
KEYRA POV
Aku merenggangkan otot-otot ku yang tegang, setelah berjam jam berkutat dengan berkas yang harus aku tanda tangani. Sudah waktunya makan siang, sebaiknya aku menyuruh Jessy membawakan makan siang ke ruanganku. Jessy adalah sekretarisku selama di Jerman. Selagi menunggu makanan ku tiba, aku memutuskan memandangi pemandangan kesibukan kota dari jendela kantorku.
Sudah seminggu terlewati dari aku menemani Bara ke pesta, setelah itu kami belum ada waktu untuk bertemu lagi. Aku sibuk dengan proyek pembangunan yang akan perusahaanku kerjakan, begitu juga Bara, apa lagi dia seorang pewaris Wijaya Group pasti kesibukannya 2x lipat dariku. Namun walaupun begitu, kami masih sering bertukar kabar lewat pesan atau telepon.
Setelah mengetahui bahwa Bara adalah pewaris Wijaya Group, aku jadi semakin bingung dengan perasaanku. Entahlah setelah mengetahui fakta mengejutkan itu, aku merasa tidak pantas berada di sampingnya. Bukan, bukan karena aku minder dengan hartanya, tapi alasannya lebih kepada karena diriku sendiri. Karena aku hanya seorang Keyra, gadis yang sedang berusaha memperbaiki hatinya karena penghianatan kekasih dan sahabatnya, dan Keyra yang sekarang seorang gadis broken home.
Aku merasa dia bisa mendapatkan yang lebih segalanya daripada aku, mungkin orang itu Grace, gadis berambut pirang yang memeluk Bara dengan erat saat itu. Ahh.. setiap mengingat kejadian itu, rasanya hatiku terasa panas.
Sudah lah, untuk apa aku memikirkan hal itu. Lagian belum tentu Bara menyukaiku kan? Lelaki seperti Bara, pasti memiliki banyak gadis disisinya dan Grace merupakan salah satunya. Ciuman di kening itupun tidak berarti apapun, mungkin hanya sekedar ucapan selamat malam biasa. Disaat perasaanku yang tidak tenang seperti ini, aku jadi teringat papa. Aku sangat merindukannya.
Sudah seminggu pula aku belum sempat menghubungi papa, aku jadi ingin menghubungi nya. Aku melirik jam tangan ku, pukul 1 siang berarti di Indonesia sudah malam, mungkin papa sudah istirahat. Sebaiknya aku telpon papa nanti malam, dan selagi menunggu Jessy membawakan makan siangku, lebih baik aku menyelesaikan beberapa pekerjaanku lagi. Sehingga aku tidak perlu lembur malam ini, dan segera pulang untuk menelpon papa.
Malam Harinya...
Pekerjaan yang aku pikir bisa ku selesaikan tepat waktu, ternyata tidak juga. Akhirnya aku tetap baru pulang dari kantor pukul 8 malam, ya setidaknya aku tidak lembur hari ini. Sebaiknya aku segera pulang ke apartement dan menghubungi papa.
Sesampainya di apartemen, aku langsung mengganti pakaianku kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai dengan ritual mandiku, aku mengambil burger yaang tadi aku beli saat perjalanan pulang di salah satu restaurant junk food. Setidaknya lebih praktis, daripada aku harus memasak untuk makan malam.
Jam menunjukan hampir tengah malam, saat aku memutuskan menghubungi papa. Biasanya papa selalu bangun pagi, untuk sekedar berjalan-jalan di taman mencari udara segar. Semoga papa sudah bangun, jadi aku tidak mengganggu istirahat papa.
Kurebahkan tubuhku keatas tempat tidur berukuran queen sizeku, lalu meraih handphone yang terletak dinakas. Segera kutelepon papa, setelah terdengar beberapa kali nada tunggu, akhirnya suara papa terdengar dari seberang sana.
“Papa, aku merindukanmu” kataku dengan nada manja.
__ADS_1
Ku dengar papa terkekeh lalu mendengus pelan, “apa kamu sangat sibuk sampai-sampai tak bisa menghubungi papa seminggu ini? Apa pekerjaanmu disana terlalu menyita waktumu?”
“Maafkan aku pa, aku cukup sibuk untuk mengurus proyek pembangunan hotel yang perusahaan kita tangani. Seminggu ini aku meeting dengan beberapa supplier, karena ada beberapa supplier yang ingin menaikkan harga bahan baku dari yang semula telah ditetapkan, tapi beruntung setelah negosiasi kita bisa membujuk mereka untuk tidak menaikkan terlalu tinggi dari harga semula. Lalu aku mengajak meeting tim produksi dan tim pemasaran, aku harus mendorong mereka bekerja dengan maksimal karena kenaikan harga bahan baku” celotehku panjang lebar.
“Sepertinya kamu bekerja sangat giat, jangan terlalu memaksakan dirimu sayang, ingat itu”
"Iya papaku sayang, aku mengerti. aku bisa menghandle semuanya disini. dan aku baik-baik saja. Papa tidak perlu khawatir."
"Baiklah papa percaya padamu. Bukankah sekarang di Jerman sudah tengah malam? Kenapa kamu tidak istirahat? Kamu sudah makan malam kan?"
"Sudah pa, tadi aku makan malam dengan burger. Hehehe" pasti setelah ini papa akan marah karena tau aku hanya makan makanan junk food, kataku dalam hati
"Sayangggg... kamu tau kan junk food itu tidak baik bagi kesehatan"
"Kalau begitu papa akan mencarikan pelayan untuk mu di apartement, agar ada yang menyiapkan semua keperluanmu."
"Tidak perlu papa, lagipula aku lebih banyak menghabiskan waktu di kantor daripada di apartement. Jadi tidak perlu mempekerjakan pelayan."
"Baiklah kalau begitu, kau memang selalu keras kepala. Tapi ingat kalau kau butuh apa-apa, segera hubungi papa. Mengerti?"
"Siap laksanakan, Tuan Pramudya Aditama" jawabku sambil terkekeh, dan ku dengar papa juga ikut tertawa.
Hening...
__ADS_1
"Araaaa..." saat papa memanggilku dengan nama kecilku, pasti ada sesuatu yang penting yang papa ingin agar aku lakukan.
"Iya pa?"
“Papa ingin memberitahumu kalau mama mu akan segera menikah lagi dengan pria itu. Pernikahannya akan berlangsung di Bali, datanglah”
Deg...
Akhirnya semuanya memang akan menjadi seperti ini, ku dengar papa menghembuskan nafas panjang dan nada suara papa berubah menjadi sedih. Aku tahu kalau papa masih sangat menyayangi mama, sangat… tapi mama telah dibutakan oleh cinta pertamanya.
“Apa papa akan datang?” tanyaku. “Aku tak akan datang, pa! Untuk apa aku datang kalau harus melihat keluargaku hancur?” hardik ku
“ Ara sayang, jangan lakukan itu, itu akan menyakiti hati mamamu”
“Tapi apa yang dia telah lakukan dengan lelaki itu, lebih menyakiti kita pa. Bahkan dia tidak peduli tentang perasaan ku, perasaan papa”kataku dengan mata yang sudah berkaca-kaca
“Datanglah ara, demi papa. Papa mohon sayang” pinta papa lirih, hingga aku tak mampu menahan air mata ku untuk mengalir.
“Tidak pa. aku tidak akan datang. Pa, kita tidak harus tersakiti lebih dari ini…” teriakku sambil menahan isakanku, lalu menutup telepon papa tanpa menunggu balasannya.
Maaf pa, maaf kan aku. Jika aku menyakiti papa. Isakku pelan, tanpa bisa ku tahan lagi akhirnya tangisku pun pecah.
Apa yang ada dipikiran mama sehingga harus menyakiti papa dan aku seperti ini? Meskipun menikah tanpa adanya rasa cinta tapi tidakkah ia melihatku? Hasil dari perbuatan mereka? Aku sudah tidak muda lagi, aku bahkan harusnya sudah memikirkan pernikahan, tapi mama yang sudah tidak muda lagi masih memikirkan cinta pertamanya yang entah selama bertahun-tahun ini hidup seperti apa.
Aku menyeka air mataku yang berlinang, lalu menatap foto keluarga yang terpajang di nakas yang terletak disebelah tempat tidurku. Foto keluarga yang tampak harmonis, tapi ternyata hanya dalam sebuah pigura saja.
__ADS_1
*******
Pleaseee Support dengan Like dan komennya ya guyyssss.. :)