
Bara memilih menunggu di sofa depan tv sambil memperhatikan interior apartemen Keyra. Apartemennya tidak lebih besar dari milik Bara tapi dengan penempatan furniture yang rapi dan teratur, membuat apartemen ini terlihat sangat nyaman dan tentu saja aura feminimnya sangat terasa. Apartemen ini juga masih sangat bersih, padahal jika dari ceritanya sepertinya Keyra jarang kemari.
Cukup lama menunggu, akhirnya Keyra datang dengan 2 piring ditangannya yang masih mengepulkan asap dan dengan aroma yang sangat lezat. Keyra menaruh 2 piring tersebut di meja depan sofa yang diduduki Bara. “Maaf menunggu lama. Aku akan ambilkan airnya dulu”
Beberapa saat kemudian, Keyra kembali dengan 2 gelas air ditangannya. Kemudian duduk dibawah dengan beralasakan karpet bulu yang lembut yang diikuti Bara sambil menggulung lengan kemejanya sampai siku. “Tidak keberatan kan kalau makan lesehan begini? Karena aku suka makan sambil menonton supaya tidak terlalu sepi” Tanya Keyra sambil memasukkan sesuap spageti kedalam mulutnya.
Bara masih diam dan memperhatikan Keyra yang mengunyah spagetinya pelan. Hanya dengan memakai baju santai juga celana pendek dan rambut yang dicepol asal, sudah membuat Keyra terlihat cantik. Merasa diperhatikan, Keyra menoleh pada Bara. “Kenapa melamun? Tidak suka dengan spagetinya ya? Maaf aku hanya ingin makan spageti malam ini, tanpa bertanya apa kau mau atau tidak”
Tersadar dari lamunannya, Bara cepat-cepat menggeleng “Aku suka spageti, apa lagi carbonara. Dan buatanmu ini pasti spageti carbonara terlezat” setelah mengatakan itu, Bara segera menyuapkan spageti itu ke dalam mulutnya. Dan benar saja, rasanya memang sangat lezat bagi Bara. “Ini benar-benar enak, kau sangat pandai memasak” puji Bara
“Dulu mama yang sering mengajariku masak, kata mama seorang perempuan harus pandai memasak agar mampu menyenangkan hati pasangannya” tanpa sadar Keyra kembali mengingat kenangannya bersama sang mama. Saat mereka memasak bersama dan mencoba berbagai resep baru.
Menyadari kegundahan Keyra karena teringat sang mama, Bara mencoba mengalihkan pembicaraan. “Hm.. apa kah kau akan tinggal disini Key? Maksudku, tidak pulang ke rumahmu?”
Keyra menoleh sebentar pada Bara lalu tersenyum tipis dan menghela nafas pelan, “Rumah itu terlalu besar untuk aku tempati sendiri. Apalagi semenjak papa di rumah sakit, dan setiap bagian di rumah itu mempunyai kenangan yang menyakitkan bila diingat sekarang.Jadi daripada aku merasa kesepian di rumah sebesar itu, lebih baik aku disini. Lagi pula jarak dari sini ke rumah sakit dan ke kantor juga lebih dekat”
“Kalau kau mau, aku bisa sering kesini untuk menemanimu keyra. Jadi kau tidak akan merasa sendiri” hibur Bara sambil mengunyah pelan suapan spageti terakhirnya kemudian meneguk segelas air yang sudah disiapkan Keyra.
__ADS_1
Keyra menoleh menatap Bara, kemudian tersenyum lembut dan mengangguk."Terima kasih Bar, bukankah aku terlalu merepotkan untukmu?" kata Keyra merasa bersalah
"Tidak, tentu saja tidak. Kau sama sekali tidak pernah merepotkan" jawab Bara cepat
Bara melihat ada sedikit noda spageti disudut bibir Keyra, kemudian dengan reflek ia mengusap noda tersebut dengan lembut. Tidak bisa lagi menahan keinginannya untuk mengecup bibir merah muda itu, akhirnya perlahan Bara mulai mendekatkan wajahnya pada Keyra dengan tangannya yang masih berada di dagu Keyra. Seperti terhipnotis, Keyra hanya memejamkan matanya tanpa ada penolakan. Hingga akhirnya Bara bisa merasakan benda kenyal berwarna merah muda itu menempel di bibirnya. Sangat lembut dan manis.
Ini bukan pertama kali bagi Bara ataupun Keyra untuk berciuman, tapi apa yang mereka rasakan benar-benar berbeda. Rasanya begitu memabukkan. Kedua bibir itu saling memangut dan menyecap satu sama lain, seperti tidak ada hari esok.
Sampai akhirnya dengan terpaksa Bara harus lebih dulu melepaskan pangutan itu, karena merasakan pasokan oksigen yang hampir menipis diantara mereka. Keyra bisa merasakan bagaimana debaran jantungnya yang menggila karena kejadian tadi. Tidak berbeda jauh dengan apa yang dirasakan Bara di sebelahnya.
“Maaf Key…” akhirnya Bara memecah keheningan yang tercipta diantara mereka.
"Seharusnya aku gak ngelakuin itu ke kamu, seharusnya aku bisa nahan diriku setelah kamu bener-bener udah nerima aku" lanjut Bara
Keyra merasa bersalah karena ucapan Bara, ciuman tadi sama sekali bukan kesalahan. Karena diapun menikmati ciuman itu, tapi kenapa Bara harus meminta maaf?
__ADS_1
"Kamu gak salah Bara, untuk apa minta maaf? Aku gak apa-apa" ucap Keyra sambil berdiri dan membawa piring yang telah kosong ke dapur.
Bara masih terduduk bingung memikirkan ucapan Keyra. Apakah itu artinya ia boleh mencium Keyra? atau apa? Ahhh.. Bara sendiri tidak mengerti dengan pikirannya. Yang jelas, dia harus lebih berhati-hati sekarang. Ia tidak ingin Keyra menganggapnya kurang ajar.
Bara bangkit dari duduknya, kemudian menyusul Keyra ke dapur. Saat sampai di dapur, ternyata gadis itu sudah selesai mencuci piring.
"Hmm.. Key.. kalau gitu aku pulang dulu. Terima kasih untuk makan malamnya. Kalau kamu butuh apa-apa jangan segan-segan buat telpon aku" kata Bara berusaha mengenyahkan kecanggungan akibat ciuman mereka tadi. Keyra mengangguk dan tersenyum simpul sebagai jawabannya
Kemudian Keyra mengantarkan Bara sampai ke depan pintu apartemen nya.
"Selamat malam Keyra." ujar Bara sambil melambaikan tangannya dan berjalan menjauhi apartemen Keyra.
"Selamat malam" balas Keyra dam membalas lambaian tangan Bara, sampai lelaki itu hilang memasuki lift.
*******
Mohon dukungannya guysss...
Vote... Like... Coment... dan Favorit kan kalau kalian suka ceritanya.
__ADS_1
Makasi :*