Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
88.MENCARI ASISTEN RUMAH TANGGA


__ADS_3

Pada dasarnya sifat manusia tidak selamanya akan sama, pasti akan bisa berubah. Dari yang baik bisa menjadi jahat dan sebaliknya. Adapun laki-laki sebaik apapun laki-laki itu dia juga bisa berubah, entah karena suatu hal atau memang ujian hidup.


******


Sudah 5 bulan Aini bersama mereka menemani hari-hari Arumi dan Zidan. Hari ini mereka akan pergi belanja mengajak Aini membeli segala keperluannya. Badannya yang semakin gemuk membuat baju Aini kekecilan.


"Mas ayo kita berangkat, aku sama Aini sudah siap"Arumi dengan sederhananya pagi itu bersiap-siap tanpa memakai makeup sedikitpun. Dan berdiri sambil menggandeng lengan Zidan.


"Kenapa kau tidak pakai baju yang lebih bagus dari ini, kau juga tidak dandan!"Ujar Zidan sambil mengerutkan alisnya. Ia pun tidak terlalu lama memandang Arumi.


"Bagaimana aku mau dandan Mas, aku baru saja selesai beres-beres Rumah terus Aini bangun aku ngurusin Aini"Arumi merapihkan rambutnya lalu tersenyum lama kepada suaminya itu. Menurutnya dia bisa membuat pandangan suaminya sedikit lebih baik.


"Ya sudah, kita pergi sekarang Aini jangan lupa pakaikan jaket agar tidak masuk angin"Dengan wajah datar Zidan menggandengnya keluar dari kamar lalu menutupnya kembali.


"Entah kenapa Mas Zidan menjadi berubah semenjak hadirnya Aini dalam hidupnya. Dia sering mengutamakan Aini daripada aku Ya Tuhan, aku tau semua ini ujian darimu kau yang maha membelokkan hati aku mohon kembalikan hati Mas Zidan yang seperti dulu lagi, seorang suami yang selalu bersikap lembut pada istrinya"Batin Arumi. Sambil menggandeng lengan Zidan sesekali ia menyenderkan kepalanya manja.


Arumi sadar selama ini dia sudah banyak menekan Zidan mungkin karena hal itu Zidan menjadi tidak perduli lagi pada dirinya. Dan ketika malaikat kecilnya hadir Zidan semakin merasa paling sempurna dengan keturunan yang sudah dia miliki.


"Tidak akan aku biarkan sikapku membuatmu berubah Mas. Maafkan aku yang sering mengaturmu dengan segala keinginanku, jika aku tidak mandul pasti semua tidak akan seperti ini! Aku tidak akan melakukan semua ini!"Batinnya sambil terus berjalan dan masuk kedalam mobil bersama mereka.


"Oh ya Rum, kita kan lewatin Rumah Weni apa tidak sebaiknya kita mampir pulangnya atau kita ajak dia ikut sama kita? Siapa tau dia kangen sama Aini"Ujar Zidan sambil mengemudikan mobilnya memecah jalanan kota. Matanya sesekali melihat gemasnya Aini yang masih tertidur sambil menghisap jempolnya. Bayi kecil itu benar-benar menggemaskan.


"Ehm! Aku rasa tidak perlu Mas, kalau Weni kangen sama Aini nanti juga dia datang kerumah!"Pekik Arumi. Arumi merasa sedikit berat jika Aini harus dekat dengan ibu kandungnya. Ya, mungkin karena Arumi merasa takut Aini akan jauh darinya.


"Betapa egoisnya aku! Tapi aku rasa semua wanita akan merasakan rasa yang sama sepertiku"Sambil menarik nafas panjang Arumi terus menciumi kepala Aini yang sedang ia pangku.


"Hmm... Baiklah jika menurutmu itu lebih baik dan sikapmu itu lebih bijak!"Zidan mengerutkan bibirnya sedikit ia gigit dengan rasa kesalnya.

__ADS_1


Sampainya dimall...


Begitu gemasnya Aini sampai pipi bulatnya menjadi incaran ibu-ibu yang ada didalam mall.


"Mereka semua gemas sekali ya Mas sama Aini"


"Iya Putri cantik Ayah emang menggemaskan"


Mereka menuju lift dan naik kelantai tiga mencari toko pakaian terbaik yang ada didalam mall tersebut. Aini terus tertidur dalam hangatnya dekapannya Arumi yang begitu sangat menyayangi Aini seperti anaknya sendiri.


Zidan mempersilahkan Arumi mencari kebutuhan Aini sedangkan dirinya tidak ikut masuk Zidan menunggu di bangku yang ada didepan toko.


"Aku tunggu disini ya, kau cari sebanyak yang Aini butuhkan"Ujar Zidan lalu mendudukan dirinya di kursi yang tersedia. Sambil menyenderkan punggungnya.


"Iya Mas"


Sementara itu Zidan masih duduk menunggu mereka membeli baju, saat itu ia duduk berdua dengan seorang ibu yang sedang menunggu anaknya mencari baju ditoko yang sama.


"Nunggu istrinya ya Nak?"Tanya Ibu paruh baya kepada Zidan sambil merekah kan senyumnya.


"Iya Bu, istriku tidak mau pergi sendiri katanya ribet bawa bayi padahal baru anak satu bagaimana jika sudah anak dua"Gumam Zidan sambil tertawa kecil sedikit menganggap sepele.


"Dulu waktu ibu masih muda dan baru punya anak satu suami ibu malah tidak memperbolehkan ibu pergi sendiri apalagi bawa anak. Mengurus anak yang masih bayi itu memang ribet Nak, apalagi sambil ngurus pekerjaan rumah boro-boro bisa dandan, terkadang mandi pun ibu jarang. Untung aja dulu suami ibu carikan baby sister dan asisten rumah tangga"Ujar wanita yang diketahui bernama Bu Ning.


"Oh...Ehm, iya Bu"Wajahnya seketika menjadi datar dan terdiam iapun mencoba menyaring perkataan Bu Ning yang menurutnya ada benarnya juga.


Arumi selesai belanja dan menyeret kakinya menghampiri Zidan yang tengah duduk bersama Bu Ning.

__ADS_1


"Mas aku sudah selesai belanja, Mas kau mau bawakan barang-barang ini aku sangat berat sambil gendong Aini!"Ujar Arumi sambil menaruh barang belanjaan dibawah kakinya.


"Sayang kau bicara apa, seperti aku tidak perduli denganmu saja. Tentu saja aku akan membawanya"Ujar Zidan dengan senyum selebar-lebarnya. Dengan sigap Zidan langsung mengambil belanjaan tersebut dan berdiri sambil tersenyum kepada Bu Ning agar tidak disangka buruk olehnya.


"Sampai ketemu lagi ya Bu"Ujar Zidan, Bu Ning hanya mengangguk dan tersenyum.


"Siapa dia Mas kamu kenal?"


"Tidak penting, yang penting aku akan mencarikanmu asisten Rumah tangga"Ucapnya sambil terus berjalan. Zidan terus teringat ucapan Bu Ning, ia merasa sudah salah selama ini menuduh Arumi kurang becus mengurus segala pekerjaan rumah.


"Mas kau sakit? Tidak! Maksudku kau baik sekali sudah mau mencari asisten rumah tangga. Makasih ya Mas"Ujar Arumi sambil tersenyum kecil.


"Kau mau yang tua atau yang muda, nanti akan aku carikan sesuai permintaamu"Tanya Zidan saat masuk kedalam lift menuju lantai dasar.


"Yang tua saja, aku takut jika yang muda nanti kamu akan ehm...."Arumi memberi isyarat tanpa bicara. Rupanya kini dia sudah takut jika suaminya akan berpaling lagi.


"Hmmm..."Zidan hanya berdehem dan memalingkan wajahnya.


Sesampainya dirumah Arumi langsung memandikan Aini karena sudah sore hari. Zidan saat itu kembali bertanya kepada Arumi tentang asisten Rumah tangga yang diinginkannya.


"Rum, kau mau asisten seperti apa? Aku akan mencarikannya sekarang juga"


"Mas kau bertanya lagi!"


"Oh ya, yang muda ya. Aku akan mencarikanmu yang muda agar bisa membantumu mengurus pekerjaan rumah"


"Mas! Cari yang sudah tua. Kalau yang tua itu lebih berpengalaman. Percuma kau cari yang muda ujung-ujungnya----!"Arumi tidak meneruskan ucapannya dan memilih diam sambil memakaikan baju kepada Aini.

__ADS_1


"Iya sayang aku tau, kau mau yang tua renta bukan hehehe"Ujar Zidan membuat Arumi tertawa kecil mendengar ucapan konyolnya.


__ADS_2