
Tidak menunggu lama Laras langsung menurunkan celana kolor yang dipakai Zidan malam ini, Laras menurunkan dengan sangat pelan dan hati-hati agar Zidan tidak terbangun sebelum ia memulai semuanya.
Mungkin karena terlalu lelah jadi begitu nyenyak sehingga Zidan tidak merasakan gerakan tangan Laras yang sedang berusaha menurunkan celananya.
Setelah perlahan celananya ia turunkan, akhirnya Laras berhasil membukanya namun tidak diduga tiba-tiba Zidan terbangun dan menyadari dirinya sudah setengah telanjang.
Zidan kaget setengah syok, bagaimana tidak! Dirinya sudah dalam keadaan setengah telanjang didepan Laras yang malam itu juga hanya memakai pakaian dalamnya. Jantungnya mulai berdetak dan berdebar-debar begitu kencang.
"Degg!"
"Laras apa yang sudah kau lakukan? Apa kau sudah memperkos4ku?"Ucap Zidan syok.
"Aku tidak memperkos4mu, baru saja aku akan memperkos4mu tapi kau malah terbangun"Ucap Laras gugup.
"Jangan mendekat! Aku mohon jangan mendekat"Ucap Zidan kepada Laras agar ia menjauhkan dirinya.
Zidan langsung bangkit seraya mengambil celananya kembali, ia langsung lari menjauhi ranjang namun Laras justru mengejar dirinya.
Laras lantas merebut celana Zidan dari tangannya yang belum sempat ia pakai, Zidan menutupi burun9nya dengan kedua tangannya dari hadapan Laras yang malam itu sangat beringas.
Zidan berusaha lari dari kejaran Laras namun langkahnya terhenti, laki-laki tampan berhidung mancung itu tidak bisa lari lagi, Zidan hanya bisa meringkup seraya terus menutupi burun9nya agar tidak dilihat oleh Laras.
"Mas kamu mau kemana? Nih kolornya"Ucap Laras tersenyum sambil membaringkan tubuhnya diatas ranjang.
"Sini lemparkan saja!"Ucap Zidan seraya menyodorkan tangannya.
"Sini dong Mas ambil sendiri, bukanya ini malam pertama kita, ayo dong Mas kamu jangan sok tidak mau aku tau Mas kamu itu sebenarnya pingin kan?"Ucap Laras kepada Zidan.
"Tidak aku, belum siap Laras! Lebih baik kau tidur saja"Ucap Zidan kembali.
Zidan benar-benar tidak mau melakukannya dengan Laras, ia malah merasa risih dengan sikap Laras. Walaupun Laras terus memaksanya Zidan tetap tidak ingin menyentuhnya, yang ada dalam pikirannya hanyalah Arumi semata.
"Kenapa Mas, aku ini istrimu masa kau tidak mau melakukannya!"Ujar Laras.
"Tapi jangan malam ini? Besok atau lusa kita bisa melakukannya"Ujar Zidan.
"Awas kamu sampai bohong lagi! Pakai nih kolor keluar sana kalo tidak mau lebih baik kau keluar saja, tapi awas kamu ya kalo sampe besok tidak tepati janjimu!"Ucap Laras seraya melempar kolor milik Zidan.
"Makasih sayang, aku janji hehehe"Ujar Zidan kemudian berlari keluar dari kamar Laras.
"Awas kamu Mas jika besok kamu masih tetap menolaknya aku akan potong burun9mu!"Teriaknya.
Arumi merenungi pernikahannya yang tidak searah membuat kehidupannya terasa begitu berat, ia bahkan sesekali meneteskan air mata jika dirinya teringat dengan sikap Laras kepadanya.
Walaupun Zidan sudah menjadi suaminya namun Arumi belum bisa merasa bahagia apalagi dengan kenyataan yang sesulit ini dimana ia harus berbagi suami dengan sahabat yang ia anggap saudara sendiri.
__ADS_1
Arumi sadar semua ini salahnya, Laras menjadi benci padanya memang semua karena dirinya, pernikahan yang tidak direncanakan dengan Zidan namun semua itu terjadi tiba-tiba dan begitu saja.
Walaupun Arumi bukan istri satu-satunya tapi Arumi ingin bisa saling menerima satu sama lain karena semuanya sudah terlanjur terjadi, namun tidak dengan Laras, ia begitu keras kepala sampai tidak mau berbagi suami kepada Arumi meski Laras istri kedua.
Mungkin saat ini Arumi belum sepenuhnya mencintai Zidan, tapi kedepannya Arumi akan berusaha mencintai Zidan sepenuhnya.
"Andai malam kamu ada bersamaku Mas, aku akan membelaimu dan sesekali kita bergurau bersama" Ucap Arumi seraya berbaring diatas ranjang.
Ternyata tanpa Arumi sadari Zidan sudah ada ditengah pintu dan mendengar ucapannya.
"Aku ada bersamamu, dan kita akan bercinta bersama, kita akan membangun cinta yang kuat agar tidak ada lagi yang bisa menghancurkan cinta kita!"Ucap Zidan seraya mengunci pintu kamar Arumi.
"Mas! Nanti Laras tau!"Pekik Arumi.
"Tidak ada lagi yang bisa menghalangi!"Ujar Zidan.
Arumi membiarkan Zidan menikmati tubuh indahnya, rasa itu benar-benar nikmat, Arumi membalas ciuman Zidan dan perlahan Zidan mulai meninggikan dress seksi yang dipakai Arumi malam ini.
Zidan memainkan bagian baw4h Arumi dengan sangat lembut, Arumi menggeliat kenikmatan dan kini buah kenyalnya mulai dicumbu lembut bak terasa sampai ke sanubari.
Setelah lama saling membalas kini bagian bawa4h Arumi begitu sangat basah, itu tandanya ia sudah siap untuk menerima tantangan Zidan.
Zidan langsung masuk kedalam lubang kenikmatan sedangkan Arumi membalas dengan mencengkeramnya, mereka begitu sangat kenikmatan sampai pada akhirnya puncak itu telah mereka capai bersama.
"Aku sampai tidak mau keluar darimu, itu sangat nikmat sekali"Ucap Zidan kepada Arumi.
__ADS_1
"Aku juga sampai tidak mau melepaskannya"Ucap Arumi tersenyum.
"Setelah ini aku pasti akan sangat merindukanmu Arumi, aku pasti tidak akan bisa jauh darimu"Ucap Zidan seraya mencium kening Arumi.
"Aku yakin Mas, kau pasti bisa berbuat adil, besok kau tidur bersama Laras seperti aku tidur denganmu"Ucap Arumi pelan.
"Tapi aku tidak bisa melakukannya dengan Laras!"Ucap Zidan.
"Tapi Laras sudah kau khianati Mas, kamu meninggalkan Laras dan menikahiku dihari pernikahannya, dia sakit Mas, bagaimana jika Laras bunuh diri!"Ujar Arumi.
"Tapi aku benar-benar tidak bisa Arumi, aku melakukan pernikahan itu hanya terpaksa!"Ucap Zidan kepada Arumi.
"Tapi sekarang beda Mas, sekarang kamu sudah menjadi suami sah Laras! Aku mau kamu adil dan tidak ada yang dibeda-bedakan diantara aku dan Laras!"Ucap Arumi kembali.
"Baik aku akan mencobanya. Ya sudah kita tidur saja sudah malam besok kan banyak kerjaan di kantor"Balas Zidan.
"Iya Mas"Balas Arumi.
Pagi sekali Arumi bangun dan mandi basah, ia membangunkan Zidan dengan ciuman lembut pada pipinya, sontak Zidan langsung terbangun dan mengira itu mimpi belaka.
"Aku kira tadi malam hanyalah mimpi ternyata semua itu nyata, kau mandi tidak bilang kita kan bisa mandi bersama"Ucap Zidan.
"Aku kira juga mimpi Mas ternyata kamu beneran telanjang"Ucap Arumi tersenyum.
"Pengen lagi gak? Sekarang yuk"Ucap Zidan seraya mendekati Arumi.
"Ih, Mas ntar Laras cariin kamu loh"Ucap Arumi.
"Biarkan saja, paling juga dia sudah tau kita sedang malam pertama"Ucapnya.
Melihat Arumi hanya memakai handuk Zidan langsung memeluk Arumi dan menciumnya, perlahan Zidan melepas handuk yang membalut tubuh indah sang istri.
__ADS_1
Namun tak berselang lama terdengar teriakan Laras memanggil nama Zidan, sontak mereka berdua kaget dan saling melepaskan pelukan kemudian bergegas memakai pakaian agar tidak terlihat oleh Laras.
Bersambung..