
Keyra POV
"Makasi Bara, udah nganter aku pulang. kamu mau mampir dulu?" ujarku sesaat setelah mobil yang Bara kendarai berhenti di depan rumah besar keluargaku.
"Gak perlu Key, aku langsung balik aja. Biar kamu bisa istirahat. Nanti malam ke rumah sakit, mau aku anter lagi? Biar aku jemput kamu" tanya Bara sambil menatapku lembut
Aku menggeleng, "Gak perlu Bar, nanti aku sendiri aja ke rumah sakit. Malam ini juga aku mau menginap di rumah sakit, dan besok berangkat ke kantor dari rumah sakit"
"Kamu yakin gak mau aku anter aja? Besok juga aku bisa jemput kamu lagi, buat nganter kamu ke kantor" Bara kembali menawarkan
Aku tersenyum dengan perhatian Bara, "Bukannya besok kamu udah harus kerja? Aku jadi takut Wijaya Group bisa bangkrut, kalau CEO nya malah mau jadi sopir pribadi ku" aku tertawa kecil dengan leluconku sendiri
__ADS_1
Bara terdiam dengan masih mengamati wajahku.
"Aku seneng liat kamu bisa tertawa lagi, itu lebih cocok denganmu daripada wajah murungmu Key" aku hanya mampu menatap lekat mata hitam Bara,
"Papa masih ngasi aku cuti buat gak masuk kantor selama 2hari, jadi besok harusnya aku masih free. Jadi kamu gak mau punya sopir pribadi setampan aku?" goda Bara sambil menaik turunkan alisnya
Aku kembali tertawa kecil dan menggeleng, "Aku takut gak bisa gaji kamu, kalau kamu jadi sopir pribadi aku" Bara tertawa pelan mendengar `jawabanku.
"Sekali lagi terima kasih untuk hari ini Bara. Hati-hati di jalan" aku tersenyum tulus kearah Bara, menunjukan padanya bahwa semua yang telah dia lakukan benar-benar berarti buatku.
__ADS_1
"Ahh ya, dan sebaiknya besok kamu segera kembali bekerja. Karena aku benar-benar takut kalau sampai Wijaya Group bangkrut karena CEO nya yang suka malas-malasan" sambungku sambil terkekeh, dan berjalan masuk ke dalam rumah tanpa mendengar jawaban Bara. Kemudian aku dengar deru suara mesin mobil Bara semakin menjauhi rumahku
Aku memasuki rumah besar ini dengan langkah pelan, rumah yang seakan menjadi saksi kebersamaanku dengan papa dan mama. Kebersamaan yang mungkin gak akan pernah terulang lagi sampai kapan pun. Semakin aku melangkahkan kakiku, melihat kesekeliling rumah, semakin hatiku terasa mencelos. Bayangan-bayangan saat aku dan mama memasak bersama di dapur, saat aku bersandar dengan papa sambil menonton tv dan mama datang membawakan kami kue yang baru dia panggang, dan saat...
Aku menggelengkan kepala ku kuat, mengenyahkan semua bayangan itu dari pikiranku. Sampai kepalaku terasa sakit, dan sebulir bening kembali jatuh mengaliri pipiku. Aku cepat-cepat berlari keatas menuju kamarku. Membukanya dengan kasar, dan segera menutupnya.
Harusnya tadi aku minta Bara nganter aku ke apartement, bukan ke rumah, yang malah bikin aku merasa hampa dan sepi.
Aku melangkah lunglai kearah ranjang Queen size ku, dan meliarkan sebentar mataku ke segala penjuru kamar. Semuanya masih sama, seperti saat aku tinggalkan ke Jerman. Papa pasti selalu menyuruh pelayan untuk selalu membersihkan kamar ini. Ahh, ngomong-ngomong soal pelayan, aku baru sadar tidak melihat satu orangpun dibawah tadi. Mungkin mereka sedang mengerjakan hal lain. Selain Bi Minah, ada beberapa pelayan, tukang kebun dan satpam yang juga dipekerjakan papa di rumah ini. Tapi Bi Minah lah yang paling lama bekerja disini, bisa di bilang bi Minah sudah seperti kepala pelayan.
Ku rebahkan tubuhku yang lelah diatas ranjang, karena semalam tidurku memang terasa kurang nyaman di rumah sakit. Sekarang aku benar-benar harus tidur, sebelum nanti sore kembali ke rumah sakit dan besok sudah mulai bekerja.
__ADS_1
*******
Jangan Lupa Like dan Comment nya ya guysss..