
"Kenapa kau menghalangiku mengejar Bara?" Tanya Grace sengit
Jerry mengangkat bahunya, "Berikan mereka waktu berbicara berdua. Lagipula ada apa denganmu yang masih terobsesi dengan Bara?"
"Obsesi? Aku tidak terobsesi, tapi aku mencintai Bara"
Jerry tertawa, "Tidak ada cinta yang memaksakan sesuatu"
"Itu bukan urusanmu. Kau sendiri? Aku yakin dari tatapanmu, kalau kau menyukai Keyra kan?"
"Iya, aku menyukainya."
"Kalau begitu, kita bisa bekerja sama. Kau bisa mendapatkan Keyra, dan aku bisa memiliki Bara"
Jerry menggeleng, "Cinta yang dipaksakan, tidak akan membuatmu bahagia. Apa kau tidak melihat bagaimana
tatapan penuh cinta antara Bara dan Keyra? Tapi kau malah ingin memaksakan obsesimu, yang kau anggap cinta?"
"Aku tak peduli, aku harus mendapatkan apa yang aku mau"
Jerry tersenyum miring, dia tidak menyangka obsesi yang dimiliki Grace sejak kuliah. Sampai terbawa hingga kini.
"Aku tidak akan menjadi gila sepertimu. Lagipula sebentar lagi urusanku di Indonesia selesai, setelah itu aku akan
menetap di Perancis. Dan sebaiknya kau mencari seseorang yang benar-benar bisa mencintaimu bukan karena paksaan."
Jerry berdiri, menaruh beberapa lembar uang diatas meja dan akan meninggalkan Restaurant
"1 pesanku, jangan membuat seorang Bara Wijaya murka. Karena kau tidak akan pernah tahu apa yang bisa dia
lakukan, dengan kekuasaan yang dia miliki, bahkan sampai diluar negera ini"
Kemudian Jerry keluar tanpa menoleh lagi pada Grace, ia tidak ingin terlibat dengan kegilaan Grace.
Grace mengepalkan tangannya diatas meja.
"Bukan hanya Wijaya yang memiliki kekuasaan, tapi Jackson juga memiliki itu. Jika dia tidak mau membantuku, maka aku bisa melakukannya sendiri" geram Grace bermonolog
*******
Sudah 2hari semenjak Keyra bertemu dengan Bara di restaurant. Hari itu Keyra kembali menangis setelah sampai
dirumahnya.
__ADS_1
Entah apa yang Keyra tangisi, dia pikir rasa sakit yang ia rasakan sekarang akan mudah berlalu. Karena hubungannya dengan Bara pun belum lama. Tapi sepertinya Keyra salah. Hubungan lama atau sebentar tidak pernah menjamin seberapa dalam sakit seseorang jika terhianati, dan Keyra menyadari itu sekarang.
Sudah 2hari ini, Keyra tidak melakukan apapun dan tidak pergi kemanapun. Ia hanya menghabiskan waktunya di rumah, untuk sekedar menenangkan pikirannya.
Papanya pun sudah berkali-kali memintanya untuk berlibur. Tapi berlibur seorang diri? Sepertinya tidak akan cukup membantu
Drrtt.. Drrtt.. Drrtt
Tiba-tiba ponselnya bergetar, dan ternyata dari Mama Reva.
"Halo Ma..."
"Halo Keyra, kamu lagi ngapain?"
"Cuma lagi baca buku ma. Ada apa?"
"Apa siang ini kamu mau ke rumah mama? Mama kangen masak sama kamu. Gimana sayang?"
"Siang ini? Ehmm.. tapi ma.."
"Bukan ma, Keyra mau. Tapi Bara..."
"Bara kan di kantor Key, lagipula sudah 2 hari ini Bara tidak pulang ke rumah lagi. Sepertinya dia banyak
pekerjaan, jadi hanya pulang ke apartementnya. Lagipula mama juga sudah tidak perlu mengantarkan makan siang lagi ke kantor, jadi tidak akan ada masalah"
Sudah dua hari Bara tidak pulang? Apa mungkin setelah pertemuan mereka di restaurant? Pikir Keyra
"Jadi gimana Key? Mau kan sayang?" Desak Reva penuh harap
"Oke deh ma. Nanti Keyra kesana. Mama mau Keyra belikan sesuatu dulu sebelum kesana?"
"Mama seneng banget dengernya. Makasi ya sayang. Kamu gak pelu beli apa-apa, semua bahan masakan sudah mama beli"
"Tapi Keyra kan udah cukup lama gak mampir, jadi gak enak kalau gak bawa apa-apa. Gimana kalau Keyra beliin red velvet untuk penutupnya? Keyra tahu red velvet yang enak"
"Ya udah, boleh deh kalau gitu. Mama juga lagi pengen kue yang manis manis"
Keyra tersenyum, "Iya ma, nanti Keyra beliin. Sebentar lagi Keyra siap-siap ke rumah mama. Byee ma"
__ADS_1
"Bye.. Key. Mama tunggu ya"
Jam sudah menunjukan hampir jam 11, Keyra memutuskan untuk segera bersiap-siap ke rumah Reva.
*******
Bara memijat kepalanya yang berdenyut, sejak pagi ia sulit berkonsentrasi karena sakit kepalanya yang cukup menyiksa. Sepertinya tubuhnya mulai berontak, karena tidak diperlakukan dengan baik oleh Bara.
Tepatnya semenjak Keyra pergi meninggalkannya. Dan di tambah setelah pertemuan mereka di restaurant 2 hari lalu. Benar-benar berdampak besar bagi dirinya.
Selama 2 hari ini, Bara hanya menghabiskan waktunya di kantor. Hanya karena untuk menyibukkan pikirannya, agar tidak selalu memikirkan Keyra. Bahkan tidak terhitung berapa botol minuman beralkohol yang dia habiskan untuk membersihkan otaknya, namun semua tidak berhasil.
Beruntung Reno tidak mengadukan kelakuannya ini pada orang tua nya, jika orang tua nya sampai tahu, entah bagaimana reaksi mama dan papanya. Karena itu, selama 2 hari ini Bara mengatakan ia tidur di apartement. Padahal kenyataannya ia selalu berada di kantor, kurang tidur dan minum-minum di kamar pribadinya.
Tokk.. tokk.. tokk
"Maaf Tuan, saya membawakan laporan yang kemarin minta anda revisi"
Bara tidak menjawab, ia masih menopang kepalanya dengan kedua tangannya di meja.
"Anda baik-baik saja Tuan?"
Bara sedikit menoleh pada Reno, "Kepalaku sedikit sakit, bisa kau bawakan aku obat?"
Reno mengangguk, kemudian pergi untuk mengambilkan obat yang dibutuhkan Bara.
"Ini obatnya Tuan" tak berapa lama Reno kembali dengan obat yang Bara minta
Reno menyerahkan obat dan segelas air pada Bara. Bara segera meminumnya.
"Apa tidak sebaiknya anda pulang dan beristirahat Tuan, anda terlihat tidak baik-baik saja? Wajah anda sangat pucat Tuan. Biar meeting nanti saya reschedule"
Bara menganggukkan kepalanya lemah, apa yang dikatakan Reno benar. Dia juga tidak akan bisa melakukan pekerjaannya dengan kondisi seperti ini.
"Tolong antarkan aku pulang"
Reno menganggukkan kepalanya, kemudian membantu Bara yang terlihat lemah untuk berjalan menuju mobilnya.
*******
Maaf UP nya tengah malam ya...
Ditunggu comment dan like nya :)
__ADS_1