
"Tidak apa-apa itu hanya petir!"Ucap Zidan seraya melepaskan pelukan Laras, ia merasa risih dengan sikap Laras yang berlebihan.
"Aku kaget, maafkan aku!"Ucap Laras seraya kembali ke posisinya seperti semula.
Hujan semakin lebat Zidan tidak mungkin melanjutkan perjalanannya karena jarak pandang yang kurang baik, sebab petir dan angin ikut menemani derasnya air hujan malam ini.
"Di depan ada Rumah kosong kita parkir disitu"Laras mengarahkan Zidan untuk parkir dirumah kosong agar mobilnya tidak berhenti dipinggir jalan.
"Sepertinya rumah ini masih bagus, sayang tidak ditinggali lagi"Gumam Zidan seraya duduk di kursi kayu yang berada didepan Rumah kosong tersebut.
"Kak, sepertinya hujanya akan awet"Ucap Laras seraya mendekap tubuhnya dengan kedua tangannya yang amat terasa kedinginan.
"Kau kenapa? Ras sepertinya kau menggigil?"Tanya Zidan seraya khawatir dengan keadaan Laras.
Zidan kasian melihat Laras kedinginan, ia berusaha mencari cara supaya Laras merasa hangat. Zidan melihat Rumah kosong tersebut tidak terkunci, ia mencoba masuk dan mencari penghuni rumah karena memang tidak terkunci mungkin di dalam sedang ada seseorang.
"Kak, mau kemana?"Tanya Laras seraya mengikuti Zidan yang tiba-tiba masuk ke dalam Rumah kosong tersebut.
"Kau perlu minum air hangat supaya tidak kedinginan, siapa tau disini ada orang. Permisi apa ada orang?"Ucap Zidan ia terus mencari penghuni rumah tersebut.
"Kak, ini Rumah kosong! Mana mungkin ada orang!"Pekik Laras.
"Ras lihat, Rumah ini kosong tapi barang-barangnya masih utuh? Disitu juga ada dapur, aku akan coba kesitu untuk mencari air hangat"Ucap Zidan sambil terus menapakan kakinya sampai ke dapur.
Sesampainya di dapur Laras memberi penerangan untuk Zidan, karena yang namanya Rumah kosong pasti gelap gulita.
"Kak, keluar yuk aku takut"Ucapnya seraya memandangi setiap sudut ruangan yang terasa hampa dan sepi.
"Whah kompornya masih nyala Ras, kalo gini aku bisa buatkan air hangat untukmu kebetulan galon air juga masih ada"Zidan benar-benar membuat Laras kesal, bagaimana tidak ia memasuki Rumah yang tidak jelas penghuninya.
Tak sampai air itu mendidih tiba-tiba ada suara pintu terbuka yang membuat Laras merajuk seketika. Ia merasa takut dan merinding mungkin Rumah kosong itu berhantu menurut Laras.
"Kak! Ada hantu!"Pekik Laras seraya menarik baju Zidan sambil gemetar.
"Kau serius! Dimana?"Tanya Zidan kepada Laras dengan tubuh dingin dan gemetar. Tenyata Zidan penakut begitu juga Laras, ia benar-benar wanita penakut.
"Krekkk...Krekkk!!!"Terdengar lagi suara pintu seperti sedang buat mainan membuat Zidan dan Laras saling merajuk ketakutan.
__ADS_1
"Ahhhhh...Lariii!!!"Zidan tiba-tiba lari meninggalkan Laras yang sedang ketakutan.
"Ah! Sialan aku ditinggalin!!"Laras lari sebisanya karena merasa takut, ia tidak perduli jika akan menabrak apapun yang ada di dalam Rumah kosong tersebut.
Mereka pergi meninggalkan Rumah kosong tersebut, namun ia lupa mematikan kompornya.
Tak berselang lama seorang pria keluar dari kamar Rumah kosong tersebut, ternyata pria itu penghuni rumah tersebut Rumah itu tidak kosong, Zidan dan Laras yang sudah salah mengerti jika Rumah itu kosong.
Mungkin tidak terpikirkan oleh mereka jika malam ini hujan lebat disertai petir membuat aliran listrik padam. Mereka mengira Rumah itu kosong karena tidak ada lampu yang menyala.
"Anak muda jaman sekarang, mau pacaran aja pake krebus air segala!"Ucap pria tersebut seraya mematikan api kompor yang ditinggal Zidan dan Laras.
Setelah pergi dari Rumah kosong Zidan melanjutkan perjalanan untuk pulang kerumah mengantar Laras lebih dahulu.
"Sudah sampai Ras kau mau turun disini atau aku antar sampai ke dalam agar tidak ditangkap hantu!"Canda Zidan kepada Laras seraya tertawa.
"Tidak perlu, biar hantunya ikut kakak pulang!"Pekik Laras sambil membuka pintu mobil lalu berlari menuju Rumah.
"Benar juga kata Laras, bagaimana jika hantunya ikut aku?"Zidan mulai merinding jika teringat dengan hal yang berbau hantu ia melaju mobilnya diiringi doa sampai ke Rumahnya.
🌻🌻🌻
"Laras belum bangun?"Tanya Wisnu kepada Delia.
"Belum mungkin Laras lelah jadi nyenyak tidurnya"Ucap Delia seraya menyiapkan sarapan pagi.
"Ya tapi kan hari ini aku mau ajak Laras ke kantor, aku mau ajari dia supaya dia bisa memegang perusahaan nantinya"Wisnu berharap Laras bisa memegang perusahaan jika nanti perusahaan itu di alihkan kepadanya.
"Iya nanti aku bangunkan"Ucap Delia.
Mentari bersinar menghangatkan dedaunan yang baru tersiram hujan malam itu, mata yang sedang terlelap seketika terbangun karena cahaya mentari begitu menyilaukan matanya. Mentari itu mencuri-curi kesempatan melewati setiap sudut jendela untuk menembusnya, kau benar-benar mentari nakal begitu fikir Laras.
"Sudah jam 9? Aku kan akan pergi ke kantor bersama Ayah"Ucap Laras seraya bangun dan pergi ke kamar mandi.
"Ras?" Delia memanggil Laras, ia mengira Laras belum bangun pagi ini.
"Iya Bu, aku sedang mandi"Ucap Laras kepada Delia.
__ADS_1
Beningnya air begitu sejuk pagi ini, Laras menikmati kesegaran setiap siraman yang mengguyur tubuhnya.
"Ibarat cintaku aku akan menyirami cintaku ini agar lebih besar padamu(Zidan)"Ucap Laras seraya terus menyirami tubuhnya dengan segarnya air yang mengalir.
"Ras Ayahmu sudah menunggu kau sudah kan mandinya?"Suara teriakan sudah terdengar memanggil.
"Iya sudah Bu"Ucap Laras seraya memakai handuknya.
Tidak terasa baru saja ia terbawa dalam bayang keindahan bersama Zidan, sampai ia tidak sadar kulit tangannya mengeriput saking lamanya bermain air sewaktu mandi tadi.
"Ayah, maafkan aku kesiangan"Ucap Laras seraya duduk di kursi makan.
"Tidak apa-apa Ayah tau kau capek"Ucap Wisnu kepada Laras.
"Makan dulu, Ibu sudah siapkan makanan super enak pagi ini"Ucap Delia, setelah pernikahannya kali ini Delia menjadi lebih baik lagi, entah apakah ia akan berubah menjadi jahat lagi atau benar-benar sudah berubah.
"Ayah, Ibu...?"Selesai sarapan Laras berniat memberi tahu tentang cintanya kepada mereka namun ia merasa sangat takut dan tubuhnya mulai gemetar.
"Iya kenapa?"Tanya Delia seraya menatap mata Laras.
"A..aku..?"Laras bingung harus memulainya dari mana, semua ini tidak mungkin ia katakan.
"Kenapa Ras?"Wisnu heran apa yang akan Laras katakan Putrinya itu tiba-tiba gugup dan gemetar.
"Aku semalam lihat hantu Bu, Yah"Ucap Laras seraya memasang muka kaget, rupanya ia belum siap memberi tau kepada mereka.
"Hem, sudah kuduga"Ucap Wisnu sedikit tersenyum, ia tau betul jika Putri kesayangannya adalah penakut.
Dengan jantung dag dig dug Laras mencoba bernafas seperti biasa ia tau semua ini memang berat untuk dijalani.
Laras menggaruk kepalanya seraya memalingkan wajahnya dari hadapan mereka, Laras terus berfikir apa yang harus ia lakukan agar bisa membuatnya berhasil memiliki Zidan, apapun itu Laras akan melakukannya.
"Apa aku harus berpura-pura agar mereka mau menuruti kemauan ku?"Batin Laras seraya mengigit kuat bibir bawahnya.
Namun tidak semudah itu, ternyata??? Lanjut episode selanjutnya ya😊
Bersambung...
__ADS_1
.