
Arumi berjalan menuju ruang pemeriksaan, entah apa yang ada dalam pikirannya ia bahkan tidak perduli dengan janin yang ada dalam kandungan.
Malam itu terlihat sepi hanya ada beberapa perawat yang berlalu-lalang malam itu. Karena waktu sudah malam Arumi mencoba bertanya dengan salah satu perawat yang kebetulan berpapasan dengannya.
Arumi bertanya dimana ruang laboratorium lalu perawat wanita mengantarnya masuk dan menemui dokter laboratorium yang ada didalam ruangan.
Setelah menemui dokter ia sedikit bercerita lalu Arumi meminta kepada dokter tersebut untuk tes golongan darahnya apakah golongan darahnya sama dengan golongan darah Aini.
Dokter langsung melakukan tes golongan darah yang diminta oleh Arumi.
Setelah menunggu akhirnya tes tersebut keluar, dan hasilnya sama dengan golongan darah Aini golongan darah B. Arumi sangat senang dan bahagia akhirnya ada kesempatan untuknya mendonorkan ginjalnya untuk Aini.
"Dok saya senang sekali golongan darah saya sama dengan anak saya. Karena itu saya bisa mendonorkan ginjal saya untuknya"Ungkap Arumi.
Namun dokter justru terkejut dan kaget kenapa Arumi bisa mempunyai keinginan seperti itu.
"Ibu ingin mendonorkan ginjalnya? Dengan keadaan hamil seperti ini sangatlah berbahaya Bu!"Jelas dokter wanita tersebut.
"Tapi saya yakin Dok, saya akan baik-baik saja"Ujar Arumi.
"Bu resikonya sangat besar, baik untuk ibu dan dokter yang akan menangani ibu nanti"
"Saya hanya ingin menyelamatkan anak saya Dok, dia sakit parah dan harus menerima donor ginjal secepatnya"Jelasnya.
"Bu semua kehendak Illahi, kita manusia tidak bisa menebak sesuatu yang belum pasti. Tuhan pasti tau yang terbaik tidak mungkin memberikan sakit diluar kemampuan anak ibu"Ujar sang dokter.
"Iya Dok, saya juga percaya jika apa yang akan saya lakukan atas izin yang maha kuasa pasti semuanya tidak akan terjadi apa-apa"
"Dok kapan saya bisa mendonorkan ginjal saya?"
"Kita tunggu dokter spesialis bedah dulu ya Bu, karena ini bukan bagian saya"
"Baik Dok, saya permisi dulu sebelumnya terimakasih atas perhatiannya"
__ADS_1
"Sama-sama Bu"
Merekapun menyudahi perbincangan malam itu.
Tantu saja Arumi kembali dengan wajah riang, Arumi masuk kedalam ruangan menemui Zidan dan Weni. Arumi mendudukkan dirinya dengan penuh semangat dan senyum bahagia, bahkan Weni dan Zidan merasa heran dengan sikap Arumi.
"Kau terlihat senang sekali, ada apa? Kau jadi makan nasi goreng kan?"Tanya Zidan.
"Mungkin Arumi senang karena hasratnya sudah tersalurkan mas, kan ngidamnya sudah terpenuhi"Sambung Weni.
"Aku gak makan nasi goreng mas, Wen. Sebenarnya aku tadi masuk ke ruang laboratorium aku habis cek darah dan syukurnya golongan darah ku sama dengan Aini"Arumi memberi tau mereka sambil menahan air matanya.
Namun Zidan malah memarahi Arumi atas sikapnya yang seolah tidak perduli dengan kandungannya itu.
"Apa yang kau lakukan Arumi! Kau tidak memikirkan bayi ini, kau tidak bersyukur bisa hamil setelah sekian lama kita menanti anak dari pernikahan kita! Sekarang kau malah akan membahayakan bayi ini!"Bentak Zidan.
Tak mau kalah Arumi pun membalasnya."Aku yakin mas aku tidak apa-apa! Aku melakukan ini untuk nyawa Aini, lihat Aini? Dia sudah lemah dan harus segera dioperasi, apa yang bisa kamu lakukan saat ini mas, apa!!"
Melihat pertengkaran mereka semakin keras Weni berusaha melerai dan menenangkan mereka berdua.
Zidan menghela nafas dan mengiyakan permintaan Arumi. Tidak ada yang bisa mereka lakukan saat ini kecuali mendonorkan ginjal Arumi untuk Aini.
"Ya aku akan mengerti, kau yakin akan baik-baik saja?"Tanya Zidan kepada Arumi.
"Aku sangat yakin. Tuhan pasti akan menjaga anak ini, anak kita akan baik-baik saja"Jelasnya dengan tegas.
Sekali lagi dokter datang dan menanyakan pendonor ginjal, sampai malam itu belum juga ada pendonor yang mau mendonorkan ginjalnya. Dan terpaksa Arumi yang harus melakukan donor ginjal untuk Aini.
Dokter menyanggupi semuanya, namun keburukan pasti ada apa lagi Arumi sedang hamil. Namun Arumi terus menyangkal akan baik-baik saja dan tetap kekeh ingin melakukan donor ginjal nya.
"Baiklah jika Bu Arumi bersedia, namun saya tidak bisa menjelaskan apa saja kemungkinan besar yang akan terjadi setelah operasi. Apa lagi keadaan Bu Arumi sedang hamil besar"Ujar dokter.
"Lakukan saja Dok untuk Aini, apapun resikonya semua sudah saya serahkan kepada Tuhan"Jelas Arumi.
__ADS_1
Dan semua orang terdiam melihat pengorbanan Arumi yang begitu sangat besar untuk Aini.
Tepat pukul 1 malam Aini dipindah dari ruang rawat menuju ruang operasi. Arumi lebih dulu berada di sana dan tengah bersiap untuk melakukan donor ginjal.
Zidan tak henti-hentinya menangis membayangkan apa yang nantinya akan terjadi kepada sang istri dan bayi yang ada dalam kandungan nya. Namun nyawa sang putri juga sama berharga baginya.
Ketegangan mulai nampak ketika enam dokter spesialis masuk kedalam ruang operasi.
Zidan terus berdoa agar semuanya baik-baik saja, sementara itu Weni sedang beribadah ditempat ibadah untuk mendoakan kelancaran operasi malam ini.
Di dalam ruang operasi terdapat enam dokter dan empat perawat. Arumi melihat jelas detik-detik dirinya dipasang selang dan alat-alat medis pada tubuhnya.
Namun sejauh mata memandang Arumi tidak melihat keberadaan Aini karena Aini berada di kamar terpisah yang ada didalam ruang operasi tersebut.
Monitor sudah berbunyi, tak lama kemudian dokter umum meminta izin masuk untuk menemui dokter spesialis bedah. Karena belum dilakukan operasi maka mereka mengizinkan dokter tersebut untuk masuk.
Benar-benar jalan Tuhan, dokter umum tersebut memberi tau jika ada pendonor ginjal yang mau mendonorkan ginjalnya malam ini untuk Aini, malah mereka sudah ada di rumah sakit.
Saat itu pula dokter spesialis langsung mencopot semua peralatan medis yang sudah terpasang di tubuh Arumi dengan rasa haru.
Arumi yang saat itu sudah merasa sangat kedinginan karena ruangan sudah disterilisasi tidak tau jika ada pendonor lain yang akan menggantikan posisinya di dalam ruangan yang cukup menakutkan itu.
"Dok kenapa dicopot?"Tanya Arumi sambil menggigil.
"Ibu sekarang ini tidak perlu mendonorkan ginjalnya untuk putri ibu"Ucap dokter seraya tersenyum.
Arumi merasa sangat kesal kenapa bisa seorang dokter bermain-main dengan situasi seperti ini.
"Apa maksudnya Dok! kenapa operasi ini tidak jadi dilakukan? Bukankah kami sudah sepakat!"Arumi sedikit emosi dan kesal dengan dokter spesialis bedah yang sedang melepas alat-alat medis satu-persatu.
"Karena ada pendonor lain yang mau mendonorkan ginjalnya Bu"
Arumi tidak bisa berkata apa-apa dia sangat terharu, bahkan tidak percaya. Semua ini adalah jalan Tuhan, hanya Tuhan yang bisa merubah semuanya.
__ADS_1
Selesai memakai baju Arumi langsung keluar untuk digantikan oleh pendonor yang lain. Arumi bertemu dengannya dia langsung memeluk orang itu seraya menangis berterimakasih. Zidan dan Weni ikut menangis melihat semua kejadian mengharukan ini.
Pendonor yang baik hati itu langsung masuk kedalam ruangan. Semua fisiknya sangat baik dan sehat sehingga dia bisa langsung melakukan operasi malam ini. Dan semua keluarga menunggu proses operasi seraya terus memanjatkan doa untuk keselamatan mereka berdua.