
Hari ini Laras datang kerumah Zidan untuk mengganti uang Zidan yang dipakainya untuk membayar biaya Rumah sakit selama seminggu. Laras menjual sepeda motornya untuk mengganti uang Zidan karena uang simpanannya tidak cukup untuk menggantinya.
"Aku sangat berterimakasih kepadamu, aku tidak tahu jika tidak ada dirimu mungkin aku tidak akan seperti ini"Ujar Tiwi kepada Zidan dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak mungkin aku membiarkan wanita pingsan ditengah jalan. Siapapun itu aku pasti akan menolongnya"Ujar Zidan kepada Tiwi.
"Maaf aku hanya bisa mengganti uangmu sebesar ini, mungkin masih kurang tapi aku harap kau bisa memberiku waktu untuk menyicilnya"Jelas Tiwi seraya memberikan uangnya kepada Zidan yang tengah duduk bersama Arumi.
"Ucapan terimakasihmu lebih besar dibandingkan uang yang kau berikan padaku. Aku akan senang jika kau tidak membayar kebaikanku dengan uang yang tidak ada nilainya!"Ujar Zidan kesal.
"Aku merasa sudah merepotkanmu, jika kau tidak mau menerimanya aku hanya bisa ucapkan terima kasih banyak kepadamu"Tiwi merasa kebaikan Zidan sangat membantunya dimana dirinya sedang berada dititik terendah dalam hidupnya.
Arumi, Tiwi dan Zidan kaget disela-sela pembicaraan tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca begitu jelas. Suara tersebut dari dalam kamar Laras. Tak menunggu lama Zidan langsung lari menuju kamar Laras dan langsung membuka pintunya, dan benar saja, Laras sedang memungut pecahan gelas yang tidak sengaja ia jatuhkan ketika akan minum obat.
"Laras hati-hati!"Zidan menahan Laras agar tidak meneruskan memungut pecahan gelas.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya pusing dan tidak sengaja gelasnya jatuh"Ucapnya. Namun tiba-tiba Laras tidak mampu menopang dirinya dan jatuh pingsan terkulai dilantai.
"Arumi, Tiwi tolong Laras! Kita bawa dia kerumah sakit!!"Ujar Zidan sangat syok.
Merekapun membawa Laras kerumah sakit tempat Laras berobat. Dokter langsung memeriksa dan menyadarkan Laras dari pingsannya. Wajah Dokter terlihat sangat cemas melihat keadaan Laras yang semakin lama semakin parah.
Perawat mendekati Zidan yang tengah duduk diruang tunggu bersama Arumi dan Tiwi. Zidan beranjak dari tempat duduknya dan langsung mengkokohkan dadanya ketika perawat datang menghampiri dirinya.
"Tuan Zidan Dokter sudah menunggu anda didalam?"Ujar perawat perempuan kepada Zidan yang sudah tidak sabar mendengar penjelasannya.
"Baik aku akan kesana!"Jelasnya. Zidan langsung masuk kedalam dan menemui Dokter.
Zidan mendudukan dirinya dan mulai mendengarkan pernyataan Dokter. Zidan gelisah duduk pun tak nyaman, melihat Dokter mengambil pena dan mulai menulisnya pada lembar kertas putih. Apa yang akan Dokter katakan padanya, Zidan masih bertanya-tanya.
"Begini Tuan, istri anda sudah sangat parah dan kemungkinan tidak akan lama lagi!"Ujar Dokter.
__ADS_1
"Apa maksud anda!!!"Pekik Zidan seraya membangkitkan tubuhnya.
"Tenang dulu tenang!! Biar Dokter yang menjelaskan"Ujar perawat perempuan.
"Tuan istri Anda mempunyai penyakit yang sangat parah dan sudah mengakar didalam tubuh. Dan kemungkinan akan semakin parah dan mengakibatkan gagal jantung!"Ujar Dokter kembali.
"Istri saya akan baik-baik saja dan akan sembuh! Anda tau itu Dokter!"Zidan masih tidak terima dengan ucapan Dokter.
"Iya Tuan saya mengerti, semoga istri Anda cepat sembuh. Silahkan Tuan keluar sudah cukup!"Dokter sedikit kesal karena ucapannya tidak dihargai dan langsung mengizinkan Zidan untuk keluar dari ruangan.
Zidan meninggalkan ruangan tersebut dengan wajah kesalnya. Dia sama sekali tidak bilang terimakasih kepada Dokter yang sudah menangani Laras.
"Manusia macam apa dia!! Bilang terimakasih saja rasanya sangat mahal untuknya!!"Gumam Dokter.
"Mungkin karena rasa sayangnya kepada sang istri sehingga membuatnya tidak rela jika harus kehilangan Dok!"Sambung perawat membuat sang Dokter terdiam.
"Ya mungkin seperti itu. Tapi memang tugas Dokter mengatakan yang sebenarnya walaupun sakit untuk diterima!"Batinnya.
Arumi dan Tiwi kaget melihat wajah kesal Zidan masuk kedalam ruangan Laras. Zidan membanting dirinya di kursi dan memukuli kepalanya sendiri.
"Dokter mengatakan jika Laras tidak akan lama lagi!"Ujar Zidan pelan agar Laras tidak mendengarnya.
"Apa!!"Arumi tercengang dan merasa syok.
"Aku rasa Dokter salah! Aku tidak percaya padanya!"Ujar Zidan kesal.
*****
Menatapi wajah Laras membuat hati Zidan terasa seperti tersayat pedang tajam! Begitu pilu melihat keadaan sang istri dengan perut yang semakin membesar hanya bisa terbaring lemas tak berdaya.
Laras mencoba tersenyum dan memegang tangan Zidan yang tengah duduk disampingnya. Zidan tidak sanggup lagi menahan air matanya sampai lepas melintas di pipinya. Laras benar-benar merasakan cinta tulus sang suami yang sebelumnya tidak pernah mencintai dirinya.
__ADS_1
"Mas, kenapa kau sedih? Aku tidak mau melihatmu menangis lagi!"Ujar Laras tersenyum.
"Aku sedih melihatmu seperti ini Laras! Jika bisa meminta biar aku saja yang menggantikan sakitmu!!"Ujar Zidan penuh emosi.
"Jika kau yang sakit maka Anakmu yang akan menderita! Dia akan tumbuh tanpa seorang Ayah!"Ucapnya dengan nada tinggi.
"Apa yang kau katakan? Apa yang membuatmu bisa bicara seperti itu!!"Ujar Zidan kepada Laras.
"Aku sudah mendengarnya Mas! Aku tidak akan lama lagi hidup di dunia ini!"Jelasnya sambil menangis.
"Jangan katakan itu lagi Laras aku mohon!!"Zidan menggenggam erat tangan Laras dan menaruhnya di dadanya seraya memohon agar tidak bicara tentang kematian lagi.
Laras menghempas tangan Zidan seraya menangis membelakangi Zidan.
"Jika kau terus menangisi keadaanku selama itu juga aku tidak akan pernah bahagia!!!"Pekik Laras sampai membuat Zidan terdiam.
*****
"Maaf jika aku lancang, kau hamil dengan...? Maksudku kapan kau akan menikah dengan Danu?"Ujar Arumi kepada Tiwi. Namun pertanyaan Arumi justru menyinggung perasaan Tiwi.
"Apa maksudmu! Anak ini memang anak Danu!"Pekik Tiwi.
"Maafkan aku Tiwi, aku tidak bermaksud menyinggungmu!"Ujar Arumi.
"Aku tahu Arumi kau bermaksud bertanya tentang anak ini. Aku akan menceritakan apa yang sudah terjadi padaku sampai aku menderita seperti ini!"Ujar Tiwi kepada Arumi.
Kemudian Tiwi menceritakan semua yang sudah terjadi kepadanya, Tiwi menceritakan kelakuan Danu yang sudah menipunya habis-habisan. Tiwi juga menceritakan dirinya diusir dengan kejam oleh Maria pacar Danu. Dan kini dia hamil sedangkan Danu belum mengetahui kehamilannya.
"Astaga!! Kau harus minta pertanggung jawaban Danu secepatnya Tiwi! Danu benar-benar bi4dab Laki-laki macam apa dia!"Ujar Arumi emosi.
"Aku takut Arumi, aku takut diperlukan kasar oleh mereka! Aku takut!"Rasa trauma Tiwi seakan terbayang kembali dalam pikirannya.
__ADS_1
"Aku akan membantumu Tiwi, percaya padaku!! Danu harus bertanggung jawab atas semua yang sudah dia lakukan"Jelas Arumi.
"Terimakasih Arumi kau sudah mau peduli padaku!"Laras menangis dalam pelukan Arumi.