
Pagi ini Zidan sudah berada di kantor untuk menyiapkan proyek yang akan ia tawarkan untuk bekerja sama dengan perusahaan milik Maria. Namun sekertaris nya belum sampai di kantor. Zidan mencoba menelfon tapi ponselnya tidak aktif, ia pu memanggil salah satu karyawannya yang kebetulan lewat dan menanyakan dimana sekertaris Qenan.
"Dimana Qenan? Kenapa jam segini dia belum datang kekantor! Kau melihatnya?"Tanya Zidan kepada salah satu karyawan nya.
"Saya tidak tahu Tuan! Saya tidak melihatnya"
"Ya sudah lanjutkan pekerjaanmu!"
"Baik Tuan!"
Zidan sedikit kesal padahal hari ini banyak hal penting yang harus ia selesaikan namun Qenan belum sampai juga.
"Kemana dia! Kemarin sudah janji saya suruh berangkat lebih awal kenapa dia belum datang juga!"Gumam nya.
Setelah menunggu cukup lama sekertaris Qenan datang dengan berlari tergesa-gesa, dia langsung masuk kedalam ruangan Bos besar seraya menarik nafas panjangnya Zidan yang sudah menunggu lama menghadiahi pandangan tajam memberi arti atas kekesalannya kepada sekertaris Qenan.
"Tuan! A-a-aku telat!"Ujar Qenan gugup.
"Malah kau hampir memecat dirimu sendiri!"Qenan menundukkan kepalanya seraya mengangkat alisnya melihat wajah kesal Bosnya itu.
"Tuan apa tugasku sekarang?"Masih dengan berdiri kokoh Qenan bertanya.
"Duduklah aku tidak sekejam yang kau pikirkan"
"Baik Tuan"
Zidan menyerahkan sepenuhnya kepada sekertaris Qenan untuk mengurus persetujuan bekerjasama dengan perusahaan Maria. Perusahaan Maria terbilang sangat terkenal di Indonesia. Sekertaris Qenan diberi tugas untuk menjadi Bos yang akan menawarkan kerja sama dengan Maria.
"Kau pergi ke kantor Maria dan temui dia, kau harus pandai merayu agar dia mau bekerja sama dengan kita. Kau sementara menjadi diriku!"
"Baik Tuan!"
Sekretaris Qenan mulai berjalan meninggalkan ruangan membawa amanah yang akan ia bawa kekantor Maria, dengan pakaian yang sangat rapih Qenan terlihat gagah seperti Bos sungguhan. Namun belum jauh kakinya melangkah Zidan kembali memanggilnya lagi.
"Tunggu Qenan!"
"Ya Tuan?"
"Kau rahasiakan namaku dari Maria!"Ujarnya pelan.
"Baiklah Tuan aku mengerti!"
"Bagus! Pergilah"
Qenan kembali berjalan ditemani supir pribadi Zidan yang akan mengantarnya kesana.
"Kau ingat Jaklen, disana kau berpura-pura sebagai sekretaris Qenan?"
"Baiklah aku mengerti Tuan!"
********
Dalam perjalanan Qenan memijat jidatnya bagaimana bisa proyek sebesar ini diserahkan padanya begitu saja? Apa yang akan dia katakan didepan Maria. Apa lagi perusahaan Maria adalah perusahaan terbesar di Indonesia.
"Ah! Bagaimana aku bisa menghadapi hal seperti ini apa yang akan aku katakan pada Nona Maria!"Qenan semakin kebingungan.
"Jak! Jaklen?"Qenan menepuk pundak sopir pribadi Zidan membuatnya merasa sangat kaget.
__ADS_1
"Kau ini tidak lihat aku sedang apa! Ada apa memanggilku!"Jaklen sedikit kesal.
"Kau bantu aku bicara ya?"
"Bicara dengan siapa?"
"Dengan Nona Maria?"
"What? Tidak-tidak aku tidak mau. Aku hanya akan berpura-pura menjadi sekertaris mu saja!"
Jaklen menolaknya sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kau tidak mau! Kau ini kan berpura-pura menjadi sekertarisku masa kau tidak mau menuruti kemauanku!"Imbuhnya.
"Itu kan hanya pura-pura! Kau masuk saja masa kau tidak bisa menghadapi masalah ini sendiri. Asal kau tau sekertaris Qenan Maria itu sangat cantik kau pasti akan beruntung bertemu dengannya!"Ujar Jaklen dengan wajah seriusnya.
"Oh ya? Apa dia masih jomblo?"
"Tentu saja tidak!"
"Ah kau ini! Aku kira dia jomblo untuk bisa aku pacari!"
Jaklen menertawai kebodohan sekertaris Qenan dalam hatinya. Jaklen tersenyum tanpa suara melihat wajah polos sekretaris Qenan.
Sesampainya didepan lobby kantor milik Maria Qenan dipersilahkan turun oleh Jaklen. Jaklen memperlakukan Qenan seperti Bos besarnya semua itu permintaan Zidan untuk sementara sekertaris Qenan menggantikan dirinya.
Jaklen membukakan pintu mobilnya, lalu Qenan keluar dengan perasaan berdebar Qenan berusaha bersikap percaya diri. Jaklen mengawal Qenan seraya membawakan tas milik nya bak sekertaris dan atasan.
"Kau senang menjadi Bos aku malah dijadikan sekertarismu seharusnya aku yang menjadi Bos!"Gerutu Jaklen seraya berjalan dibelakang Qenan.
"Bukankah uang 200 juta lebih penting untukmu. Kau bisa belikan istrimu gelang atau Rumah! Kau juga bisa belikan anakmu kelinci yang lucu"Ujar Qenan tertawa membelakangi Jaklen.
Mereka berdua mendatangi sekertaris Maria yang bernama Celina, saat itu Qenan meminta Celina mengantarnya ke ruangan Maria. Namun Celina menolaknya dengan alasan mereka belum membuat janji dengan Maria.
"Ini sangat penting aku ingin bertemu dengan Nona Maria!"Ujar Qenan.
"Tidak bisa Tuan jika tidak membuat janji Anda tidak bisa menemui Nona Maria"
"Bisakah kau bilang padanya ada yang ingin bertemu? Ini sangat penting"
"Baiklah tunggu sebentar aku akan menelfonya"
Kemudian Celina menelfon Maria memberi tahu jika ada seseorang yang ingin bertemu dengannya diluar janji.
"[Nona ada yang ingin bertemu dengan Anda diluar janji katanya penting!]"
"[Suruh dia masuk]"
"[Baiklah]"
Maria bersedia menemui Qenan dan Jaklen. Lalu sekertaris Celina mengantar mereka menuju ruangan Maria. Jaklen dan Qenan berjalan dibelakang tubuh montok sekertaris Celina yang tengah berjalan membelakangi mereka. Lalu mereka masuk kedalam lift dan menuju lantai 6.
"Beruntung sekali Tuan Zidan mengirim kita kesini, ternyata disini karyawannya cantik-cantik montok montok, tidak seperti karyawan Tuan Zidan sudah tua-tua semua!"Ujar Jaklen pelan.
"Iya apa lagi sekretaris Celina sudah cantik montok, seksi banget Jak!"Gumam Qenan pelan.
Walaupun mereka berbicara pelan namun Celina mendengar perbincangan Qenan dan Jaklen namun ia tidak menghiraukannya.
__ADS_1
"Dasar otak mesum!"Gerutu Celina seraya mengerutkan keningnya.
Setelah keluar dari lift mereka langsung sampai didepan pintu ruangan Maria. Qenan dan Jaklen tak henti-hentinya memandangi tubuh molek sekretaris Celina. Pada puncaknya sekertaris Celina memutar badannya dan melihat Qenan dan Jaklen tengah fokus memandangi bokon9 bulatnya sehingga mereka merasa malu dan salah tingkah.
"Dasar otak mesum!"Gerutu Celina.
Qenan dan Jaklen menggaruk kepalanya karena merasa malu.
"Tok!"
"Tok!"
"Tok!"
Celina mengetuk pintu ia tidak langsung masuk sebelum Maria menjawabnya.
"Masuklah!"Jawab Maria.
Lalu Celina mengajak Qenan dan Jaklen masuk menemui Maria.
"Mereka ingin bertemu dengan Nona?"Ujar Celina.
"Celina kau boleh kembali"Perintah Maria.
"Baik Nona"Jawab Celina.
Kini tinggal Qenan dan Jaklen mereka masih berdiri kokoh dengan perasaan gemetar. Ternyata apa yang dibilang Zidan kepada mereka memang benar, Maria sangat cantik sekali. Qenan hampir tidak bisa mengedipkan matanya.
"Duduklah, ada perlu apa kalian kesini?"Tanya Maria dengan suara lembut.
"Perkenalan saya Qenan sanjaya pemilik perusahaan Abadi sanjaya dia sekertaris saya Jaklen samudra. Kami kesini ingin menawarkan kerja sama dengan perusahaan Nona apakah bersedia?"
Dengan perasaan dag dig dug Qenan berusaha percaya diri dengan penampilannya.
"Apa yang akan Anda tawarkan? Aku tidak bisa menerima tawaran jika sumbernya tidak jelas!"Ujar Maria.
"Proyek ini sangat besar dan tentunya sangat menguntungkan"Qenan memperlihatkan detail dari proyek yang sudah disusun rapih oleh Zidan.
"Bagaimana bisa kau mendirikan proyek sebesar ini? Jelas ini sangat menguntungkan!"Decak kagum Maria.
"Bagaimana Nona bersedia?"Tanya Qenan kembali.
Jaklen yang berada disampingnya terus meremas kepalan tangannya, berharap Maria mau menerima tawaran itu tanpa pikir panjang.
"Lama sekali tinggal bilang iya apa susahnya!"Batin Jaklen seraya terus meremas kepalan tangannya.
"Nona kenapa diam?"
"Ah! Aku hanya sedang mengamati luasnya proyek ini, sepertinya aku bersedia"Ujar Maria dengan jelas.
"Sungguh?"
"Ya Tuan aku menerimanya"
Lalu Maria berdiri dan bersalaman dengan Qenan dan Jaklen atas kerjasama yang baru saja dibuatnya.
"Terimakasih Nona"
__ADS_1
"Sama-sama"
Tugas pertama mereka selesai kini tinggal tugas selanjutnya.