Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
94.FAKTA BARU


__ADS_3

Maria terbaring layaknya Purti tidur yang tetap cantik meski tubuhnya penuh dengan peralatan pernafasan dan lainnya. Didalam ruangan terlihat dua orang laki-laki dan satu perempuan paruh baya yang terus memegang tangan Maria seraya menumpahkan rasa kesedihannya dengan linangan air mata sementara dua orang laki-laki berusaha menguatkan dengan mengusap bahu perempuan paruh baya tersebut.


Suara monitor seakan menghantui siapa saja yang melihatnya. Bayangan akan hal yang tidak-tidak terus muncul dalam bayangan perempuan paruh baya, Ellen Anjasmoro (Ibunda Maria) yang tak henti-hentinya menangisi Putri kesayangannya yang kini masih terbaring berharap keajaiban yang tak terduga.


Maria diketahui kecelakaan setelah bertengkar dengan Danu didalam mobil. Danu yang masih mengemudi tidak bisa mengendalikan lajunya karena dalam keadaan mabuk dan menabrak pembatas jalan membuat Maria terbentur hebat dibagian kepala sementara itu Danu hanya mengalami luka ringan dan tidak mendapat perawatan serius.


"Tuan, ini kamar Nona Maria kamar nomor 55"Ujar Qenan seraya memperlihatkan nomor 55 yang tertempel diatas pintu.


"Kalian mau masuk?"Ujar Zidan kepada Qenan dan Jaklen.


Mereka berdua terdiam dan saling memandang. Jika mereka masuk lalu apa yang akan dia katakan kepada seseorang yang ada didalam ruangan.


"Tidak Tuan saja"Ujar Jaklen, disusul Qenan ia juga mengatakan hal yang sama. Mereka tidak mau masuk karena takut akan menjadi bahan kecurigaan keluarga Maria karena mereka bukan orang terdekat Maria.


"Lalu apa aku harus masuk sendiri dan mengenalkan diriku sebagai orang asing!"


Zidan menjauhi kamar 55 dan mendudukan dirinya di kursi tunggu tak jauh dari kamar tersebut disebelah pojok terbelakang.


"Tuan bagaimana jika kita menunggu mereka keluar?"Ujar Jaklen membuat Zidan membulatkan matanya.


"Mereka siapa? Apa kau pikir mereka akan pergi meninggalkan orang yang sedang sakit tidak berdaya!"


"Maksudku dua orang laki-laki itu!".


"Siapa maksudmu?".


"Dua orang laki-laki itu salah satunya adalah Danu, dia didalam bersama keluarga Maria Tuan sebelumnya aku melihat Danu masuk kedalam ruangan 55 bersama satu laki-laki dan satu perempuan paruh baya"Ujar Qenan dengan pelan.


"Kenapa kau baru bilang!".


Lagi-lagi mereka terdiam dan hanya menundukkan kepalanya.


"Maaf Tuan kami tidak memberi tahu lebih dulu".


"Baiklah kita tunggu sampai Danu keluar, jika tidak kita pergi dari sini daripada semua rencana kita berantakan".

__ADS_1


"Baik Tuan".


Akhirnya mereka bertiga memutuskan menunggu sebentar di kursi tunggu tak jauh dari kamar 55. Kebetulan suasana ditempat duduk sedikit ramai jadi mereka lebih aman jika Danu keluar tidak akan mencurigai keberadaan mereka.


Tak lama berselang Danu terlihat keluar bersama seorang laki-laki yang diketahui dia adalah Alberzo Sinaga (Ayah Maria) Mereka berjalan bersama menuju pintu pintu Utara Rumah sakit.


"Tuan mereka sudah pergi"Ujar Qenan kepada Zidan.


"Masih ada yang didalam?"


"Ada Tuan, Ibunda Maria yang sedang menunggu didalam"


"Baik, jika tidak ada Danu semua tidak masalah"


Zidan bersama Qenan Jak Jaklen langsung masuk kedalam ruangan 55, suara pintu sedikit terdengar keras saat dibuka. Suara hentakan sepatu berbenturan dengan ubin keramik lantai rumah sakit namun Ellen tetap tidak menghiraukan siapa yang datang dia hanya menangis seraya memandangi wajah sang putri yang tengah berbaring tidak berdaya.


Mereka bertiga menghentikan langkahnya tepat dibelakang Ellen, Zidan yang sedang berdiri disebelah kiri berusaha mendekati Ellen yang masih duduk terdiam dengan pandangan kosong nya.


"Ehm, selamat malam? Maaf saya masuk tidak bilang-bilang. Saya Zidan dan saya turut prihatin dengan keadaan Maria, semoga Maria cepat sembuh dan sadar dari komanya, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kesembuhan Maria."Ujar Zidan kepada Ellen. Perempuan paruh baya itu hanya mengangguk seraya menengoknya setelah itu ia kembali memandang Putri cantiknya seraya menangis sesenggukan.


Zidan terdiam sejenak, sebagai orang asing ia harus berpura-pura kenal dan dekat dengan Maria. Jika tidak maka Ellen akan curiga dengan maksud kedatangannya.


"Aku rekan kerja Maria, kami teman kantor"Ujar Zidan berpura-pura sebagai teman Maria.


"Siapa namamu?"Ellen kembali bertanya kini pertanyaannya sangat serius.


"Aku Zidan, dan dia dua asisten ku Qenan dan Jaklen"


Ellen menengok kebelakang dan baru mengetahui jika ada dua orang laki-laki lain selain laki-laki yang berada disebelahnya.


"Terimakasih sudah mau menengok Maria"Ujar Ellen kepada mereka bertiga.


Namun tak lama kemudian Ellen kembali menangis sambil menundukkan kepalanya.


"Bu, aku tau rasanya melihat orang yang dicintai terbaring tidak berdaya. Namun menangis bukanlah cara untuk menyembuhkan Maria, itu hanya akan memperburuk keadaan. Nanti Ibu bisa sakit"Ingin rasanya Zidan mengusap punggung perempuan paruh baya tersebut untuk memenangkannya.

__ADS_1


"Maria pernah cerita sama ibu, tabungannya hilang dan jumlahnya tidak sedikit. Selang dua hari Maria berencana pergi ke Bandung mengurus pekerjaan besar namun ditengah jalan dia malah kecelakaan"Ujar Ellen seraya mengepal tangannya.


"Siapa yang bersama Maria ketika kecelakaan?"Zidan pura-pura tidak mengetahui jika waktu itu Maria pergi bersama Danu.


"Maria pergi dengan Danu, mereka sempat bertengkar karena suatu hal pribadi kata Danu. Tapi Ibu tidak percaya jika Ibu tidak mendengar dari mulut Maria sendiri. Dari awal Ibu tidak merestui hubungan mereka namun Ayahnya sangat percaya dengan laki-laki itu!"Ujar Ellen pelan mengandung nada kesal.


"Laki-laki itu benar-benar harus di beri pelajaran!"Batin Zidan.


Merasa sudah cukup informasi mereka bertiga pamit dan meninggalkan Rumah sakit. Mereka berjalan masuk kedalam mobil dan melaju pergi.


"Kau dengar tadi?"Ujar Zidan kepada Qenan dan Jaklen.


"Maksud Tuan yang mana?"Ujar Jaklen seraya mengemudikan mobilnya.


"Danu mengatakan sempat bertengkar karena suatu hal pribadi. Sedangkan Maria habis kehilangan tabungannya, dan Bu Ellen sejak awal tidak merestui hubungan mereka? Jelas semua ini ada masalah! Dan satu lagi. Disitu Ayah Maria sangat percaya dengan Danu!"Ujar Zidan dengan lantang.


"Lalu apa yang akan Tuan lakukan?"Tanya Qenan yang berada duduk di kursi belakang sedikit mendekat.


"Secepatnya kita harus bongkar kelicikan laki-laki biad4b itu!"Jelasnya.


********


"Mas kau sudah pulang, dari mana Mas kok lama banget?"Tanya Arumi seraya mencium tangannya.


"Iya ada hal yang harus aku selesaikan"


"Hal yang harus diselesaikan? Hal apa Mas?"Tanya Arumi kembali.


"Nanti aku ceritakan padamu sekarang aku mau istirahat dulu. Aini dimana?"Tanya Zidan seraya membuka pintu kamarnya.


"Itu Aini tidur?"Arumi menunjuk Aini yang sedang tertidur pulas diatas ranjang.


"Tidur? Astaga Aini kok Papa sampai tidak lihat putri cantik Papa sedang tidur"


Ternyata Aini tidur tengkurap dan Zidan tidak memperhatikan itu. Saking capeknya sampai tidak konsentrasi.

__ADS_1


__ADS_2