
Untuk beberapa menit, keheningan terjadi di ruangan itu. Semua orang masih tidak percaya dengan apa yang Grace katakan.
Bahkan Reva hampir terjatuh dilantai, jika tidak ditopang Aldi. Kemudian Aldi membawa Reva duduk di salah satu sofa, Reva tidak menyangka dengan apa yang terjadi.
"Kalau kalian tidak percaya, aku membawa buktinya" kata Grace mantap
Grace segera mengambil sebuah amplop putih dari dalam tas nya, amplop dengan logo sebuah rumah sakit terkenal di Jakarta. Kemudian ia menghampiri Reva dan memberikannya.
Reva membuka amplop itu, membacanya sekilas dan menutup mulutnya tak percaya. Aldi mengambil alih kertas itu untuk dibaca, dan ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia baca.
"Bara tidak pernah melakukan itu ma, pa. Kalian harus percaya. Bara gak mungkin melakukan hal hina itu, terlebih dengan wanita licik seperti dia. Kurang ajar kau Grace. Pergi dari rumahku." bentak Bara
Grace kembali tersenyum pada Bara, kemudian lebih mendekat untuk mengelus pelan pipi Bara namun segera ditepisnya.
"Kau tidak perlu mengusirku, aku akan segera pergi. Karena aku sudah memberi tahu kabar bahagia ini. Segera
hubungi aku, untuk rencana pernikahan kita ya sayang" ucap Grace percaya diri
Grace menatap Bara sambil menunjukan senyum manisnya, kemudian beralih menatap orang tua Bara.
"Om Tante, kalian pasti tidak ingin nama keluarga Wijaya tercoreng bukan? Jadi kalian pasti tahu apa yang harus dilakukan. Kalau begitu, saya pamit"
Grace sedikit menunduk dan segera keluar untuk meninggalkan rumah keluarga Wijaya. dengan senyum mengembang diwajahnya
Setelah Grace pergi, Bara terduduk di sofa dengan kepala menengadah. Sakit dikepalanya menjadi 2x lipat karena kedatangan Grace. Aldi pun terduduk di sebelah istrinya.
"Apa-apaan ini Bara? Kenapa Grace bisa datang kemari dan mengatakan dia hamil?" Tanya Aldi menatap tajam
putranya.
"Bara tidak tahu pa, yang jelas itu bukan anak Bara. Bara tidak pernah tidur dengannya, papa sama mama harus percaya sama Bara" jawab Bara dengan menegakkan tubuhnya
__ADS_1
"Sekarang apa yang mau kamu lakuin?" Tanya papanya lagi.
"Wanita itu benar-benar sudah membuat Bara marah. Bara yakin hasil rumah sakit itu palsu. Kalaupun itu asli, anak yang ia kandung jelas bukan anak Bara."
Bara segera mengambil ponselnya dari dalam saku dan menghubungi Reno.
"Halo Ren, Grace sudah benar-benar membuatku marah. Lakukan semua rencana kita, aku ingin ia dan keluarganya tahu akibat dari bermacam-macam dengan keluarga Wijaya. Dan aku ingin kau memeriksa hasil Lab Rumah Sakit yang baru saja Grace bawa, aku akan mengirimkan salinannya padamu"
Bara langsung mematikan ponselnya setelah mengatakan itu, tanpa menunggu jawaban Reno. Ia bersandar pada sofa dan memijit kepalanya yang berdenyut lebih kuat.
"Maaf Tuan, Nyonya"
Tiba-tiba seorang pelayan menghampiri mereka bertiga yang masih di ruang tengah.
"Ada apa Bi?" Tanya Reva yang daritadi diam
Pelayan tersebut mendekati Reva, untuk memberikan kotak tersebut lalu pergi menuju dapur. Reva pun menerima dan segera membuka isinya.
"Ya Tuhan.. Keyra" Reva berucap panik, saat melihat isi kotak itu adalah red velvet.
"Kenapa ma?" Bara langsung bereaksi, saat mendengar nama Keyra.
"Tadi mama minta Keyra kesini untuk nemenin mama masak, dan Keyra bilang mau bawa red velvet. Ini pasti red
velvet yang Keyra bawa"
"Jangan-jangan Keyra mendengar pembicaraan kita dengan Grace tadi" ucap Aldi curiga Reva pun mengangguk, memikirkan hal yang sama dengan Aldi.
__ADS_1
"Keyra pasti salah paham lagi sama Bara. Hari ini Bara harus bisa jelasin semuanya ke Keyra" Bara segera berlalu dari sana, untuk menuju ke rumah Keyra. Tidak ada yang ia pikirkan lagi, kecuali pujaan hatinya
*******
Keyra baru saja memasuki rumahnya, dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya. Ya tenaganya seakan terkuras habis, setelah mendengar sesuatu yang membuat hatinya hancur berkeping-keping.
Dia berjalan masuk ke dalam rumah dengan air mata yang memenuhi wajah cantiknya, namun tanpa sengaja ia menabrak Bi minah yang akan pergi keluar.
"Non.. Non Keyra kenapa? Kenapa Non nangis kayak gini?" Tanya Bi Minah panik
"Enggak apa-apa kok Bi. Maaf Keyra gak liat bibi lewat. Keyra ke kamar ya Bi"
Keyra melanjutkan langkahnya ke kamar, ia hanya ingin menghabiskan waktunya untuk meratapi kemalangan yang tak pernah habis ia hadapi.
Sedangkan Bi Minah merasa khawatir melihat Keyra yang menangis dan terlihat sangat rapuh, jadi ia memutuskan untuk menelpon Pram dan memberitahu tentang keadaan Keyra.
"Halo Tuan Pram."
"Iya Bi, ada apa? Di rumah baik-baik saja kan?" Tanya Pram di ujung telpon
"Semua baik Tuan, tapi..." Tiba-tiba bi Minah merasa bingung harus bagaimana cara menyampaikannya
"Tapi apa bi? Ada apa? Katakan langsung dengan jelas"
"Itu tuan, tadi nona Keyra pergi sebentar. Tapi pulang-pulang, Non Keyra menangis dan terlihat berantakan Tuan lalu langsung masuk kamar"
"Keyra menangis? Kenapa Bi? Memang Keyra dari mana?" Tanya Pram beruntun
"Tadi saya tanya, non Keyra tidak jawab Tuan. Yang saya tahu Non Keyra tadi pergi ke rumah nyonya Reva"
__ADS_1
"Apakah ini berkaitan dengan Bara lagi?" gumam Pram dalam hati. "Ya sudah Bi, saya pulang sekarang. Makasi Bi." jawab Pram kemudian
*******