dengan kedua orang tua pacarku di hari pertama hubungan kami? Sangat mengejutkan
__ADS_1
"Ya ampunn.. mama seneng banget dengernya. Akhirnya Bara berhasil dapetin pujaan hatinya ini" kata tante Reva dengan menarikku ke dalam pelukannya, dan akupun tidak bisa berbuat banyak. "Dan Bara ingat pesan mama jangan pernah nyakitin Keyra" sambung tante Reva setelah melepaskan pelukannya padaku
"Tentu saja mamaku sayang, itu tidak akan pernah terjadi" jawab Bara dengan senyumannya
"Aku tak menyangka omonganmu disaat pertemuan terakhir kita, yang ingin menjodohkan putra putri kita. Ternyata akan terealisasi tanpa campur tangan kita Al" ucap papa sambil terkekeh dan memandang Om Aldi
"Kau benar Pram, ternyata jodoh memang tak akan kemana" balas Om Aldi
Ya Tuhan, aku sampai tidak tahu harus berkata apa dengan situasi ini. Aku hanya bisa mendengus menatap mereka bergantian.
"Ahh Pram, aku sampai lupa menyakan bagaimana keadaanmu sejak tadi. Malah teralihkan karena pasangan baru ini" kata Om Aldi setelah menghentikan tawanya
Astaga.. aku juga sampai lupa menanyakan apa kata dokter tadi pada papa, karena teralihkan dengan kedatangan Bara juga Om Aldi dan Tante Reva.
__ADS_1
"Aku sudah merasa lebih baik Al, terima kasih. Kata dokter hanya butuh sedikit latihan dan peregangan pada otot-otot ku yang kaku karena hampir sebulan tidak digerakkan, dan setelah itu aku sudah dibolehkan pulang" jawab papa
"Syukurlah pa, aku lega mendengarnya. Pokoknya setelah papa keluar dari rumah sakit, papa tidak usah bekerja lagi. Papa cukup istirahat di rumah, dan tidak boleh kecapean lagi. Mengerti?" ucapku tegas. Memotong obrolan papa dan Om Aldi karena kulihat Om Aldi hanya membalas ucapan papa dengan anggukan
Papa terkekeh mendengar ucapanku. Memangnya ada yang lucu dari kata-kataku? Aku mengerutkan dahiku menatap papa.
"Sepertinya putri kecil papa, sudah besar sekarang setelah mempunyai pacar" ucap papa terkekeh, "Sampai sudah bisa memarahi papanya sekarang. Baiklah-baiklah papa akan mengikuti perintahmu tuan putri" sambung papa
Entah mengapa jika biasanya aku akan protes pada papa, tiap papa mengatakan aku putri kecilnya, tapi kali ini tidak. Aku malah balas tersenyum lebar, dan berjalan pelan menuju ranjang papa. Kemudian kembali memeluk papa. Tanpa mempedulikan pandangan orang-orang yang berada disana. Aku merindukan papa yang selalu memanjakanku seperti ini.
"Aku sayang papa, jangan pernah tinggalin aku pa" ucapku pelan, sambil berusaha menahan tangisanku
"Papa juga sayang Ara, kenapa kamu jadi manja begini sayang? Disini ada keluarga Wijaya, kamu tidak malu bermanja begini dengan papa? hm..? tanya papa dengan mengeus kepala dan menepuk pundakku pelan. Dan aku hanya membalas ucapan papa dengan gelengan dengan terus mendekap papa.
Aku tidak peduli dengan pandangan keluarga Wijaya padaku, aku hanya ingin mencurahkan semua yang aku rasakan pada papa. Lagipula memang beginilah aku, tidak ada yang perlu aku tutup-tutupi bukan?
__ADS_1
*******