
Keluarga Wijaya dan Aditama baru saja selesai makan malam bersama, dan sekarang mereka sedang mengobrol di ruang keluarga mansion Wijaya.
"Sayang sekali kita belum pernah makan malam bersama saat ada Bara, mungkin nanti setelah Bara kembali dari Jerman kita bisa makan malam bersama. Sekalian membicarakan tentang kelanjutan hubungan Bara dan Keyra. Bagaimana menurutmu Pram?" Aldi membuka suara kemudian memberikan pertanayaan untuk sahabatnya Pram yang berada di sebelahnya.
"Aku setuju saja Al, tapi semua tergantung Keyra nya bagaimana" Pram mengalihkan tatapannya pada Keyra, sedangkan Keyra hanya tersenyum kaku mendapat tatapan dari sang papa dan papa Aldi.
"Tentu saja Keyra setuju. Iya kan sayang? Mama udah gak sabar pengen bisa masak dan belanja tiap hari sama kamu" sela mama Reva karena tidak mendapat jawaban dari Keyra
"Kan sekarang juga kita udah sering masak dan belanja bareng ma"
"Tapi kan bakal beda kalau nanti kamu udah resmi jadi menantu mama" Reva tersenyum memandang Keyra yang ada di sebelahnya.
Keyra sebenarnya cukup bingung untuk mengiyakan, karena sejujurnya ia dan Bara pun belum pernah membicarakan pernikahan. Karena mereka masih sama-sama belajar memahami satu sama lain, apa lagi hubungan mereka yang masih hitungan bulan.
"Oh ya sayang, hari ini Bara udah ada ngubungin kamu? Dia baik-baik aja kan? Dia jadi pulang 4 hari lagi kan?" Tanya Reva mengalihkan pembicaraan saat melihat Keyra yang mungkin agak canggung dengan pembahasan
sebelumnya.
"Udah kok Ma, tadi siang Bara udah sempet nelpon aku dan dia baik-baik aja"
"Dasar anak itu, dia selalu ngubungin kamu. Tapi ngubungin mamanya cuma waktu dia sampai Jerman aja, setelah itu mama yang harus duluan nanya ke dia"
"Ya ampun ma, masa kamu cemburu sama calon menantu sendiri? Bara bukan anak kecil lagi, jadi jangan terlalu khawatir gitu" Kata Aldi dengan lembut kepada istrinya
__ADS_1
"Iya papa, mama tahu Bara bukan anak kecil lagi. Siapa bilang mama cemburu, mama seneng kalau Bara terus ngabarin Keyra karena saat jauh kayak gini memang komunikasi yang terpenting"
Keyra hanya mengangguk membenarkan perkataan Mama Reva, memang saat hubungan jarak jauh seperti ini komunikasi akan menjadi hal terpenting dalam suatu hubungan.
"Ya sudah, sepertinya ini sudah cukup larut. sebaiknya aku dan Keyra pamit pulang. Terima Kasih untuk makan malam hari ini. Lain kali, kalian yang harus makan malam di rumah kami" ucap Pram sambil berdiri, dan berjalan
menuju pintu keluar yang diikuti oleh yang lain
"Iya nanti Papa Aldi dan Mama Reva gantian makan malam di rumah, biar nanti Keyra masakin makanan special" sahut Keyra yang berjalan di belakang Pram dan bersebelahan dengan mama Reva.
"Tentu sayang, nanti pasti Mama dan Papa akan berkunjung kesana. sekalian sama Bara juga. Buat lamar kamu" kata Reva sambil terkekeh diakhir kalimat. Yang diikuti tawa dari yang lainnya.
*******
Namun ada sesuatu yang aneh Keyra rasakan tentang Bara, saat 3 hari Bara di Jerman semuanya nampak biasa. Bara yang selalu menyempatkan untuk melakukan video call dengannya, tapi di hari keempat Bara sama sekali tidak menghubunginya.
Awalnya Keyra pikir, mungkin karena hari itu Bara terlalu sibuk jadi dia tidak sempat memberi kabar. Dan saat hari kelima Keyra langsung melakukan video call pada Bara untuk mengetahui kabar lelaki itu. Saat itu wajah Bara terlihat 2x lebih lelah dari terakhir kalinya.
Tapi selain itu, ada pancaran ketakutan dimata Bara saat melihat Keyra. Seakan ada yang ingin Bara tutupi darinya, karena sejujurnya selama mereka berpacaran Bara bukanlah seorang pembohong yang baik. Saat ia berbohong, sangat nampak dari mata dan gerakan tubuhnya. Dan saat itu pula Keyra langsung menanyakan pada Bara tentang apa yang terjadi, namun jawaban yang Bara berikan saat itu seakan ingin menghindar dari Keyra.
"Aku gak apa-apa Key cuma kecapean aja, karena aku pengen bisa cepet pulang. Jadi aku berusaha nyelesein semua secepetnya. Udah dulu ya Key, aku tutup telponnya"
Itu lah jawaban Bara saat itu, dan setelah telpon itu Bara tidak pernah menghubungi Keyra lagi. Bahkan saat Keyra yang menghubungi duluan, Bara tidak mengangkatnya.
__ADS_1
*******
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pesawat pribadi keluarga Wijaya sudah terlihat memasuki landasan. Dan tidak berselang lama terlihat sosok laki-laki yang seminggu ini sangat Keyra rindukan, tengah berjalan mendekat dengan koper besar disebelahnya
Bara langsung memeluk Keyra sangat erat, sampai membuat Keyra hampir sulit bernafas.
"Aku kangen banget sama kamu Key. Aku takut, nanti gak bisa peluk kamu kayak gini lagi" bisik Bara lirih, namun masih dapat di dengar oleh Keyra karena pelukan yang sangat erat dari Bara.
Keyra yang yang merasa aneh saat mendengar kalimat terakhir dari Bara pun berusaha melepas pelukan Bara, kemudian memandang lekat wajah tampan Bara.
"Maksud kamu apa Bar? Kenapa kamu takut gak bisa meluk aku lagi?"
"...."
"Ya ampun, tahu deh yang udah kangen banget. Sampe lupa sama mama papanya, yang dipeluk duluan cuma Keyra."
Belum sempat Keyra mendengar jawaban Bara, Mama reva telah menyela obrolan itu kemudian memeluk Bara bergantian dengan papa Aldi di belakangnya.
"Ya sudah, ayo kita pulang. Key, kamu ikut sekalian makan malam di rumah ya"
Perkataan papa Aldi hanya dijawab anggukan singkat oleh Keyra, karena ia masih memikirkan maksud dari kata-kata Bara tadi. Kemudian mereka semua berjalan menuju mobil untuk kembali ke kediaman keluarga Wijaya.
*******
__ADS_1