Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
100.TERSAYANG


__ADS_3

Ketika jam makam tiba Maria menutup laptopnya, Zidan memerintahkan mereka untuk beristirahat dan mempersilahkan mereka untuk makan siang. Jaklen lebih dulu keluar dari ruang kerja namun Qenan masih sibuk dengan laptopnya.


Zidan yang saat itu masih berdiri langsung menutup laptop Qenan dan memerintahkannya untuk beristirahat.


"Waktu istirahat bukan untuk bekerja"Jelas Zidan kepada Qenan. Maria menatap mereka seraya berdiri dan mengambil tas selempang nya.


"Iya sebentar lagi Tuan. Masih ada sedikit yang harus aku lakukan"


"Sebentar lagi? Jika nanti Tuan mu tidak memberi waktu istirahat untukmu lagi bagaimana kau akan makan dan minum"


Qenan terdiam, seraya mengerutkan alisnya ia berdiri dan menjawab ucapan Tuan besarnya itu.


"Ya aku bisa makan dan minum sambil bekerja, istirahat kan bisa sambil bekerja tidak harus keluar?"


"Kau memang pandai, itu kenapa aku sangat berat melepasmu dari perusahaan ini"


"Jika tidak ada aku Tuan pasti akan mencariku sampai ke ujung dunia"


"Kau sudah membaca isi otakku"


"Jelas sudah"


"Sekarang waktunya kau beristirahat dan makanlah, Maria sudah menunggumu. Dia sudah berdiri sejak tadi"Qenan melihat kearah Maria dan benar saja Maria masih berdiri melihat dirinya sedang berbicara dengan Zidan.


Maria sontak membulatkan matanya mendengar ucapan Zidan. Entah kenapa Maria masih saja melihat pertikaian konyol mereka bukannya dia sudah keluar dari ruangan itu sejak tadi.


"Bagaimana ini malah aku kang jadi malu, kenapa aku malah berdiri melihat mereka bukannya aku pergi dari tadi. Dasar bodoh!"Gumam Maria.


Qenan lantas melihat ke arah Maria. Mereka berdua saling menatap namun tidak saling tersenyum.


"Baik Tuan aku akan istirahat. Tuan benar waktunya aku makan siang perutku baru terasa lapar"Ujar Qenan.


"Ya sudah kalian makan siang dulu"Zidan meninggalkan mereka berdua didalam ruangan. Dan merekapun saling tertawa kecil melihat betapa bodohnya mereka didepan Bosnya itu.


"Kau lihat dia Maria?"


"Ya, aku lihat bagaimana Tuanmu berbicara"


Mereka tertawa kembali namun tiba-tiba Zidan sudah ada ditengah pintu. Ternyata dia belum benar-benar pergi melainkan menguping pembicaraan mereka.


"Kau memanggilku?"Ujar Zidan membuat mereka kaget bukan kepalang.

__ADS_1


"Hah, Tuan kok---? Tuan kami mau makan kami permisi dulu"Ujar Qenan dengan gugup.


Sambil memejamkan setengah matanya Qenan menggandeng tangan Maria dan mengajaknya keluar. Mereka melewati tubuh kekar Tuan besarnya itu dan berlalu pergi begitu saja.


"Dasar pengecut, ngajak cewek makan aja kok susah amat!"Gumam Zidan.


*******


Maria dan Qenan satu meja makan bersama. Mereka berdua makan siang diluar kantor.


"Kau yakin Zidan tidak akan marah padamu?"Tanya Maria dengan wajah tegang.


"Jelas tidak, Tuanku itu sangat baik. Sudah 20 tahun aku berteman dengannya, aku juga sudah paham dengan sikapnya.


"Jadi kau adalah teman yang diangkat menjadi sekretaris?"


"Iya sekaligus asisten pribadinya, lucu ya. Seharusnya aku yang menjadi bosnya dan Tuanku menjadi sekertarisku hehe"


"Jadi kau tidak takut jika ada mata yang sedang mengintai kita?"Lirih Maria memberi kode kepada Qenan bahwa Zidan sedang duduk dibelakangnya seraya menyantap makan siang.


Merasa paham dengan ucapan Maria Qenan langsung diam dan pura-pura makan.


"Kau tau Maria, Tuanku itu sangat baik dan pengertian. Dia suka memberiku uang diluar gaji dan sering mengajakku makan direstoran mewah"


Zidan mendengar percakapan mereka dan tertawa kecil sambil membalasnya dengan sindiran.


"Wah, coba Tuanku menjadi sekertarisku"


Qenan terhenyak dan menoleh kebelakang.


"Tuan? Kok Tuan disini. Wah memang benar disini rumah makan terenak sampai Tuanku juga makan ditempat ini"Ujar Qenan. Lagi-lagi ia berusaha menggoda Tuanya itu agar tidak tersinggung dengan ucapannya.


"Ya, memang. Tapi setelah ini kau temui aku dikantor"Jelasnya.


"Iya Tuan, pasti Tuan ingin berbicara masalah mancing ikan bukan"Ucapan Qenan lantas membuat Maria berusaha menahan tawanya.


"Bukan ikan lagi melainkan harimau!"Jelas Zidan kembali.


"Hah. Iya Tuan"Qenan menepuk jidatnya ia rasa kali ini Tuannya benar-benar kesal dengannya.


"Emang enak"Pekik Maria seraya tertawa kecil.

__ADS_1


*******


Arumi selesai melipat baju dan menaruh baju Zidan di dalam lemari nya. Namun tiba-tiba Arumi tak sengaja menemukan foto lama milik Delia dan Zaki, foto ketika mereka masih pacaran. Foto pernikahan itu rupanya masih Zidan simpan sampai sekarang, entah apa maksudnya Arumi akan menanyakannya ketika Zidan pulang ke rumah.


Arumi mendudukkan dirinya di atas sofa seraya memegang foto dan terus ia pandangi.


"Setelah sekian lama aku tau jika Papa adalah mantan suami ibu Delia, baru kali ini aku melihat foto mereka waktu pacaran"Gumam Arumi.


"Mereka terlihat begitu saling mencintai, tapi kenapa mereka malah dulu berpisah? Dan kemarin ibu Delia malah tega mengkhianati Mama! Papa juga, kenapa dia mengkhianati mama!"Gerutu Arumi.


Namun ketika sedang duduk sendirian tanpa disadari Zidan sedang ada dibelakangnya. Saking seriusnya melihat foto lama Delia dan Zaki sampai Zidan pulang tanpa Arumi sadari.


"Kau ingin tau yang sebenarnya?"Ujar Zidan kemudian mendudukkan dirinya bersama Arumi.


Arumi kaget dan tidak tau jika sang suami sudah pulang ke rumah.


"Mas, bukan maksudku membicarakan mereka yamg tidak-tidak. Aku hanya bicara apa yang sudah terjadi kepada mereka"Jelas Arumi kepada Zidan.


"Ya aku tau perasaanmu. Tapi jika kau mau tau yang sebenarnya adalah dulu ibu dan Papa saling mencintai, namun orang tua mereka tidak merestui hubungan mereka karena harta. Dan pada akhirnya Papa Zaki dijodohkan dengan Mama Lisa"Ujar Zidan.


"Oh begitu Mas, aku bahkan tidak pernah tau cerita masa lalu mereka"


"Kebetulan ibu pernah cerita padaku. Sebenarnya Papa tidak mengkhianati Mama Lisa namun pada suatu hari terjadi masalah memalukan yang terjadi kepada mereka berdua"Ujar Zidan.


"Kejadian memalukan, apa?"Arumi semakin penasaran.


"Kejadian yang tak sengaja sampai membuat ibu hamil dan terpaksa menikah, namun tak lama kemudian mereka bercerai dan bayi ibu yang ada dalam kandungan meninggal sampai akhirnya tumbuhlah aku sebagai anak angkatnya"Zidan menceritakan apa yang dulu terjadi dengan ibu angkatnya itu.


"Mas maafin aku ya"Arumi memeluk erat tubuh kekar sang suami seraya berkaca-kaca ia seolah memutar kembali kisah hidupnya yang sama dengan kisah hidup orang tuanya.


"Sayang"Zidan membelai wajah ayu Arumi sambil memandang wajahnya penuh kasih sayang.


"Apa Mas?"


"Kau lihat mereka sekarang?"Zidan mengingatkan Arumi kepada orang tuanya.


"Iya Mas, memangnya kenapa?"Tanya Arumi kembali.


"Kau percaya ketika kita mampu melewati ujian hidup yang sangat menyakitkan. Tuhan pasti akan memberikan kebahagiaan setelahnya. Sekarang mama, papa, ibu dan ayah mereka sudah bahagia"Ujar Zidan sambil tersenyum.


"Iya Mas aku melihatnya. Aku melihat mereka sudah bahagia, aku juga merasakan hal yang sama dengan mereka Mas. Sekarang aku lebih bahagia apalagi dengan kehadiran Aini"

__ADS_1


"Terimakasih Arumi, terimakasih sudah mau menerima kekuranganku dan terimakasih kau sudah mau menerima Aini dan menyayangi Aini seperti putrimu sendiri"


Mereka saling berpelukan dalam malam yang sunyi diiringi rintikan air hujan yang turun seketika menghilangkan hening nya malam.


__ADS_2