Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
89.MERAHASIAKAN STATUS AINI


__ADS_3

Pagi yang cerah membawa sejuta harapan untuk Aini. Tubuh kecil perlahan tumbuh menjadi besar dan seiring berjalannya waktu akan menjadi seseorang yang hebat dikemudian hari.


Dua telapak tangan yang lembut mulai menghangatkan tubuhnya dengan pijatan pada tubuh mungilnya. Arumi selalu menjadi penghangat Aini ketika pagi hari dimana matahari belum menampakkan sinarnya.


Mata yang redup karena setiap malam begadang tidak masalah untuknya, Arumi terus menikmati semua hal baru bersama Aini.


*****


"Mas kamu jadi cari asisten rumah tangganya?"Tanya Arumi kepada Zidan ketika sedang sarapan bersama.


"Iya, sebentar lagi dia kesini aku sudah menghubungi dia agar kesini pagi ini. Tapi aku mau Aini sepenuhnya kamu yang urus aku tidak mau dia diurus orang lain"Ujar Zidan sambil menjeda makannya sesaat untuk berbicara kepada Arumi.


"Iya Mas. Oh ya Mas, namanya siapa?"


"Namanya Latri, dia sudah pengalaman aku sudah bertanya-tanya sama orang yang kenal dia. Katanya orangnya baik dan tidak pernah membuatnya masalah"Ujar Zidan dengan yakin.


"Latri? Maksud kamu dia masih muda, apa dia seumuran aku? Atau dibawah aku. Mas kamu ini bagaimana sih aku kan udah bilang jangan cari yang muda?"Gerutu Arumi sambil menjauhkan sarapan miliknya ketengah meja karena merasa sebal dengan Zidan. Namun rasa sebalnya hanyalah salah paham.


"Maksud aku Bu Latri! Kamu ini main marah-marah dulu aku kan belum selesai bicara"Gumamnya.


"Hehe maafkan aku Mas, kamu kan tau sendiri aku takut kehilangan laki-laki tampan sepertimu"Pujian Arumi membuat Zidan tiba-tiba merapihkan rambutnya dan seakan merasa tampan seperti yang Arumi katakan.


"Jangan halu Mas, aku cuma bercanda bilang kau tampan hehe"Ujar Arumi sambil tertawa kecil.


"Kau ini__"Belum selesai bicara tiba-tiba ponselnya berbunyi.


"Rum, Papa telpon jangan-jangan mau kesini?"Ujar Zidan dengan jantung berdebar.


"Mas bagaimana ini pasti Papa sana Mama mau kesini, nanti kalo mereka tau ada Aini terus mereka tanya anak siapa bagaimana Mas?"Arumi semakin takut dan tidak tau harus beralasan seperti apa lagi jika Zaki dan Lisa tau tentang Aini sebenarnya.


"Lalu bagaimana, aku juga tidak tau!"


"Angkat saja dulu, nanti urusan Aini kita pikirkan lagi"


Lalu Zidan mengngakat telpon dari Zaki."[Halo Pa?]"


"[Zidan Papa lagi dijalan, Papa sama Mama mau kesitu]"Ternyata Zaki dan Lisa benar-benar akan datang kerumah. Zidan mulai kebingungan dan mencoba menenangkan dirinya.


"[Iya Pa kita tunggu, hati-hati dijalan ya Pa]"

__ADS_1


Zidan memutus telepon sepihak lalu mendekati Arumi yang masih mengendong Aini dengan wajah cemasnya. Zidan memijat keningnya mendudukan dirinya di kursi. Sedangkan Arumi merasa ketar-ketir sambil mengayun Aini dalam gendongannya.


Arumi menaruh Aini diatas ranjang dan duduk ditepi ranjang bersama sang suami. Merekapun berdiskusi untuk merahasiakan status Aini dari papa dan Mama nya.


"Mas, bagaimana jika kita bilang Aini adalah anak yang kita asuh dari panti asuhan?"Ujar Arumi. Ia berusaha mencari alasan untuk menutupi saat Aini.


"Ya, aku setuju. Jika kita tidak menutupi status Aini pasti mereka akan curiga dan tidak akan percaya jika kau hamil tanpa mereka tau"


Namun ketika mereka sedang diskusi tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


Tok Tok Tok


Dengan perasaan gugup Zidan menyuruh Arumi yang membuka pintunya."Rum, Mama sama Papa datang, kau saja yang bukakan pintu aku sama Aini disini!"Ujar Zidan ia mengira Zaki dan Lisa sudah datang namun ketika Arumi membuka pintu ternyata yang datang adalah Bu Latri.


"Em.. Ibu siapa? Ibu Bu Latri bukan?"Tanya Arumi sambil tersenyum kecil.


"Iya Non, saya yang akan kerja disini. Apa benar ini Rumah tuan Zidan?"Tanya Bu Latri sambil memegang kopernya. Bu Latri tak lupa menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Arumi.


"Benar Bu. Kalo gitu Ibu masuk yuk, ini bisa langsung kerja disini"Arumi langsung menyuruh Bu Latri masuk dan menunjukkan kamar miliknya untuk menaruh kopernya.


Belum sampai satu jam Bu Latri datang, Zaki dan Lisa sudah sampai didepan Rumah. Merekapun mengetuk pintu rumah mewah milik anak menantunya itu.


"Itu pasti Mama sama Papa Mas"Ucap Arumi.


"Bu, itu orang tua kami. Bu Latri buka ya pintunya suruh mereka masuk dengan baik dan ramah"Ujar Zidan. Walaupun baru pertama kerja Bu Latri terlihat sangat ramah dan cekatan.


"Baik Tuan"Ucapnya lalu pergi membukakan pintu.


Krekkk..


"Selamat siang Bu, Pak silakan masuk"Ucap Bu Latri tersenyum ramah.


"Selamat siang juga. Oh ya. terimakasih"


Zaki dan Lisa masuk dengan wajah gembira karena sudah lama tidak bertemu Arumi.


Mereka menapaki tangga menuju kamar Arumi yang berada di lantai atas. Setengah perjalanan mereka membicarakan sosok Bu Latri.


"Mas, tadi siapa ya? Aku baru lihat Ibu itu, apa dia pembantu dirumah ini"Ucap Lisa menggandeng lengan Zaki sambil menaiki tangga.

__ADS_1


"Iya kayaknya, Ibu itu ramah sekali"


"Iya Mas, ramah sekali"


Ketika sampai dilantai atas Zaki melepas jasnya dan duduk di sofa, sedangkan Lisa menghampiri kamar Arumi. Lisa heran kenapa kedatangannya tidak disambut oleh mereka berdua.


"Mereka berdua sedang apa sih, orang tuanya datang malah berada didalam kamar!"Gerutu Lisa.


Lisa berjalan sambil mengucir rambutnya dan hendak mengetuk pintu kamar Arumi, namun tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara tangisan bayi yang terdengar dari dalam kamar Arumi. Ia pun mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu.


"Suara bayi? Apa selama ini Arumi hamil? Tapi tidak mungkin Arumi hamil tidak bilang padaku. Aku harus beri tau Mas Zaki"Lisa tidak jadi mengetuk pintu, ia kembali menghampiri Zaki yang tengah membaringkan tubuhnya disofa.


"Mas bangun!"Baru beberapa detik terlelap Lisa datang tiba-tiba dan menepuk pundak Zaki yang masih tertidur.


Zaki terbangun dan duduk dari tidurnya dengan mata yang masih mengantuk."Kau ini bikin aku kaget. Ada apa?"


"Mas ada suara bayi dikamar Arumi"


"Bayi? Tidak mungkin ada bayi, mungkin kamu salah dengar"


Karena Zaki tidak percaya Lisa langsung menarik tangannya menuju kamar Arumi dengan cepat.


"Kamu tidak percaya padaku Mas, kau lihat sendiri nanti"Ujar Lisa.


Tok Tok Tok


"Arumi, Zidan? Mama sama Papa sudah datang"Teriak Lisa dari luar pintu. Lisa merasa tidak sabar ingin melihat sosok bayi yang ada di dalam kamar Arumi.


"Mana, tidak ada suara bayi"Ujar Zaki.


"Nanti kamu lihat sendiri didalam"


Lalu Arumi dan Zidan keluar sambil menggendong bayi mereka. Lisa dan Zaki langsung tercengang melihat bayi perempuan menggemaskan dan sangat cantik yang tengah digendong Arumi.


Arumi tersenyum namun senyumnya sangat berat. Ia takut jika mereka tidak percaya dengan alasan yang akan dia katakan.


Lain dengan Zidan, dia tetap bersikap santai dan coba menenangkan dirinya seraya tersenyum kecil.


Mereka berdua masih berdiri kokoh dengan wajah kebingungan dan tanpa sepatah katapun sampai pada akhirnya Lisa yang bertanya kepada mereka tentang bayi perempuan itu.

__ADS_1


__ADS_2