
KEYRA POV
Aku berjalan pelan menyusuri koridor rumah sakit, tenaga ku sudah kembali pulih setelah tertidur selama 2jam tadi. Rasanya jauh lebih baik dibanding kemarin. Aku sudah membawa setelan kerjaku untuk ke kantor besok, setelah ini aku akan meminta bi Minah pulang dan aku yang akan menjaga papa.
Sesampainya aku di depan kamar rawat papa, aku langsung masuk tanpa mengetuk pintu, karena aku pikir hanya akan ada bi Minah di dalam. Tetapi ternyata ada sepasang paruh baya yang sedang duduk disebelah ranjang papa, dengan pakaian yang berkelas yang mereka kenakan.
"Maaf, Tuan dan Nyonya siapa?" tanyaku kepada pasangan paruh baya itu, karena aku rasa mereka tidak menyadari keberadaan ku.
Sesaat kemudian mereka berbalik menghadapku. Pasangan paruh baya yang masih terlihat begitu tampan dan cantik, walaupun dengan guratan halus yang sudah nampak terlihat di wajah masing-masing. Aku mencoba mengingat siapa ke dua orang ini, sepertinya aku belum pernah melihat mereka.
Tapi jika lebih aku perhatikan lagi, wajah sang pria mengingatkanku pada seseorang, seseorang yang belakangan ini sering menemaniku. Ya, wajah pria ini seperti Bara tapi versi lebih tua, hanya saja warna matanya yang berbeda. Aku tersadar dari pikiranku, kenapa aku jadi memikirkan Bara. Bukan kah banyak orang yang mirip di dunia ini?
"Apa kau Ara?" tanya pria tersebut dan otomatis membuyarkan lamunanku
"Ara? Ya saya Keyra Alenzy Aditama, bagaimana Tuan bisa tau nama kecil saya? dan Tuan sendiri siapa?" tuntutku karena belum mendapatkan jawaban dari pria ini
"Ternyata Pram benar, bahwa putrinya sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik" pria itu tersenyum ramah, dan senyuman itu lagi-lagi mengingatkan ku dengan Bara. Huhh.. Ada apa dengan pikiranku
"Oh ya, Aku Aldi dan ini istriku Reva, kami adalah teman papamu saat kuliah. Bisa dibilang kami sahabat." aku tersenyum dan sedikit membungkukkan badanku setelah mengetahui mereka adalah sahabat papa.
"Apa Tuan dan Nyonya sudah lama disini? Dimana bi Minah?" tanyaku karena tidak melihat keberadaan bi Minah
"Panggil kami Om dan Tante, sayang." jawab tante Reva dengan senyuman ramahnya. Wanita ini benar-benar sangat cantik, apa lagi saat tersenyum seperti itu.
__ADS_1
"Kami baru saja sampai disini, kalau bi Minah tadi minta ijin untuk ke kantin. Jadi kami menggantikannya menjaga papa mu sebentar." sambungnya masih dengan tersenyum
"Terima kasih Om Tante", ucapku sambil membalas senyuman mereka
"Baru seminggu yang lalu, Om ketemu sama papa kamu. Memang saat itu papa kamu sudah terlihat kurang baik, ia terlihat lelah dengan beban berat dipundaknya. Dan Om sebagai sahabat hanya bisa menjadi pendengar yang baik, untuk mengurangi beban yang ia tanggung, seperti saat kami kuliah dulu" cerita Om Aldi, dan aku hanya diam mendengarkan ceritanya
"Tapi sepertinya beban yang ia hadapi sekarang terlalu berat baginya, bahkan Om tidak pernah melihat seorang Pramudya Aditama menangis, namun seminggu yang lalu ia menangis saat menceritakan tentang mama mu dan putri kecilnya" sambung om Aldi
Aku membekap mulutku, untuk menahan isakan ku agar tidak keluar. Sedangkan air mataku sudah mengalir deras. Ya Tuhan, papa menangis? Betapa egois nya aku sebagai anak. Aku pergi melarikan diri, tanpa memikirkan perasaan papa. Padahal dia pasti juga merasakan sakit dan kecewa seperti yang aku rasakan, karena wanita yang ia cintai lebih memilih pergi dengan lelaki lain. Tapi papa tidak pernah menunjukan kesedihannya padaku, dan tetap membiarkan aku pergi.
Aku merasakan pelukan hangat melingkupi tubuhku, pelukan hangat yang sudah lama aku rindukan, pelukan hangat seorang ibu. Tante Reva memelukku sambil mengusap pelan punggungku sambil mengucapkan kalimat-kalimat penenang. Bukannya berhenti, tapi aku kembali terisak dalam dekapan hangat ini, seolah ingin menumpahkan segala bebanku.
"Ak..u merasa menjadi anak yang buruk Tante" kata ku sesengukan di pelukan tante Reva
"Seharusnya aku gak pernah pergi ninggalin papa, seharusnya aku selalu disini sama papa" sambungku
"Sssttt... kamu bukan anak yang buruk sayang. Tante ngerti kamu juga pasti butuh ruang untuk ketenangan hatimu, dan papamu juga pasti ngerti. Yang penting sekarang kamu disini, selalu disisi papa kamu"
Aku hanya mengangguk tanpa membalas ucapan tante Reva.
"Papamu akan segera pulih, Om sudah menghubungi dokter jantung terbaik disini. Dan kalau perlu Om akan mendatangkan Dokter jantung terbaik dari Singapura untuk menangani papa mu. Kamu tenang saja. Yang harus kamu pikirkan sekarang, fokuslah untuk menggantikan papamu di perusahaan. Buat papamu bangga saat ia membuka mata nanti." ujar Om Aldi di sampingku.
__ADS_1
Aku melepaskan pelan pelukan tante Reva, menghapus sisa air mata diwajahku kemudian menatap Om Aldi dengan senyuman , "Terima kasih Om, terima kasih banyak. Keyra akan berusaha keras, Keyra bakal membanggakan papa" kataku yakin
Om Aldi mendekat dan menepuk pelan kepalaku, tante Reva mengelus sebelah tanganku dan berkata "Kamu gadis yang cantik sayang, kamu kuat dan tegar. Kalau saja anak tante belum memiliki pujaan hati yang sudah lama diincarnya, pasti tante akan mengenalkan anak tante padamu. Tante ingin sekali memiliki menantu sepertimu"
Aku hanya tersenyum kikuk mendengar perkataan tante Reva, setelah tante Reva melihat wajahku yang sembab karena menangis dan tante Reva masih mengatakan aku cantik? dan ingin mengenalkanku pada putranya? Aku benar-benar tidak bisa membayangkannya. Tapi ku lihat Om Aldi hanya tersenyum penuh arti dengan perkaataan istrinya.
"Baiklah sepertinya Om dan Tante harus pulang sekarang" ucap Om Aldi
Akupun mengangguk dan mengantarkan mereka sampai di depan ruang rawat papa.
"Jaga dirimu Key, jangan terlalu lelah menjaga papamu" Om Aldi menepuk pundakku pelan dan aku hanya mengangguk
"Jaga dirimu sayang, kalau tante tidak sibuk, tante akan berkunjung lagi kesini" kata tante Reva sambil memeluk ku kembali.
"Terima Kasih tante" jawabku singkat sambil membalas pelukannya." Siapapun yang nanti menjadi menantu tante Reva, dia pasti sangat beruntung memiliki mertua yang sangat baik dan hangat seperti tante Reva.
Setelah Om Aldi dan Tante Reva pergi, aku kembali memasuki ruangan papa dan duduk di sisi ranjang. Ku genggam tangan Papa.
"Pa, papa kapan bangun? Papa gak kasian sama Keyra yang sendirian?" sapa ku pada papa
"Pa, tadi Om Aldi dan tante Reva kesini. Mereka keliatan baik banget pa." lanjutku, "Oya pa, Keyra mau cerita sama papa soal Bara pa. Bara itu temen Keyra waktu SMA dan katanya dia cinta sama Keyra. Tapi Keyra belum bisa nerima cintanya dia, menurut papa Keyra mesti gimana? Papa dengerin key kan?." ceritaku bermonolog pada papa, walaupun aku berharap papa akan menjawab kata-kata ku. Tapi yang kudapat hanyalah keheningan.
__ADS_1
*******
Vote dong guysss.. like dan coment juga ya :*