
"Keyra Alenzy Aditama, maukah kamu jadi orang yang pertama aku lihat saat membuka mata, dan juga orang terakhir yang aku lihat saat menutup mata? Maukah kamu menjadi ibu dari anak-anak kita nanti dan selalu berada disisiku selamanya?"
Tanpa terasa sebulir cairan bening meluncur pada pipi Keyra, ia terharu dan tak menyangka atas semua yang Bara ucapkan. Hingga ia tak tahu harus menjawab apa.
"Will you marry me, Key?"
"Terima... Terima... Terima..." Begitulah suara para tamu yang menjadi saksi pengakuan cinta Bara.
Keyra masih bergeming, ia masih menatap lembut Bara yang masih berlutut dihadapannya.
"Bagaimana dengan Grace?" Alih alih menjawab, Keyra malah menanyakan orang yang telah merusak hubungan mereka dulu. Karena sesungguhnya hal itu yang masih membuat ia ragu untuk menjawab.
"Soal itu tak perlu kamu pikirkan lagi. Dia sudah pergi, dan akan kupastikan dia gak akan ganggu hubungan kita lagi" Bara tersenyum lembut pada Keyra.
"Jadi Key... Will You Marry Me?" Tanya Bara sekali lagi
Dan dengan mantap Keyra menjawab, "YesI Will, Bara Revaldi Wijaya"
Rasanya Bara tak bisa mengambarkan kebahagiaannya saat ini. Segera ia memasangkan cincin itu pada jari manis Keyra, yang ternyata sangat pas berada disana.
Kemudian ia mencium tangan Keyra yang telah terdapat cincin yang ia pasangkan. Bara berdiri, dan memeluk Keyra dengan sangat erat. Tepuk tangan dari para tamu pun semakin riuh terdengar.
"Terima kasih Key, Terima kasih. Aku mencintaimu"
Keyra tidak menjawab perkataan Bara, namun ia membalas pelukan hangat Bara. "Ya Tuhan, semoga aku tidak salah memilih. dan ijinkan aku bahagia kali ini" batin Keyra
Bara melepas pelukannya, membawa tangan besarnya untuk menangkup wajah Keyra. Kemudian Bara mendaratkan ciuman hangat pada kening Keyra, membuat Keyra tersipu malu karena dilakukan di depan banyak orang. Namun Bara sama sekali tidak merasa malu, karena baginya ciuman itu melambangkan seluruh rasa cinta yang ia miliki untuk Keyra.
*******
__ADS_1
"Ya ampun.. mama gak nyangka. Anak mama bisa seromantis itu" Itu lah seruan pertama yang Bara dan Keyra dengar setelah menuruni panggung. Mama Reva langsung menghampiri mereka dengan senyuman merekahnya.
"Bahkan papa kamu aja kalah romantisnya sama kamu, waktu ngelamar mama" kata Reva lagi sedikit mencibir suaminya.
"Walaupun lamaran papa gak seromantis Bara, yang penting lamaran papa gak bakal terlupakan kan Ma" jawab sang suami sambil tertawa diikuti tawa yang lainnya
"Papa bener Ma, lamaran Bara ini kan juga terinspirasi dari kata-kata papa kemarin" Bara mengatakan itu dengan mengedipkan sebelah matanya pada sang papa
"Kalian berdua ini memang kompak ya, saling mendukung. Tapi mama bener-bener seneng banget sekarang. Selamat ya sayang" akhirnya Mama Reva memeluk Bara dan Keyra bergantian. Bara dan Keyra pun membalas pelukan itu dengan tersenyum.
"Selamat untuk kalian berdua, akhirnya putra Papa bisa juga mengambil keputusan yang tepat" ucap Aldi sambil merangkul Bara
"Tentu pa, Bara gak mau kehilangan cinta Bara lagi"
"Tapi Ma, Pa, Keyra gak pernah tahu kalau Bara pinter nyanyi" Tanya Keyra tiba-tiba
"Sebenarnya dulu waktu Bara masih kecil, dia pernah punya cita-cita jadi penyanyi dan pernah menang beberapa lomba nyanyi juga. Tapi gak tau deh, sekarang malah ngikutin papanya jadi pebisnis" jawaban Reva membuat Keyra, Aldi dan juga Bara tertawa
Kemudian tatapan Keyra bertemu dengan sang papa yang sedari tadi belum berkomentar. Keyra memilih mendekati papanya.
"Pa, papa kenapa diem aja? Papa gak setuju ya?" Tanya Keyra
Kata-kata Keyra cukup membuat Bara dan kedua orang tuanya mengalihkan perhatiannya pada Keyra dan sang Papa.
Pram mengusap lembut pipi putrinya, "Mana mungkin papa gak setuju, kalau hal itu buat kamu bahagia"
__ADS_1
Bara menghembuskan nafas lega saat mendengarnya, tanpa ia sadar sedari tadi ia menahan nafas karena takut Om Pram tidak setuju. Karena ia pernah menyakiti Keyra.
"Terus papa kenapa diem aja? Dan keliatan gak suka gitu?" Tanya Keyra lagi
"Papa cuma gak seneng aja, Bara jadi ngerubah acara peresmian papa jadi acara lamaran buat kamu" jawab Pram dengan sedikit sindiran
Mendengar itu, Bara kemudian mendekat. Bara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf Om" ucap Bara pelan
"Hahahaha... Hanya bercanda, jangan dianggap serius Bara" tawa Pram membuat yang lain ikut tertawa begitu juga Bara yang awalnya sedikit merasa bersalah
"Hey.. tapi jangan panggil Om lagi. Sebentar lagi kamu akan jadi bagian Aditama juga. Keyra bahkan sudah lama memanggil orang tua mu dengan sebutan papa dan mama." Kata Pram menepuk pelan lengan Bara
"Baik pa" jawab Bara kemudian
"Jangan pernah sakiti Keyra lagi. Jika sampai terjadi, papa akan mengirim Keyra jauh dari sini. Dan akan papa pastikan, kamu tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi" ada nada ketegasan pada kata-kata yang Pram berikan pada Bara
"Tentu pa, Bara tidak akan melakukan hal itu lagi" Pram hanya menganggukkan kepalanya, kali ini ia akan mempercayai Bara. Ia yakin putri kesayangannya tak akan tersakiti lagi.
"Setelah ini, kita hanya perlu bersiap-siap. Karena papa yakin, besok berita tentang hari ini akan menjadi trending topik dimana-mana" kata Aldi dari belakang Bara
"Ya, tentu saja. Wijaya dan Aditama akan menjadi besan. Itu akan menjadi trending topik dalam beberapa hari" Pram menyetujui ucapan sahabatnya.
"Bahkan sekarang pun, sudah banyak wartawan yang sepertinya sangat penasaran. Untung pengamanan yang kau lakukan sangat bagus Pram" Reva pun menyetujui ucapan suami dan sahabatnya. Saat pandangannya tertuju pada beberapa bodyguard yang mencegah para wartawan untuk mendekati mereka.
"Sudah lah, tidak usah pikirkan itu sekarang. Aku akan menghubungi Lukas untuk menambah beberapa bodyguard lagi. Sekarang kita nikmati saja sisa acara malam ini" kata Pram lagi yang diangguki oleh yang lain
*******
__ADS_1