
Menyusuri jalanan ditengah derasnya air hujan membuat tubuh mungilnya terasa kedinginan. Kini Tiwi hanya bisa menangisi apa yang sudah terjadi padanya. Uang dan semua aset yang dipunyainya kini sudah ludes ditangan sang kekasih yang kejam tak bertanggung jawab.
Bahkan mahkota kesuciannya telah ia berikan kepada Danu. Beberapa kali Danu meminta dirinya untuk melayani dengan alasan akan dinikahi. Namun semua itu malah menjadi petaka untuknya. Tidak hanya mengusirnya Danu bahkan menginjak-injak dirinya didepan Maria.
Kini langkah kakinya terhenti ditengah derasnya air hujan. Badan yang sebelumnya kokoh kini menjadi lemas tak berdaya, bahkan sudah tidak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya sendiri.
Tiwi tergeletak di tengah jalanan yang sepi dan tidak ada seorangpun yang melihat tubuh malangnya terkulai ditengah jalan. Namun nasib baik datang padanya, sebuah mobil berwarna abu-abu melintas dan melihat tubuh malang Tiwi yang sudah tidak berdaya tergeletak ditengah jalan.
Pengemudi tersebut memberhentikan mobilnya dan turun untuk menolong. Ternyata pengemudi mobil itu adalah Zidan, malam itu Zidan baru pulang dari kantor karena lembur.
"Astaga Tiwi!!!"Zidan syok karena tubuh Tiwi sudah pucat dan tidak sadarkan diri. Zidan meminta tolong namun tidak ada satu orangpun yang datang menolongnya.
Melihat tidak ada orang sama sekali. Zidan berusaha membopong tubuh Tiwi sendiri dengan susah payah, ia langsung membawa Tiwi kerumah sakit dengan cepat karena khawatir nyawanya akan terancam.
Sesampainya dirumah sakit Tiwi langsung mendapat pertolongan pertama dari Dokter yang menanganinya. Sementara itu Zidan langsung memberi kabar kepada Arumi tentang apa yang baru saja terjadi dengan Tiwi.
Arumi hendak datang kerumah sakit namun ditahan oleh Zidan. Zidan menjamin Tiwi akan baik-baik saja bersamanya. Zidan mengingatkan Arumi dengan kesehatan Laras yang masih belum pulih sepenuhnya dan menyuruhnya menjaga Laras.
Dokter yang menangani Tiwi keluar dan memanggil keluarganya. Zidan sebagai penolong pertama masuk dan menemui Dokter yang menangani Tiwi.
Dokter menjelaskan sakit yang dialami Tiwi tidak begitu parah. Tiwi hanya kelelahan dan kedinginan ketika kehujanan yang mengakibatkan Tiwi pingsan tidak sadarkan diri.
Zidan merasa lega pasalnya Tiwi masih baik-baik saja. Namun ketika ditemui Tiwi terus menangis dan meraung-raung.
Zidan mencoba bertanya padanya apa yang membuatnya seperti itu. Tiwi hanya menangis dan terus menangis sampai Dokter memberikan suntikan untuk menenangkanTiwi.
Dokter menjelaskan kemungkinan Tiwi mengalami trauma psikis yang membuatnya selalu menangis dan merasa ketakutan jika teringat sesuatu.
__ADS_1
Setelah diperiksa kembali Dokter terkejut, ternyata Tiwi dalam kondisi hamil muda yang baru berusia 3 Minggu. Zidan syok bukan main, bagaimana bisa Tiwi tergeletak di tengah jalan seorang diri dalam kondisi hamil lalu kemana ayah dari janinnya? Masih menjadi pertanyaan untuk Zidan.
*****
Setelah satu Minggu dirumah sakit kini keadaan Tiwi semakin membaik. Tiwi juga sudah mendapatkan pemulihan untuk traumanya sehingga kini ia lebih bisa mengontrol emosinya dan tidak meraung-raung lagi seperti sebelumnya. Tiwi diizinkan pulang hari ini, Dokter juga memberi nasehat kepadanya sebelum dia pulang.
Zidan masih mencari waktu yang tepat untuk bertanya kepada Tiwi tentang kejadian yang baru saja dialaminya. Karena saat ini Tiwi sedang terpukul dengan kehamilannya. Tidak seperti wanita lain ketika hamil menjadi momen yang membahagiakan, namun Tiwi justru sangat menyesal dengan kehamilannya.
"Sudah satu Minggu aku menunggumu disini, sekarang aku antar kamu pulang. Aku buru-buru karena banyak pekerjaan yang sudah menantiku dikantor"Ujar Zidan seraya menampakkan kelelahannya.
"Bukankah aku juga sama sepertimu, aku pernah menemanimu selama satu Minggu dirumah Kek Toyo!"Ujar Tiwi dengan tatapan mata yang tajam.
"Maafkan aku"Ujar Zidan mengendurkan suaranya.
Zidan mengantar Tiwi sampai kerumah, namun ketika mereka turun dari mobil beberapa tetangga menyindir Tiwi dengan sebutan pel4cur murahan, hal itu sontak membuat Tiwi sangat geram dan marah pada mereka.
Zidan menjelaskan kepada Tiwi agar tidak membalas omongan mereka, karena sudah biasa seseorang berbicara tanpa tahu hal yang sebenarnya.
Setelah mengantar Tiwi Zidan langsung pulang kerumah, Arumi yang sejak awal mengkhawatirkan keadaannya merasa sangat bahagia bisa berkumpul kembali.
"Bagaimana keadaan Laras?"Tanya Zidan seraya berjalan masuk bersamaan dengan Arumi.
"Mas, Laras masih belum bisa berjalan jauh paling hanya disekitar rumah saja"Ujar Arumi pelan.
"Semoga Laras dan janinnya akan baik-baik saja, aku tidak ingin mereka kenapa-napa!!"Ucapnya. Zidan sangat mengkhawatirkan keadaan calon anak yang ada dalam kandungan Laras.
"Kau tenangkan dirimu Mas, Laras akan baik-baik saja"Ujar Arumi sambil mengelus dada Zidan.
__ADS_1
Zidan mendudukan dirinya manaruh tasnya dan melepaskan sepatunya yang masih menempel, sementara itu Arumi merapikan tas dan sepatu ditempatnya masing-masing.
Setelah merasa tenang Zidan beranjak lagi tempat duduknya dan berjalan menuju kamar Laras. Zidan tidak tega melihat kondisi Laras yang semakin hari semakin parah.
Batinnya sangat tersiksa melihat wajah pucat sang istri yang sedang mengandung anak pertama hanya bisa berbaring lemas diatas ranjang. Sebagai seorang suami Zidan merasakan penderitaan yang dialami Laras.
"Mas, Ibu sama Ayah mu kesini mereka masih dalam perjalanan mau kesini"Ujar Arumi. Delia dan Wisnu sedang dalam perjalanan menuju Rumah mereka.
"Apa yang akan. aku katakan pada mereka Rum? Mereka pasti marah padaku karena aku tidak bisa menjaga Laras sampai Laras sakit seperti ini!!"Ujar Zidan seraya memijat jidatnya.
"Mas, semua ini sudah takdir. Semua ini bukan salahmu!"Jelas Arumi. Zidan pun terdiam.
"Kalian kenapa, kok berantem?"Tanya Laras heran.
"Tidak apa-apa, Ayah sama Ibu mau kesini buat jenguk kamu"Ujar Zidan tersenyum.
Tak berselang lama mobil Wisnu terlihat parkir didepan Rumah. Arumi beranjak dari tempat duduknya dan turun untuk membukakan pintu.
Belum juga sampai didalam rumah Wisnu terlihat sudah lebih dulu menangis. Wisnu selalu menangis jika ingat dengan Laras. Selama ini dirinya berada diluar negeri sehingga jarang sekali pulang ke Indonesia. Sekali pulang ia harus menyaksikan Laras terbaring sakit dan tidak berdaya.
"Putriku, Ayah sangat sakit melihatmu sakit seperti ini Nak!"Ujar Wisnu seraya duduk dipinggir ranjang.
"Ayah aku tidak apa-apa"Ucap Laras lemas.
Wisnu menundukkan kepalanya seraya terus menangisi nasib putrinya, sedangkan Delia berusaha menenangkan Wisnu walaupun sama-sama menangis Delia berusaha menguatkan Ayah dari Laras itu.
Melihat sang Ayah menangis Laras berusaha bangkit dari tidurnya, ia memeluk erat sang Ayah yang selama ini sudah membesarkannya penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Ayah jangan menangis lagi, aku tidak mau melihatmu menangis!"Ucap Laras seraya memeluk Wisnu.
"Iya Nak, cepat sembuh ya Nak biar kita bisa berkumpul lagi seperti dulu"Selama ini Wisnu berada di luar negeri karena tuntutan pekerjaan dan jarang sekali pulang ke Indonesia. Tentu kebersamaan sangat dirindukan oleh Wisnu.