
"Kalau saya hamil, dan ini anak Bara"
Kalimat itu terus terngiang di pikiran Keyra, kalimat yang mampu membuat seluruh sarafnya seakan tak berfungsi lagi. Tadi ia baru saja tiba di Rumah Keluarga Wijaya dan mendengar ada keributan di ruang tengah, jadi dia memutuskan untuk langsung masuk.
Namun sebelum ia melihat keributan apa yang terjadi, kalimat itu sudah menghentikan langkahnya. Tepat dibalik pilar besar rumah itu, membuat kue yang ia pegang terjatuh. Dan untuk beberapa saat, ia merasakan dunianya runtuh tak tersisa. Mati-matian ia menahan isakannya agar tak terdengar siapapun.
Setelah itu, rasanya Keyra tak sanggup untuk berdiri. Tapi ia memaksakan kakinya untuk keluar dari rumah itu, karena ia tak sanggup untuk mendengar hal lainnya yang mungkin akan menyakitinya lebih dalam.
Tokk.. tokk..tokk
Saat Keyra masih meratapi kesedihannya, terdengar suara ketukan pintu. Tapi Keyra mengabaikannya, saat ini ia tidak ingin bertemu siapapun.
"Keyra.. ini papa. Kamu kenapa sayang? Buka pintunya."
"Papa?" Gumam Keyra lirih Dengan langkah berat Keyra memaksakan diri untuk bangun dan membuka pintu, ia menghapus kasar sisa-sisa air mata di wajahnya.
Ceklekk..
"Kamu kenapa sayang? Kenapa kamu berantakan gini?" Pram kaget melihat Keyra dengan mata merah dan sembab, juga terlihat sangat rapuh.
"Pa..."
Keyra memeluk erat papanya, lelaki pertama yang paling ia cinta dan tidak akan pernah menyakitinya. Pram membawa putrinya memasuki kamar, kemudian duduk di sofa yang terdapat disana.
"Kamu kenapa sayang? Cerita sama papa, jangan bikin papa khawatir"
Akhirnya pecah kembali tangisan Keyra di pelukan papanya. "Keyra gak kuat pa, Keyra mau
pergi aja. Keyra gak mau ketemu dia lagi, keyra gak mau liat dia lagi pa"
"Tenang sayang, kamu mau pergi kemana? Dan dia siapa yang kamu maksud?" Pram mengusap punggung Keyra untuk menenangkannya, agar bisa menceritakan semuanya.
"Bara pa... Bara..." Keyra terbata di tengah isakannya
"Ada apa sama Bara?"
"Bara, menghamili seorang wanita pa" Pram sangat terkejut mendengar itu, ia bahkan terdiam beberapa saat dan tak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Pa, maafin Keyra pa. Keyra gak bisa menuhin ucapan Keyra untuk terus sama papa disini, tapi Keyra bener-bener gak bisa disini pa" kata Keyra masih terisak
"Papa yang harusnya minta maaf sayang, papa gak bisa ngelakuin apapun buat kamu"
"Nggak pa, ini bukan salah papa. Keyra cuma perlu waktu untuk menenangkan hati dan pikiran Keyra. Untuk itu Keyra harus pergi"
"Iya sayang, papa akan urus semuanya untuk kamu. Kalau memang itu bisa membuat kamu lebih baik. Anak papa gak boleh sedih lagi" Pram melepaskan pelukannya, dan menghapus air mata di pipi Keyra.
__ADS_1
"Sekarang kamu siapin, apa aja yang mau kamu bawa. Biar nanti papa minta Bi Minah buat bantu kamu.Secepatnya kamu bisa pergi. Tapi kamu harus janji, setelah ini anak papa harus selalu bahagia"
Pram memandang lembut putrinya, ini sangat berat baginya. Untuk membiarkan Keyra jauh dari sisinya, tapi ia tahu
bahwa inilah yang paling Keyra butuhkan.
Keyra mengangguk dan berusaha tersenyum manis, "Keyra janji. Makasi pa. Keyra sayang papa" Keyra kembali memeluk papanya lebih erat.
"Papa lebih sayang kamu. Ya sudah sekarang kamu siapkan barang-barangmu, papa akan keluar"
Pram berdiri dari duduknya dan mengelus lembut puncak kepala Keyra, Keyra pun tersenyum. Kemudian Pram meninggalkan kamar Keyra.
*******
"Maaf Tuan, dibawah ada Tuan Bara ingin bertemu Nona Keyra" Pram baru saja menutup pintu kamar Keyra saat melihat Bi minah mendekati kamar Keyra.
"Mau apa dia datang ke rumah ini" Pram langsung geram, mengetahui Bara ingin menemui Keyra. Apa dia mau menyakiti putrinya lagi.
"Bi, tolong bantu Keyra berkemas. Saya akan menemui Bara dibawah, dan jangan katakan pada Keyra jika Bara kesini" Bi Minah mengangguk patuh. Pram segera turun, untuk menemui Bara.
Bara yang melihat Pram menuruni tangga, berdiri dari duduknya untuk segera mendekati Pram. Namun...
Buggh..
"Untuk apa kmau datang kesini? Belum puas menyakiti putriku?"murka Pram
Bara berusaha untuk bangun, tubuhnya terasa sangat lemah. Karena sakit kepalanya ditambah pukulan yang diterimanya dari Pram.
"Saya mohon Om, ijinkan saya bertemu Keyra. Ijinkan saya menjelaskan semuanya pada Keyra Om, setelah itu
terserah Keyra mau melakukan apa"
Pram membalikan tubuhnya, tidak ingin melihat Bara yang terlihat lemah dan tak berdaya.
"Keyra tidak ingin bertemu denganmu, lagipula sebentar lagi dia akan pergi. Jadi kau juga lebih baik
pergi"
"Pergi? Keyra akan pergi kemana Om? Keyra gak boleh pergi, sebelum denger penjelasan saya Om"
"Pergi ke tempat yang bisa membuatnya tenang, dan Om pastikan kamu gak akan pernah bisa menemukannya. Jadi sekarang pergi dari sini"
"Gak om, saya gak akan pergi sebelum bertemu Keyra. Tolong saya Om"
Pram tidak berkata apa lagi, dia memilih langsung pergi tanpa menoleh pada Bara. Ia harus mengurus segala sesuatu untuk keberangkatan Keyra.
__ADS_1
Sedangkan Bara, memilih untuk terus menunggu disana. Awalnya ia ingin langsung ke kamar Keyra, tapi ia tidak ingin berlaku tidak sopan.
Entah sudah berapa lama Bara menunggu disana, kepalanya makin terasa sakit ditambah lagi ia melewatkan makan siangnya.Badannya terasa panas dan matanya seakan berkunang-kunang. Namun ia harus tetap sadar untuk menunggu Keyra turun.
Hari sudah mulai gelap, dan Bara hampir kehilangan semangatnya. Namun tak lama, Bara melihat Keyra turun dari tangga dengan membawa 1 koper besar.
"Key... kamu mau kemana?" tanya Bara lemah dan berusaha mendekati Keyra
Keyra kaget saat melihat Bara berada di depannya dengan wajah lemah dan sedikit bengkak di sudut bibirnya, juga
pelipis yang berkeringat.
"Ngapain kamu disini?" Kerya berujar dingin
"Keyra, please dengerin aku dulu. Kamu jangan pergi Key. Apa yang kamu denger tadi siang itu gak bener"
Keyra mengabaikan Bara, ia memilih untuk menggeret kopernya menuju pintu keluar. Bara pun mengikuti Keyra dengan langkah tertatih, kepalanya seakan berputar saat melangkahkan kaki.
"Key, jangan pergi. Dengerin aku..."
Bruukk
Tiba-tiba Bara tumbang dan tak sadarkan diri, Keyra yang mendengar suara itu langsung berbalik dan terkejut
melihat Bara tergeletak. Keyra berjalan cepat menghampiri Bara, ia menyentuh pipi Bara untuk menyadarkannya. Namun Keyra merasakan pipi Bara sangat panas.
"Bar.. Bara bangun bara.. kamu kenapa Bara? Bangun Bara" Keyra mulai panik, karena Bara sama sekali tidak bereaksi.
"Pa... Papa.. Bara pa"
Pram setengah berlari menghampiri Keyra yang berteriak "Ada apa sayang?"
"Bara pingsan pa dan badannya sangat panas"
Pram berjongkok dan meraba badan Bara, benar saja sangat panas. Pantas tadi Bara terlihat sangat lemah, berarti dia sudah menahan sakitnya daritadi. Pikir Pram.
"Pak Ahmad..." Panggil pram pada sopir pribadinya.
"Saya tuan..."
"Tolong panggilkan beberapa orang untuk mengangkat tubuh Bara ke mobil, dan bapak siapkan mobil. Kita bawa Bara ke rumah sakit." Pak Ahmad segera mengangguk dan melakukan perintah tuannya.
"Tenang sayang, kita bawa Bara ke rumah sakit. Nanti papa akan mengabarkan Aldi"
Keyra hanya mengangguk, iasangat menghawatirkan Bara. Bagaimanapun didalam hatinya, ia masih mencintai Bara. Tak berapa lama, beberapa satpam juga tukang kebun keluarga Adhitama datang untuk membawa tubuh Bara memasuki mobil. Dan pak Ahmad segera melajukan mobil ke rumah sakit terdekat.
*******
__ADS_1
Part ini lumayan panjang, semoga suka ya :*