Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
86.AINI PUTRI NAMIRA


__ADS_3

"Arumi semakin lama semakin berubah, sepertinya dia malah menjadi benci dengan Weni? Padahal kan dia sendiri yang meminta semua menjadi seperti ini. Aku bahkan sudah dua kali menuruti maunya, kisah ku sama seperti dulu aku menikah dengan wanita yang tidak aku cinta. Tapi apa aku akan terus seperti ini? Aku tidak bisa terus menuruti kemauan Arumi lagi mulai sekarang aku harus punya prinsip sendiri!"Gumam Zidan sambil membaringkan tubuhnya di atas sofa.


"Tapi walaupun Weni tidak pernah aku hargai dia tetap tenang dan tidak membuat masalah, Weni kan sedang hamil kehamilannya sudah memasuki masa akhir persalinan pasti dia sedang ketar-ketir menunggu persalinan nanti? Sedangkan aku tidak sedikitpun mau tau tentang kehamilannya!"Bak seperti orang yang sedang mabuk Zidan seolah sadar dari mabuknya.


9 bulan bukanlah waktu yang sebentar. Weni menjalani setiap harinya dengan rasa sabar dan selalu kuat dengan masalah apapun. Perut yang sudah membesar menyulitkan nya dalam menjalani rutinitas sehari-hari, namun hal itu tidak akan membuatnya terpuruk dan malas.


"Hmmm, rasanya enak pagi-pagi seperti ini minum jus jambu"Weni beranjak dari duduknya dan menuju dapur kebetulan kemarin dia membeli satu kilo jambu matang untuk dibuat jus setiap harinya.


Weni menuju dapur dan membuka kulkas namun pandangannya tiba-tiba tertuju kepada Arumi. Weni melihat Arumi sedang sibuk memasak di dapur. Weni mengurungkan niatnya membuat jus dan beralih mendekati Arumi yang masih sibuk sendirian sebenarnya dia ingin sekali minum jus namun itu tak masalah jika minum jusnya ditunda untuk nanti.


Ketika Weni mendekat Arumi memasang wajah datarnya, tidak tersenyum bahkan setelah dia menengok ia kembali ke posisi seperti semula lagi melanjutkan pekerjaan masaknya.


"Kau butuh bantuan? Aku mau membantumu masak jika kau mengizinkan"Weni tersenyum kecil dibuat heran dengan sikap Arumi yang semakin hari semakin tidak biasa.


"Tidak usah, semua ini tidak terlalu sulit untukku kau tunggu didepan saja setelah matang nanti kita makan bersama"Arumi malah menyuruh Weni meninggalkan dirinya sendiri karena tidak butuh bantuan.


Karena Arumi menyuruhnya pergi Weni pun pergi dan menepi didepan Rumah, melihat bunga-bunga bermekaran sambil mengelus perut buncit nya Weni sedikit merasa mulas dengan tiba-tiba. Weni menyederkan bahunya pada kursi yang ada di taman depan Rumah.


Weni merasakan rasa mulas yang teratur, saat itu Arumi menghampiri Weni di taman dan melihat Weni sedang kesakitan sambil memegang perutnya.


"Wen kau kenapa kau mau melahirkan?"Arumi merasa gemetar melihat Weni kesakitan seperti itu.


"Iya Rum sepertinya aku akan melahirkan, kau bisa antar aku kerumah sakit aku sudah tidak tahan lagi. Sakit banget!"Sambil menahan rasa sakit Weni dituntun untuk berjalan oleh Arumi dan membawanya kedalam mobil.


Arumi membawa Weni kerumah sakit dan menemani nya didalam ruang VIP dengan fasilitas yang lengkap. Arumi menghubungi Zidan dan memberi tahu padanya untuk segera datang kerumah sakit.


Sementara itu Weni masih ditangani oleh dokter dan suster yang ada dirumah sakit.


"Semoga semuanya lancar dan selamat"Sambil berdiri dan melihat Weni masih ditangani Arumi terus mendoakan yang terbaik untuk nya agar persalinan nya normal dan lancar.

__ADS_1


Tak berselang lama Zidan datang dan mengetuk pintu ruangan VIP yang ditempati Weni. Zidan masuk dengan wajah tegangnya, dia langsung mendekati Weni yang sedang berbaring sambil merasakan kontraksi yang semakin lama semakin kuat.


"Saya akan periksa setengah jam lagi"Ujar sang Dokter. Karena pembukaan masih lama Dokter meninggalkan mereka dan akan kembali setengah jam lagi.


"Kau baik-baik saja? Aku tau kau wanita kuat kau pasti bisa melewati semua ini dengan mudah"Ujar Zidan kepada Weni. Zidan sesekali melirik Arumi yang tengah berdiri dibelakangnya dengan sedikit perasaan canggung karena baru sekarang dia bisa memberi perhatiannya kepada Weni.


"Ya, aku baik-baik saja"Weni tersenyum sambil meneteskan air matanya, bukan air mata duka namun air mata kebahagiaan yang keluar dari pelupuk mata bulatnya.


Nafas Arumi seakan berhenti melihat sang suami begitu dekat dengan wanita lain, jantungnya berdebar-debar Arumi menapakan kakinya keluar dari ruangan tersebut dengan air mata yang seakan menetes melewati pipinya.


Zidan mendengar suara pintu tertutup, dia menengok kebelakang ternyata Arumi yang keluar saat itu. Antara bingung dan kasihan Zidan sepertinya lebih berat meninggalkan Weni yang tengah berjuang melahirkan anaknya.


"Arumi sepertinya cemburu! Dia seharusnya tidak bersikap seperti itu disaat situasi genting seperti ini"Gumam Zidan.


Arumi duduk diluar ruangan sambil *******-***** jari jemarinya sangat jelas kekecewaan yang terlihat dalam dirinya. Semua yang telah dia perjuangan untuk Zidan ternyata malah melukai hatinya sendiri.


Arumi menyaksikan perjuangan yang dilakukan Weni untuk melahirkan anak begitu sangat kuat. Namun hal buruk tiba-tiba terjadi dimana bayi yang dikandungnya tidak mau kontraksi lagi. Lalu Dokter menyarankan Weni untuk operasi Cesar untuk menyelamatkan bayi nya.


Demi Weni bayi dan bayinya selamat Dokter membawa weni keruang operasi, Zidan terus menemani proses persalinan Weni sedangkan Arumi hanya menunggu diluar.


1 jam kemudian operasi selesai, Weni dan bayinya dibawa kembali ke ruang perawatan.


Zidan sangat terharu melihat bayi mungil, ia tidak percaya bayi perempuan itu adalah darah dagingnya sendiri yang baru saja lahir untuk melengkapi kehidupannya.


Arumi masih berdiri masih terpaku, membisu dan menahan air matanya, apa yang dia lihat ternyata bukanlah mimpi namun kenyataan yang manis melihat bayi kecil begitu cantik.


"Arumi, Zidan kau tidak mau gendong dia? Sekarang dia adalah anak kalian, anak yang cantik"Weni tidak melupakan janji yang sudah disepakati sejak awal, ia akan memberikan putrinya kepada Arumi dan Zidan.


"Wen, terimakasih ya? Aku tidak tau lagi ingin bicara apa, aku tidak pernah menemui wanita sebaik kamu"Arumi tersenyum namun air matanya tetap menetes tidak menutupi rasa bahagianya.

__ADS_1


"Sama-sama, aku juga terimakasih banyak Rum kau sudah membantuku keluar dari kesulitan"Weni memegang tangan Arumi dan saling membalas senyuman.


Zidan terus membelai pipi mungil sang putri, tangisannya menjadi kekuatan untuk dirinya, kini dia bukan lagi seorang laki-laki melainkan sudah menjadi seorang ayah.


Setelah 3 hari berada dirumah sakit kini mereka sudah diperbolehkan pulang kerumah.


Bayi mungil itu diletakkan di ranjang bayi yang sudah dibeli Weni sebelum bayi itu lahir. Hari ini adalah hari terakhir Weni tinggal besama Zidan dan Arumi dirumah mewahnya, namun sebelum pergi Weni menitipkan nama cantik untuk bayi mungilnya itu.


"Sebelum pergi aku ingin menghadiahi dia nama, aku ingin dia diberi nama Aini Putri Namira"Ujar Weni kepada Arumi.


"Nama yang cantik, aku akan memberikan nama itu untuknya"Ujar Zidan dengan pandangan lembutnya.


"Aini Putri Namira, nama yang sangat cantik"Sambung Arumi.


Sebelum pergi Zidan memberi Weni kunci mobil hal itu membuat Weni kebingungan apa maksud Zidan memberinya kunci mobil miliknya itu.


"Apa ini, kunci mobil?"Tanya Weni heran.


"Kau bawa mobil itu, sekarang mobil itu milikmu"Ujar Zidan.


"Tapi kau sudah memberiku uang dan aku bisa membeli segalanya!"Weni enggan menerima mobil yang diberikan Zidan secara cuma-cuma itu.


"Ambil saja, anggap saja ini adalah rasa terimakasih kami untukmu"Arumi memegang pundak Weni sambil tersenyum padanya.


"Aku akan pergi jaga anak itu baik-baik"


"Kami akan menjaga dia sebaik-baiknya dengan kasih sayang yang akan kami berikan seutuhnya untuk Aini"


"Terimakasih Arumi, terimakasih Zidan"Weni menapakan kakinya meninggalkan Putri mungilnya bersama sang ayah dan ibu tirinya.

__ADS_1


__ADS_2